Showing posts with label Hannibal. Show all posts
Showing posts with label Hannibal. Show all posts

Friday, 27 February 2015

Opini Bareng BBI: Karakter Tokoh Utama

Banner_OpiniBareng2015-300x187

Sebenarnya saya nggak pernah punya pendirian teguh ketika membicarakan mengenai hal-hal yang saya sukai, seperti buku-buku yang saya sukai, film-film, atau tokoh. Saya nggak pernah terpatok dengan karakter tertentu sehingga saya bisa suka dengan tokoh manapun asalkan karakter patokan tersebut ada di tokoh-tokoh tersebut. Suatu saat saya bisa saja suka sama tokoh cewek yang bodoh dan lemotnya minta ampun, lalu ketika saya buku lainnya bisa saja saya jadi mencintai tokoh cewek yang tomboy banget tapi ternyata robot. Haha. Sama seperti buku, pokoknya buku itu genrenya fiksi, pasti saya baca, nggak peduli itu tentang roman atau horror atau kisah detektif atau fantasi, apapun yang jenisnya fiksi pasti akan saya lahap. Ya hal yang sama juga terjadi ketika saya berhadapan dengan tokoh favorit. Ada banyak tokoh yang menjadi favorit saya, mungkin akan saya bahas sedikit juga karakter dan alasan saya menyukai mereka.

1. Lisbeth Salander (Serial The Girl with The Dragon Tattoo, Stieg Larsson)

lisbethLisbeth Salander diperankan oleh Noomi Rampace (source: http://dragontattoofilm.com/)

lisbeth_salander_by_snobvot-d4san5sLisbeth Salander diperankan oleh Rooney Mara (source: http://fc01.deviantart.net/)

Kayaknya nggak banyak, deh, karakter cewek yang digambarkan se-rebel Lisbeth Salander. Dan nggak banyak pula yang suka sama Lisbeth, entah mereka belum membaca serial ini atau memang Lisbeth bukan tipe cewek yang jadi favorit mereka, yang jelas Miss Salander jadi karakter utama yang paling saya sukai. Why? Because she’s cool, Bro! Major cool! Gambaran tentang Lisbeth kurang lebih seperti ini: dia kurus, tingginya 150cm, memiliki beberapa tato terutama tato naga di bahu kirinya, dia hacker paling genius—atau genius nomer berapa, gitu, dan dia jadi super kaya gara-gara kemampuan hacking-nya itu. Dan dia jago nonjok, bukan jago nonjok seperti ia suka cari gara-gara atau apa, sih, tapi dia nggak akan segan nonjok siapapun yang cari gara-gara sama dia. Mungkin sebenarnya ada banyak tokoh yang seperti Lisbeth, tapi entahlah, bagi saya Lisbeth itu karakter favorit saya yang nomer satu. Kalau saya bisa memilih untuk terlahir seperti karakter fiksi, saya pasti akan memilih menjadi Lisbeth Salander. Kau nggak akan perlu badan semok dan wajah cantik kalau kamu super kaya dan yang kamu butuhkan hanyalah membobol dan meretas sistem apapun.

2. Mariam (A Thousand Splendid Suns, Khaled Hosseini)

Nggak ada tokoh lain yang bisa mengajarkan saya untuk bersabar, menjadi berani, dan selalu percaya kekuatan doa selain Mariam. Hidupnya susah, dari lahir hingga akhir hayatnya, tapi ia selalu bertahan. Ia bertahan karena ia percaya bahwa suatu hari nanti kebahagiaannya akan muncul. Mariam melakukan dosa besar yang benar-benar dilarang oleh agama manapun, tapi toh ia tetap saja jujur mengakui perbuatannya. Ketika ia akhirnya dihukum, ia tidak kabur, ia tidak ke mana-mana. Ia hanya berdoa, ia tidak pernah lupa untuk terus berdoa kepada Tuhan. Baca buku ini sedih banget rasanya, apalagi baca kisah Mariam. Hidup sebatang kara sejak masih bocah, lalu dianggap aib oleh ayah sendiri, hingga akhirnya dinikahkan dengan pria tua, dan ujung-ujungnya ia harus mengakhiri hidupnya dengan cara yang mengenaskan. Sungguh, Mariam lah tokoh yang paling bisa memberikan pengaruh bagi saya untuk selalu menjadi orang yang jujur.

3. Hannibal Lecter (Serial Hannibal, Thomas Harris)

hannibal-lecterHannibal Lecter diperankan oleh Anthony Hopkins (source: http://d.ibtimes.co.uk)

Lagi-lagi muncul karakter badass dalam daftar saya. Yang ini sudah nggak bisa dibilang badass lagi, sih, he’s a serial killer! Sebenarnya Hannibal ini orangnya super pintar dan cerdik dan cerdas, ia akhirnya menjadi seorang dokter yang menangani masalah psikologis di Amerika Serikat. Kejadian yang melatar belakangi Dr. Hannibal menjadi seorang dokter gila yang kanibal—ya, kanibal, kisahnya sih seperti itu—adalah ketika ia melihat berandalan-berandalan yang membawa pergi adik perempuan satu-satunya dan tak mengembalikan si adik pada kakaknya. Hannibal menduga si adik dibunuh lalu—ehm, glek!—dimakan oleh para berandalan karena cuaca dingin dan kelaparan. Walaupun seorang pembunuh saya tetap jatuh hati pada dokter gila ini, dari saran-saran ataupun pernyataan-pernyataan atau juga pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan kelihatan sekali bahwa ia memiliki wibawa. Wibawanya terlalu kuat dan terlalu karismatik sehingga saya jatuh hati. Ia juga sangat tenang, tidak takut pada apapun, angkuh, dan berbahaya. I don’t know, Man, he’s so lovely to me.

4. Catherine Warner (Bookends, Jane Green)

Wanita karir yang karirnya udah mantap, punya apartemen yang nyaman ditinggali, dan ia suka sama buku. Dan ia bercita-cita punya toko buku sendiri. Dan bukan hanya toko buku biasa, tapi toko buku yang ada kedai kopinya. Dan kesampaian! Cath memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan berhasil buka toko bukunya sendiri, bersama temannya yang mengelola kedai kopinya, toko buku Cath lumayan sering menjadi jujukan orang-orang yang mencari buku-buku yang menarik ataupun sekadar bersantai di kedai kopinya. Arrrggggghhhhh iri banget sama Cath, rasanya pengen buku toko buku langsung, deh, plus kedai kopinya, bikin ruangan yang nyaman yang membuat pengunjung betah buat lama-lama duduk sambil baca buku ditemani kopi.

Kalau disuruh memilih karakter tertentu yang saya sukai, saya sebenarnya suka sama karakter cewek yang jago nonjok, berhubung di buku-buku yang sudah saya baca cewek yang jago nonjok itu nonjoknya kurang meyakinkan—baru kece setelah saya liat filmnya—jadi selain Lisbeth Salander rasanya nggak ada lagi cewek jagoan yang nonjoknya beneran nonjok. Rasanya Lisbeth Salander sudah punya semuanya selain wajah yang cantik. Tapi ya begitu, sebenarnya saya nggak punya kriteria tertentu dalam memilih karakter favorit dari tokoh utama, kalau menurut saya pas banget sama saya, bukan pas seperti sifatnya mirip banget sama saya atau bagaimana, kalau hati saya bilang suka banget sama tokoh itu ya saya akan mengidolakan tokoh itu.

Monday, 29 September 2014

Hannibal-Thomas Harris

Delapan tahun sejak Dr. Hannibal Lecter dinyatakan hilang, fotonya disebar tidak hanya di Amerika Serikat tapi di seluruh negara di dunia sebagai buronan yang paling berbahaya. Delapan tahun setelah membunuh lima orang penjaga panjara di Memphis, tempat terakhir Dr. Lecter ditahan, ia akhirnya bebas berkeliaran dan menikmati udara luar yang sudah lama tidak ia rasakan.

Clarice Starling, agen khusus FBI, kembali ditugaskan untuk melacak dan menangkap si pembunuh berantai. Setelah terjungkal akibat penyergapan gagal terhadap pengedar narkoba, dan membunuh pemimpin para pengedar tersebut, untuk membersihkan nama baiknya Starling pun menerima misi yang dapat dianggap sulit dan berbahaya tersebut. Starling tidak sendirian, ia bekerja sama dengan seorang pengusaha ternak yang mengalami cacat fisik super parah akibat perbuatan Dr. Lecter. Pengusaha ternak tersebut juga menyediakan hadiah berupa uang dalam jumlah yang sangat besar kepada siapapun yang dapat menangkap dan membawa Dr. Lecter dalam keadaan hidup kepada si pengusaha. Baru-baru ini, si pengusaha mendapatkan kiriman berupa foto rontgen sebuah bahu milik seseorang yang diduga milik Dr. Hannibal Lecter.

Sementara itu di Florence, Palazzo Capponi mendapatkan kurator baru, Dr. Fell. Kurator sebelumnya menghilang secara misterius, dan Dr. Fell dianggap sebagai kurator yang sangat kompeten, bahasa italia nya sangat lancar dan ia memiliki keahlian yang luar biasa hebat dalam menerjemahkan naskah sastra yang sudah sangat tua. Dr. Fell memiliki lima jari dan sebuah luka yang memanjang dari pangkal jari di tangan kirinya, sangat berbeda dengan Dr. Lecter yang memiliki enam jari di tangan kirinya, atau mungkinkah Dr. Fell adalah Dr. Lecter yang telah mengoperasi tangan kirinya dan mengganti namanya. Setidaknya, begitulah anggapan seorang polisi korup dari keturunan Pazzi. Commendatore Pazzi, seorang polisi yang korup, menyadari fakta tersebut dan mengetahui bahwa ia bisa saja mendapatkan hadiah yang melimpah ruah dengan menjual Dr. Lecter ke pengusaha ternak cacat tersebut.

Ketiga orang, dengan kepentingannya masing-masing, itu pun berlomba untuk menangkap Dr. Lecter. Tetapi selalu ada nyawa yang melayang dalam usaha menghentikan si dokter gila itu, dan hanya satu orang beruntung yang dapat bertahan cukup lama.

Ada untungnya juga membeli serial dalam bentuk box set nya langsung, jadi kapanpun mau lanjut baca tinggal mengambil seri berikutnya, tanpa harus penasaran ataupun kebingungan (masalah harga bukunya, mungkin). Oke, jadi nggak lama setelah saya menyelesaikan buku kedua dari serial Hannibal Lecter, saya lanjutkan ke buku ketiganya. Buku keduanya bisa dibilang kece abis, semua adegan action, pengejaran, dan aksi detektifnya benar-benar bikin—apa ya, kata yang benar untuk menggambarkannya—kagum—mungkin. Nah, karena nggak tahan dan penasaran dengan aksi-aksi Dr. Hannibal yang kabur, saya pun lanjut ke buku selanjutnya.

Kisahnya dibuka dengan aksi penyergapan yang benar-benar gagal. Gagal dalam arti penyergapan yang dilakukan oleh Starling maupun dalam arti penceritaan nya. Menurut saya gagal, karena saya sih nggak lihat kaitan dan kepentingannya bab penyergapan ini dengan cerita utamanya. Rasanya kisah penyergapan ini—apalagi yang gagal—benar-benar nggak pas buat dijadikan pembuka, karena setelah itu masalah penyergapan itu nggak dibahas sama sekali. Lalu kisah pengantar dilanjutkan dengan adegan yang berbau politik, hukum, dan hal-hal tentang penegakan hukum lainnya. Secara keseluruhan, kisah pembukanya benar-benar gagal, membosankan, dan bikin ngantuk. Rasanya saya butuh waktu sedikit lebih lama untuk melewati kisah pengantarnya.

Alurnya mulai meningkat menjadi lebih menegangkan ketika sampai di Bab Florence. Di bab ini mulai muncul keterlibatannya si dokter kanibal ini. Kalau dibandingkan dengan adegan pembunuhan yang terjadi di buku kedua, rasanya kisah di buku kedua nggak ada apa-apanya. Adegan pembunuhan yang terjadi di buku ketiga benar-benar brutal dan sadis, baik itu yang dilakukan oleh Dr. Lecter ataupun oleh tokoh lain atau karena sebab lainnya.

Nah, mari kita bahas tabiat si tokoh utama. Pembunuhan yang dilakukan oleh si tokoh utama, si dokter gila, ini sebenarnya hanya memakan dua korban. Satu korban tidak diceritakan dengan jelas detil pembunuhannya, nah saya kagum dengan tokoh naas yang kisah pembunuhannya diceritakan dengan rinci. Pembunuhan yang dilakukan oleh Dr. Lecter terhadap si tokoh naas ini rasanya benar-benar mulus, rapi seperti benar-benar direncanakan dengan matang, rasanya seperti Dr. Lecter mengatur segalanya dan benar-benar mengarahkan si tokoh naas ke dalam perangkapnya. Jenius. Banget. Di buku ini juga, rasanya saya lebih memahami sifat melenceng Dr. Lecter, karena di buku ini dibahas cukup banyak mengenai sejarah dan latar belakang Dr. Lecter.

Dr. Lecter mungkin orang yang berbahaya, pembunuh yang sadis, dan mentalnya benar-benar melenceng jauh, tapi bagi saya Dr. Lecter merupakan pria yang sungguh menawan. Ia memiliki cita rasa yang sangat berkelas, dan ia benar-benar jenius. Sikapnya yang tenang dan dingin jadi nilai tambah, dan menurut saya kalo mengesampingkan wajah dan perilaku brutalnya, ia bisa jadi digilai oleh wanita manapun. Dr. Lecter sangat keceeeeee!!!

Orang yang kebiasaan baca novel brutal macam ini mungkin nggak akan bisa menyelesaikan novel ini, karena adegan brutal akan muncul mulai dari bab dua sampai selesai. Tapi tenanglah, justru adegan brutal itu lah yang membuat saya menggemari novel ini, dan justru adegan brutal itu yang membuat cerita ini lebih seru, yang membuat saya tidak mau berhenti membaca. Saya belum sempat lihat filmnya, tapi dari membaca buku ini rasanya perkara mudah memvisualisasikan setiap adegan, ya termasuk adegan paling keji dalam buku. Kalo di remake, mungkin J-Law cocok menjadi Clarice Starling.

DSC_0001

Sebenarnnya aura horor yang jadi nuansa utama dari buku ini sudah terlihat dari cover bukunya. Gambarnya aja sebuah menara yang dipotret ketika bulan purnama, dan kalau pembaca jeli ada orang berkemeja dan berdasi yang tergantung di salah satu jendela menara tersebut. Well, benar-benar peringatan buat orang yang nggak suka buku horor macam gini.

Kalau saja bukan karena kesalahan kecil—tapi banyak ditemukan—mungkin saya akan menilai buku ini sebagai buku yang sempurna. Kesalahannya lagi-lagi terletak pada terjemahan, rasanya ada kata-kata yang tidak pas sekali ketika dibaca. Kesalahan pengetikan seperti menghilangkan satu huruf dalam suatu kata, atau terbalik-balik susunan hurufnya, banyak ditemukan dalam buku ini. Sangat mengganggu dan membuat tidak nyaman.

Oke, walaupun ceritanya tidak menggantung, masih ada seri terakhir yang harus dibaca oleh penggemar berat Dr. Lecter.

Tuesday, 5 November 2013

Red Dragon-Thomas Harris

Will Graham kembali dipanggil dari pensiunnya untuk menangani dua kasus pembunuhan berantai yang terjadi di Atlanta dan Birmingham. Will, yang merupakan seorang polisi yang memiliki kemampuan khusus dalam memecahkan kasus-kasus pembunuhan yang hampir tidak bisa diketahui siapa pelakunya, terpaksa mengiyakan permintaan sahabatnya, Jack Crawford, polisi di Chicago untuk menyelesaikan kasus dan menemukan pelaku kasus pembunuhan berantai yang membantai dua keluarga secara keji.

Will yang sebelumnya pernah dirawat di rumah sakit jiwa karena membunuh seorang kriminal, juga pernah membantu pihak kepolisian dalam menangkap kasus pembunuhan berantai yang sebelumnya menggemparkan Chicago. Pembunuhan yang didalangi oleh seorang dokter jenius yang sosiopat, Hannibal Lecter, berhasil dipecahkan oleh Will dengan hanya mengandalkan sedikit petunjuk dan nalurinya, tetapi akibatnya Will harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari setelah berhadapan dengan dr. Hannibal, si sosiopat.

Dua keluarga yang dibantai oleh pelaku—yang disebut ‘Peri Gigi’ oleh kepolisian Chicago—Keluarga Jacobi dan Keluarga Leeds tidak memiliki persamaan, sehingga kepolisian Chicago sempat memusingkan motif yang digunakan pelaku dalam menghabisi nyawa setiap anggota Keluarga Jacobi dan Leeds. Hanya saja, sebelum membantai kedua keluarga, pelaku sempat mengawasi keduanya dengan membunuh piaraan mereka sehari sebelum menghabisi keduanya. Walaupun meninggalkan kesan bahwa si pelaku akan susah ditemukan, tetapi si pelaku malah meninggalkan banyak jejak di lokasi kejadian, seperti cetakan gigi pada keju yang diambilnya dari kulkas Keluarga Leeds dan menempelkan sidik jarinya sendiri di beberapa benda. Will Graham yang seakan-akan menemukan jalan buntu mengenai kasus ini akhirnya memutuskan untuk menemui orang yang amat dihindarinya, yang membuatnya terkapar berhari-hari di rumah sakit, dan membuatnya pensiun dari kepolisian, Will memutuskan untuk menemui dr. Hannibal si sosiopat di penjara khusus kriminal.

Sementara itu, Francis Dolarhyde, pekerja di sebuah studio kamera di St. Louis harus berusaha untuk menutupi kekurangan dirinya. Giginya yang tak rata, yang sedikit sumbing dan membuatnya kesulitan dalam mengucapkan huruf tertentu, sebenarnya merupakan satu-satunya kelemahan dirinya, tetapi sedari kecil ia selalu mengalami kemalangan dalam hidupnya. Ia lahir tanpa mengetahui ayahnya yang sebenarnya, dan ibunya langsung meninggalkannya begitu dokter yang membantu persalinannya mengabarkan bahwa anaknya memiliki sedikit cacat pada mulutnya. Selama enam tahun, Francis tinggal di panti asuhan dan akhirnya neneknya, ibu dari ibunya mengambilnya dan merawatnya. Hidup dengan neneknya pun juga tak seindah yang bisa dibayangkan Francis, neneknya kerap mengancam akan memotong alat kelamin Francis jika ia nakal, orang-orang kerap menolaknya karena ia cacat, akibatnya Francis melampiaskan amarahnya pada ayam-ayam neneknya. Kebiasannya itu terus berlanjut hingga ia melihat sebuah mahakarya agung seorang pelukis yang diberi judul ‘Naga Merah dan Gadis yang Bermandikan Matahari’. Francis seakan terhipnotis oleh lukisan tersebut, ia seakan menganggap Naga Merah pada lukisan tersebut adalah tuhan, dan semenjak ia memiliki lukisan tersebut kegemaran Francis dalam membunuh hewan semakin menjadi-jadi, dan mengakibatkan tewasnya anggota Keluarga Jacobi dan Leeds.

Sementara itu, Will Graham masih menemukan kesulitan dalam menemukan jejak mengenai pelaku pembunuhan, dan waktu terus berlalu sampai terjadi pembunuhan serupa yang dilakukan Francis. Will terpaksa bekerja ekstra keras sebelum Francis menghabisi korban ketiga yang ditargetkan pada saat purnama selanjutnya oleh Kepolisian Chicago. Di luar dugaan, Francis Dolarhyde si pelaku ternyata mengirim surat kepada dr. Hannibal yang juga merupakan idolanya. Tak disangka, dr. Hannibal ternyata membalas surat Francis yang berisi semacam perintah yang dapat mengancam keluarga kecil Will Graham.

Beberapa mungkin sudah melihat film ‘Hannibal’ dan ‘Hannibal Rising’, dan juga sekuelnya ‘Silence of the Lamb’ yang menceritakan tentang si dokter sosiopat, Hannibal Lecter, tetapi mengenai film ‘Red Dragon’, sepertinya belum ada yang nonton, atau mungkin filmnya nggak dibuat, ya?

Kisahnya mungkin di luar dari nama besar dr. Hannibal, kalo dilihat dari porsi munculnya si tokoh, buku ini lebih menceritakan mengenai Will Graham dan penyelidikannya dan juga mengenai Francis Dolarhyde dan kegilaannya. Kisah tentang Will lebih mendeskripsikan mengenai aktivitas Will saat ini, maksudnya saat menyelidiki kasus yang sedang berlangsung, sedikit sekali kisah flashback atau cerita masa lalu mengenai Will Graham dan perjalanannya sebelum berakhir menangani kasus yang dilakukan Francis. Sementara itu, kisah mengenai Francis, bisa dibilang lebih detail dan lebih mengena ke pembaca. Jadi, kalo menurut saya, kisah tentang Francis ini lebih menarik buat diikuti daripada kisah pengejaran pelaku itu sendiri. Kisah Francis yang penuh kesedihan lumayan bisa memancing rasa iba dan simpati saya (ya, emang dasar sayanya yang nggak tegaan liat atau denger atau baca tentang anak kecil yang disiksa-siksa, sih. hehehe). Cerita tentang Francis kecil lebih bikin saya paham tentang sifat psikopat Francis daripada ketika Francisnya jadi orang dewasa, kalo di cerita sifat psikopat Francis muncul karena ia lihat lukisan sih, menurut saya agak sedikit konyol. Lukisan itu bisa aja sih Cuma jadi pemantik aja, sedangkan Francis emang dari kecil udah punya sifat psikopat.

Secara keseluruhan, baca buku ini sama kayak liat film action yang marak banget tayang di bioskop-bioskop, penjahat yang nggak ngasih petunjuk satu pun ke kepolisian, polisi pontang-panting nyari pelaku, pelaku tiba-tiba memutuskan untuk bunuh diri karena udah merasa tersudut, kasus ditutup karena pelaku udah mati, tapi nggak disangka-sangka ternyata pelakunya masih hidup dan balas dendam ke polisi, lalu polisi bikin aksi heroik, sampai akhirnya si pelaku benar-benar mati. Ya, bener, drama banget, kan? Ketika sampai di cerita tentang Francis yang seolah-olah bunuh diri itu, saya pikir kasusnya selesai dan cerita tentang Francis benar-benar ditutup, dan saya sedikit kecewa karena mikirnya ‘Yah, mati bunuh diri, nggak seru banget’ dan saya bener-bener bayangin aksi yang heroik ketika kepolisian menangkap Francis. Tetapi ketika di bagian itu, dan ngeliat halaman sisanya ternyata masih banyak, berarti akan ada aksi tambahan yang dilakukan Will Graham, karena nggak mungkin halaman sebanyak itu diabisin buat nyeritain endingnya buku (bisa bosen, cyin, yang baca). Tapi, walaupun terkesan umum banget plotnya, tapi ceritanya masih tetap saja bikin saya deg-degan. Mungkin emang sengaja dibikin seperti itu, sih, biar pembacanya mau mbalik halaman bukunya sampai selesai (dan saya udah selesai, yeeeeaaaaaah!).

Oh ya, tentang aksi di buku ini, beberapa orang yang nggak biasa baca buku tentang pembunuhan, ataupun aksi-aksi yang keras, saya saranin banget-banget buat nggak baca buku ini. Karena adegan pembunuhan atau apapun itu yang dilakukan oleh Francis benar-benar kesannya keras banget, mengerikan, dan—kalo anda merupakan orang yang perasa—bener-bener bisa bikin takut karena bayangin adegan yang dilakukan Francis pada korban (well, karena saya sukanya membayangkan adegan yang ada di buku, jadi begitulah).

Sebenarnya, kesan kalo buku ini memiliki kisah yang ‘menakutkan’ udah bisa langsung dilihat dari posternya yang full warna merah (well, gimana-gimana, merah kan warna yang bisa menggambarkan—nggak tau, ya—dendam, amarah, sifat keji, dan begitulah). Covernya merah di mana-mana, dan meyakinkan banget kalo novel ini pasti sifatnya horor dan thrilling, gitu. Walaupun gambar depannya, menurut saya sih, agak nggak jelas apakah itu tanduknya naga, atau leher naga, atau punggung naga, atau perut naga, atau malah ekor naga, tetep aja sih kesannya horor dan menakutkan begitu.

DSC_0037

Cerita yang bagus, aksi yang keren dan menakutkan, penokohan yang detail dan dalam, hanya sayang sekali editorial buku ini masih nggak rapi. Ada banyak kesalahan pengetikan yang bisa saya temukan di buku ini. Walaupun nggak mengubah alur ceerita dan nggak bikin pembaca kebingungan, tetap saja kesalahan editorial masih bisa dibilang pengganggu menurut saya. Well, bagaimanapun juga tetap baca kisahnya, dan siap-siap buat bermimpi buruk.

p.s.: dibaca pas malem-malem nggak papa kok, nggak akan ada sesuatu yang muncul dari lemari pakaianmu ataupun kolong tempat tidurmu. Hahahaha.