Showing posts with label Hannibal Lecter. Show all posts
Showing posts with label Hannibal Lecter. Show all posts

Friday, 27 February 2015

Opini Bareng BBI: Karakter Tokoh Utama

Banner_OpiniBareng2015-300x187

Sebenarnya saya nggak pernah punya pendirian teguh ketika membicarakan mengenai hal-hal yang saya sukai, seperti buku-buku yang saya sukai, film-film, atau tokoh. Saya nggak pernah terpatok dengan karakter tertentu sehingga saya bisa suka dengan tokoh manapun asalkan karakter patokan tersebut ada di tokoh-tokoh tersebut. Suatu saat saya bisa saja suka sama tokoh cewek yang bodoh dan lemotnya minta ampun, lalu ketika saya buku lainnya bisa saja saya jadi mencintai tokoh cewek yang tomboy banget tapi ternyata robot. Haha. Sama seperti buku, pokoknya buku itu genrenya fiksi, pasti saya baca, nggak peduli itu tentang roman atau horror atau kisah detektif atau fantasi, apapun yang jenisnya fiksi pasti akan saya lahap. Ya hal yang sama juga terjadi ketika saya berhadapan dengan tokoh favorit. Ada banyak tokoh yang menjadi favorit saya, mungkin akan saya bahas sedikit juga karakter dan alasan saya menyukai mereka.

1. Lisbeth Salander (Serial The Girl with The Dragon Tattoo, Stieg Larsson)

lisbethLisbeth Salander diperankan oleh Noomi Rampace (source: http://dragontattoofilm.com/)

lisbeth_salander_by_snobvot-d4san5sLisbeth Salander diperankan oleh Rooney Mara (source: http://fc01.deviantart.net/)

Kayaknya nggak banyak, deh, karakter cewek yang digambarkan se-rebel Lisbeth Salander. Dan nggak banyak pula yang suka sama Lisbeth, entah mereka belum membaca serial ini atau memang Lisbeth bukan tipe cewek yang jadi favorit mereka, yang jelas Miss Salander jadi karakter utama yang paling saya sukai. Why? Because she’s cool, Bro! Major cool! Gambaran tentang Lisbeth kurang lebih seperti ini: dia kurus, tingginya 150cm, memiliki beberapa tato terutama tato naga di bahu kirinya, dia hacker paling genius—atau genius nomer berapa, gitu, dan dia jadi super kaya gara-gara kemampuan hacking-nya itu. Dan dia jago nonjok, bukan jago nonjok seperti ia suka cari gara-gara atau apa, sih, tapi dia nggak akan segan nonjok siapapun yang cari gara-gara sama dia. Mungkin sebenarnya ada banyak tokoh yang seperti Lisbeth, tapi entahlah, bagi saya Lisbeth itu karakter favorit saya yang nomer satu. Kalau saya bisa memilih untuk terlahir seperti karakter fiksi, saya pasti akan memilih menjadi Lisbeth Salander. Kau nggak akan perlu badan semok dan wajah cantik kalau kamu super kaya dan yang kamu butuhkan hanyalah membobol dan meretas sistem apapun.

2. Mariam (A Thousand Splendid Suns, Khaled Hosseini)

Nggak ada tokoh lain yang bisa mengajarkan saya untuk bersabar, menjadi berani, dan selalu percaya kekuatan doa selain Mariam. Hidupnya susah, dari lahir hingga akhir hayatnya, tapi ia selalu bertahan. Ia bertahan karena ia percaya bahwa suatu hari nanti kebahagiaannya akan muncul. Mariam melakukan dosa besar yang benar-benar dilarang oleh agama manapun, tapi toh ia tetap saja jujur mengakui perbuatannya. Ketika ia akhirnya dihukum, ia tidak kabur, ia tidak ke mana-mana. Ia hanya berdoa, ia tidak pernah lupa untuk terus berdoa kepada Tuhan. Baca buku ini sedih banget rasanya, apalagi baca kisah Mariam. Hidup sebatang kara sejak masih bocah, lalu dianggap aib oleh ayah sendiri, hingga akhirnya dinikahkan dengan pria tua, dan ujung-ujungnya ia harus mengakhiri hidupnya dengan cara yang mengenaskan. Sungguh, Mariam lah tokoh yang paling bisa memberikan pengaruh bagi saya untuk selalu menjadi orang yang jujur.

3. Hannibal Lecter (Serial Hannibal, Thomas Harris)

hannibal-lecterHannibal Lecter diperankan oleh Anthony Hopkins (source: http://d.ibtimes.co.uk)

Lagi-lagi muncul karakter badass dalam daftar saya. Yang ini sudah nggak bisa dibilang badass lagi, sih, he’s a serial killer! Sebenarnya Hannibal ini orangnya super pintar dan cerdik dan cerdas, ia akhirnya menjadi seorang dokter yang menangani masalah psikologis di Amerika Serikat. Kejadian yang melatar belakangi Dr. Hannibal menjadi seorang dokter gila yang kanibal—ya, kanibal, kisahnya sih seperti itu—adalah ketika ia melihat berandalan-berandalan yang membawa pergi adik perempuan satu-satunya dan tak mengembalikan si adik pada kakaknya. Hannibal menduga si adik dibunuh lalu—ehm, glek!—dimakan oleh para berandalan karena cuaca dingin dan kelaparan. Walaupun seorang pembunuh saya tetap jatuh hati pada dokter gila ini, dari saran-saran ataupun pernyataan-pernyataan atau juga pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan kelihatan sekali bahwa ia memiliki wibawa. Wibawanya terlalu kuat dan terlalu karismatik sehingga saya jatuh hati. Ia juga sangat tenang, tidak takut pada apapun, angkuh, dan berbahaya. I don’t know, Man, he’s so lovely to me.

4. Catherine Warner (Bookends, Jane Green)

Wanita karir yang karirnya udah mantap, punya apartemen yang nyaman ditinggali, dan ia suka sama buku. Dan ia bercita-cita punya toko buku sendiri. Dan bukan hanya toko buku biasa, tapi toko buku yang ada kedai kopinya. Dan kesampaian! Cath memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan berhasil buka toko bukunya sendiri, bersama temannya yang mengelola kedai kopinya, toko buku Cath lumayan sering menjadi jujukan orang-orang yang mencari buku-buku yang menarik ataupun sekadar bersantai di kedai kopinya. Arrrggggghhhhh iri banget sama Cath, rasanya pengen buku toko buku langsung, deh, plus kedai kopinya, bikin ruangan yang nyaman yang membuat pengunjung betah buat lama-lama duduk sambil baca buku ditemani kopi.

Kalau disuruh memilih karakter tertentu yang saya sukai, saya sebenarnya suka sama karakter cewek yang jago nonjok, berhubung di buku-buku yang sudah saya baca cewek yang jago nonjok itu nonjoknya kurang meyakinkan—baru kece setelah saya liat filmnya—jadi selain Lisbeth Salander rasanya nggak ada lagi cewek jagoan yang nonjoknya beneran nonjok. Rasanya Lisbeth Salander sudah punya semuanya selain wajah yang cantik. Tapi ya begitu, sebenarnya saya nggak punya kriteria tertentu dalam memilih karakter favorit dari tokoh utama, kalau menurut saya pas banget sama saya, bukan pas seperti sifatnya mirip banget sama saya atau bagaimana, kalau hati saya bilang suka banget sama tokoh itu ya saya akan mengidolakan tokoh itu.

Friday, 5 December 2014

Hannibal Rising-Thomas Harris

Berawal dari penjarahan yang dilakukan oleh beberapa pemuda, Hannibal Lecter tumbuh menjadi seseorang yang misterius. Sekaligus mengerikan.

Akibat dari Perang Dunia II, Keluarga Lecter harus pindah dari kastil mereka yang menyenangkan ke pondok berburu mereka yang ada di tengah hutan. Tapi hidup terpencil di tengah hutan pun tidak menjamin kelancaran hidup mereka untuk seterusnya. Di tengah perlawanan mereka dengan cuaca yang ekstrim, mereka harus menghadapi serangan-serangan udara, naas Keluarga Lecter akhirnya terkena serangan tersebut, tidak ada yang selamat kecuali Hannibal dan adiknya, Mischa. Lalu para penjarah itu pun mulai mengeruk keuntungan dari harta milik Keluarga Lecter. Sendirian, tanpa perlindungan, dan kedinginan, Hannibal dan para penjarah itu harus terus menemukan apapun untuk membuat mereka hangat dan terjauh dari kelaparan. Hingga akhirnya mereka tak bisa menemukan apapun untuk makan, bahkan belalang pun tidak, dan mereka pun membawa Mischa.

Sejak itulah Hannibal selalu mendapatkan mimpi buruk mengenai adik perempuannya. Lalu pamannya mulai merawatnya, dibantu dengan istrinya, Lady Murasaki, Hannibal perlahan-lahan mulai beradaptasi dengan mimpinya. Tapi Hannibal tetap tidak melupakan wajah-wajah para penjarah yang telah mengambil Mischa. Bertahun-tahun ia mencari mereka, hendak membalas dendam. Dan akhirnya Hannibal lah yang menjadi mimpi buruk bagi orang-orang.

DSC_0076

Akhirnya sebuah jawaban atas watak dan kelakuan aneh dokter kita yang sadis—tapi juga mengagumkan. Akhirnya saya mengerti kenapa Hannibal Lecter bisa menjadi seseorang yang sangat mengerikan. Jadi gelar Doktor yang melekat padanya memang disebabkan oleh latar akademiknya yang sangat cerdas dan gemilang. Lalu mengenai para penjarah dan Mischa yang malang, menjelaskan asal dari sifat Dr. Lecter yang mengerikan. Ditambah dengan latar belakang keluarganya yang merupakan keturunan seorang bangsawan dengan selera yang tinggi, itu menjelaskan mengenai sifat mengagumkan dan ‘adorable’ yang melekat pada Dr. Lecter apapun yang dia lakukan, bahkan ketika sedang membunuh sekalipun.

Seperti buku-buku sebelumnya yang menunjukkan ‘aksi’ si dokter kanibal, di buku ini pun Hannibal tetap menunjukkan ketenangannya dan keniatannya dalam membalas dendam. Mungkin karena yang melakukan adalah si dokter yang berusia muda, jadi setiap aksi yang ia lakukan rasanya selalu melibatkan hal-hal yang emosional sekali. Sejujurnya, saya malah merasa kasihan dengan Hannibal, dan ya saya akan melakukan hal yang sama jika adik saya satu-satunya dibawa dan tidak dikembalikan. Swear, I’m gonna track them, hunt them down, torture them so freaking bad, and kill them even worse.

Jadi, kalau di buku-buku sebelumnya yang kerasa banget aroma investigasinya dan petualangannya, buku ini lebih bisa menarik simpati pembaca untuk Dr. Hannibal Lecter. Walaupun begitu, saya harus mengakui bahwa ini adalah buku yang paling membosankan dibandingkan dengan buku-buku sebelumnya. Sebenarnya intinya adalah mengenai latar belakang si dokter kanibal dan kenapa ia sampai bisa menjadi orang yang harus dihindari, lalu penulis secara absurd memberikan sebuah kasus yang nggak penting, aneh, dan sama sekali bikin bingung. Saya pun sama sekali nggak ngeh dengan kasus yang diberikan si penulis dengan ceritanya secara keseluruhan, ya sebenarnya masih ada hubungannya dengan Hannibal, sih, tapi tetap saja rasanya nggak penting juga untuk diletakkan di situ.

Dari buku ini mungkin kita akhirnya mengerti kenapa Hannibal jadi orang yang kamu-nggak-mau-cari-gara-gara-dengannya, tapi saya tetap nggak puas dan masih bertanya-tanya. Di buku sebelumnya tentu sudah diceritakan—walaupun secara singkat, sih—bahwa Dr. Hannibal telah membunuh sejumlah orang, termasuk melukai detektif yang dianggap paling oke, dan saya penasaran banget sama cerita itu, kenapa Hannibal membunuh orang-orang itu, kasus apa yang menyebabkan ia akhirnya dipenjara, kasus apa juga yang bisa membuat ia terlibat dengan Will Graham, dan sebagainya.

Membaca buku ini rasanya seperti membaca suatu kisah yang nggak punya akhiran. Ia membiarkan kita mendapatkan sedikit informasi dan terus bertanya-tanya.

Monday, 29 September 2014

Hannibal-Thomas Harris

Delapan tahun sejak Dr. Hannibal Lecter dinyatakan hilang, fotonya disebar tidak hanya di Amerika Serikat tapi di seluruh negara di dunia sebagai buronan yang paling berbahaya. Delapan tahun setelah membunuh lima orang penjaga panjara di Memphis, tempat terakhir Dr. Lecter ditahan, ia akhirnya bebas berkeliaran dan menikmati udara luar yang sudah lama tidak ia rasakan.

Clarice Starling, agen khusus FBI, kembali ditugaskan untuk melacak dan menangkap si pembunuh berantai. Setelah terjungkal akibat penyergapan gagal terhadap pengedar narkoba, dan membunuh pemimpin para pengedar tersebut, untuk membersihkan nama baiknya Starling pun menerima misi yang dapat dianggap sulit dan berbahaya tersebut. Starling tidak sendirian, ia bekerja sama dengan seorang pengusaha ternak yang mengalami cacat fisik super parah akibat perbuatan Dr. Lecter. Pengusaha ternak tersebut juga menyediakan hadiah berupa uang dalam jumlah yang sangat besar kepada siapapun yang dapat menangkap dan membawa Dr. Lecter dalam keadaan hidup kepada si pengusaha. Baru-baru ini, si pengusaha mendapatkan kiriman berupa foto rontgen sebuah bahu milik seseorang yang diduga milik Dr. Hannibal Lecter.

Sementara itu di Florence, Palazzo Capponi mendapatkan kurator baru, Dr. Fell. Kurator sebelumnya menghilang secara misterius, dan Dr. Fell dianggap sebagai kurator yang sangat kompeten, bahasa italia nya sangat lancar dan ia memiliki keahlian yang luar biasa hebat dalam menerjemahkan naskah sastra yang sudah sangat tua. Dr. Fell memiliki lima jari dan sebuah luka yang memanjang dari pangkal jari di tangan kirinya, sangat berbeda dengan Dr. Lecter yang memiliki enam jari di tangan kirinya, atau mungkinkah Dr. Fell adalah Dr. Lecter yang telah mengoperasi tangan kirinya dan mengganti namanya. Setidaknya, begitulah anggapan seorang polisi korup dari keturunan Pazzi. Commendatore Pazzi, seorang polisi yang korup, menyadari fakta tersebut dan mengetahui bahwa ia bisa saja mendapatkan hadiah yang melimpah ruah dengan menjual Dr. Lecter ke pengusaha ternak cacat tersebut.

Ketiga orang, dengan kepentingannya masing-masing, itu pun berlomba untuk menangkap Dr. Lecter. Tetapi selalu ada nyawa yang melayang dalam usaha menghentikan si dokter gila itu, dan hanya satu orang beruntung yang dapat bertahan cukup lama.

Ada untungnya juga membeli serial dalam bentuk box set nya langsung, jadi kapanpun mau lanjut baca tinggal mengambil seri berikutnya, tanpa harus penasaran ataupun kebingungan (masalah harga bukunya, mungkin). Oke, jadi nggak lama setelah saya menyelesaikan buku kedua dari serial Hannibal Lecter, saya lanjutkan ke buku ketiganya. Buku keduanya bisa dibilang kece abis, semua adegan action, pengejaran, dan aksi detektifnya benar-benar bikin—apa ya, kata yang benar untuk menggambarkannya—kagum—mungkin. Nah, karena nggak tahan dan penasaran dengan aksi-aksi Dr. Hannibal yang kabur, saya pun lanjut ke buku selanjutnya.

Kisahnya dibuka dengan aksi penyergapan yang benar-benar gagal. Gagal dalam arti penyergapan yang dilakukan oleh Starling maupun dalam arti penceritaan nya. Menurut saya gagal, karena saya sih nggak lihat kaitan dan kepentingannya bab penyergapan ini dengan cerita utamanya. Rasanya kisah penyergapan ini—apalagi yang gagal—benar-benar nggak pas buat dijadikan pembuka, karena setelah itu masalah penyergapan itu nggak dibahas sama sekali. Lalu kisah pengantar dilanjutkan dengan adegan yang berbau politik, hukum, dan hal-hal tentang penegakan hukum lainnya. Secara keseluruhan, kisah pembukanya benar-benar gagal, membosankan, dan bikin ngantuk. Rasanya saya butuh waktu sedikit lebih lama untuk melewati kisah pengantarnya.

Alurnya mulai meningkat menjadi lebih menegangkan ketika sampai di Bab Florence. Di bab ini mulai muncul keterlibatannya si dokter kanibal ini. Kalau dibandingkan dengan adegan pembunuhan yang terjadi di buku kedua, rasanya kisah di buku kedua nggak ada apa-apanya. Adegan pembunuhan yang terjadi di buku ketiga benar-benar brutal dan sadis, baik itu yang dilakukan oleh Dr. Lecter ataupun oleh tokoh lain atau karena sebab lainnya.

Nah, mari kita bahas tabiat si tokoh utama. Pembunuhan yang dilakukan oleh si tokoh utama, si dokter gila, ini sebenarnya hanya memakan dua korban. Satu korban tidak diceritakan dengan jelas detil pembunuhannya, nah saya kagum dengan tokoh naas yang kisah pembunuhannya diceritakan dengan rinci. Pembunuhan yang dilakukan oleh Dr. Lecter terhadap si tokoh naas ini rasanya benar-benar mulus, rapi seperti benar-benar direncanakan dengan matang, rasanya seperti Dr. Lecter mengatur segalanya dan benar-benar mengarahkan si tokoh naas ke dalam perangkapnya. Jenius. Banget. Di buku ini juga, rasanya saya lebih memahami sifat melenceng Dr. Lecter, karena di buku ini dibahas cukup banyak mengenai sejarah dan latar belakang Dr. Lecter.

Dr. Lecter mungkin orang yang berbahaya, pembunuh yang sadis, dan mentalnya benar-benar melenceng jauh, tapi bagi saya Dr. Lecter merupakan pria yang sungguh menawan. Ia memiliki cita rasa yang sangat berkelas, dan ia benar-benar jenius. Sikapnya yang tenang dan dingin jadi nilai tambah, dan menurut saya kalo mengesampingkan wajah dan perilaku brutalnya, ia bisa jadi digilai oleh wanita manapun. Dr. Lecter sangat keceeeeee!!!

Orang yang kebiasaan baca novel brutal macam ini mungkin nggak akan bisa menyelesaikan novel ini, karena adegan brutal akan muncul mulai dari bab dua sampai selesai. Tapi tenanglah, justru adegan brutal itu lah yang membuat saya menggemari novel ini, dan justru adegan brutal itu yang membuat cerita ini lebih seru, yang membuat saya tidak mau berhenti membaca. Saya belum sempat lihat filmnya, tapi dari membaca buku ini rasanya perkara mudah memvisualisasikan setiap adegan, ya termasuk adegan paling keji dalam buku. Kalo di remake, mungkin J-Law cocok menjadi Clarice Starling.

DSC_0001

Sebenarnnya aura horor yang jadi nuansa utama dari buku ini sudah terlihat dari cover bukunya. Gambarnya aja sebuah menara yang dipotret ketika bulan purnama, dan kalau pembaca jeli ada orang berkemeja dan berdasi yang tergantung di salah satu jendela menara tersebut. Well, benar-benar peringatan buat orang yang nggak suka buku horor macam gini.

Kalau saja bukan karena kesalahan kecil—tapi banyak ditemukan—mungkin saya akan menilai buku ini sebagai buku yang sempurna. Kesalahannya lagi-lagi terletak pada terjemahan, rasanya ada kata-kata yang tidak pas sekali ketika dibaca. Kesalahan pengetikan seperti menghilangkan satu huruf dalam suatu kata, atau terbalik-balik susunan hurufnya, banyak ditemukan dalam buku ini. Sangat mengganggu dan membuat tidak nyaman.

Oke, walaupun ceritanya tidak menggantung, masih ada seri terakhir yang harus dibaca oleh penggemar berat Dr. Lecter.

Saturday, 19 July 2014

The Silence of the Lambs-Thomas Harris

Federal Bureau of Investigation (FBI) kembali menghadapi kasus pembunuhan berantai. Jack Crawford kembali ditunjuk untuk mengepalai penyelidikan mengenai kasus yang dilakukan oleh seseorang yang diberi nama ‘Buffalo Bill’. Buffalo Bill diduga telah melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap beberapa wanita. Tak hanya itu, Buffalo Bill juga menguliti korbannya. Untuk mengetahui sedikit mengenai perilaku aneh yang dilakukan oleh Buffalo Bill, FBI lagi-lagi meminta bantuan dan petunjuk dari psikiatri andal sekaligus pembunuh atas sembilan orang kliennya sendiri, Dr. Hannibal Lecter. Kali ini FBI menugaskan seorang siswa akademi yang cukup cerdas, Clarice Starling.

Kepada Clarice Starling, Dr. Hannibal mengatakan bahwa Buffalo Bill akan beraksi lagi, menculik dan membunuh wanita, dan menguliti mereka. Dr. Hannibal bahkan mengatakan korban berikutnya akan dikuliti kepalanya. Kepada Clarice, Dr. Hannibal bahkan menceritakan banyak hal, dan sebagai gantinya Clarice menceritakannya mengenai ketakutannya. Tak hanya menyinggung mengenai Buffalo Bill, Dr. Hannibal pun menyinggung-nyinggung salah satu korbannya, dan meminta Starling untuk memeriksa mobilnya, di mana Starling malah menemukan sebuah kepala dalam stoples dengan bahan pengawet.

Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Dr. Hannibal, Starling bersama Jack Crawford harus terbang ke West Virginia. Seorang wanita ditemukan tewas mengambang di sebuah sungai, dengan beberapa bagian tubuhnya telah dikuliti termasuk kulit kepalanya, sesuai dengan yang dikatakan oleh Dr. Hannibal pada Starling. Tak hanya itu, dalam mulut korban ditemukan sebuah benda yang bisa dikatakan lebih mirip kepompong. Beberapa hari setelah pembunuhan wanita di Virginia, FBI kembali digemparkan dengan hilangnya putri semata wayang seorang senator, Catherine Baker Martin. Buffalo Bill diduga mendalangi kasus hilangnya putri senator tersebut.

Clarice Starling pun kembali ditugaskan untuk mendapatkan sedikit petunjuk dari Dr. Hannibal. Dr. Hannibal mengatakan bahwa pelakunya merupakan seorang pria yang mengira dirinya transgender, dan ia bersangkutan dengan seseorang yang kepalanya ditemukan Starling di mobil milik klien Dr. Hannibal tersebut. Sementara FBI terus bergerak untuk menemukan Buffalo Bill, Sang Senator pun juga ingin agar putrinya segera ditemukan. Senator langsung meminta petunjuk pada Dr. Hannibal dan sebagai gantinya Dr. Hannibal akan dipindahkan ke tempat yang lebih baik dengan pengawasan yang juga tak kalah ketat, tetapi malah mengakibatkan Dr. Hannibal kabur dan malah susah ditemukan.

Buku kedua dari seri Hannibal ini bisa dikatakan alurnya sedikit mirip dengan buku pertamanya, ‘Red Dragon’, pengejaran terhadap seorang pelaku pembunuhan. Dan pembunuhannya dilakukan kepada beberapa orang. Yang mendalangi pengejaran juga masih sama, FBI, dan tentu saja mereka meminta bantuan kepada si dokter gila, Dr. Hannibal ‘Canibal’ Lecter (atau serial ini bukan lagi bernama Serial Hannibal). Kalo memang serial ini memiliki inti yang saling menyambung, maka bisa dikatakan bahwa buku ini memiliki konflik yang semakin meningkat (terima kasih kepada Dr. Hannibal yang kabur dengan sangat cerdik) dari buku pertamanya. Tetapi, buku pertama dengan buku kedua ini nggak bisa dibilang saling menyambung gitu, maksudnya pembaca juga nggak perlu bingung kalo ternyata baca seri kedua lebih dulu daripada seri pertama, toh tokoh dan ceitanya sangat amat berbeda, dan hanya beberapa tokoh yang menjadikan kedua buku tersebut sebagai serial.

Di buku kedua ini, sorot utamanya adalah kasus Buffalo Bill. Dibandingkan dengan Francis Dolarhyde di buku sebelumnya, sebenarnya si Buffalo Bill ini meninggalkan sedikit petunjuk yang lebih mengarahkan kepada dirinya sendiri, selain itu Dr. Hannibal pun juga mengetahui identitas si Buffalo Bill. Sehingga kesannya adalah, FBI hanya perlu mencari tempat persembunyian si Buffalo Bill ini. Tetapi karena Dr. Hannibal senang bermain-main, Dr. Hannibal tidak langsung menyebutkan nama asli si Buffalo Bill, tetapi Dr. Hannibal memberikan cukup banyak petunjuk sih. Berbeda dengan buku pertama yang menceritakan sepak terjang Will Graham yang terkesan bekerja sendirian, di buku kedua ini saya rasa yang paling banyak bertindak dalam mengungkap si pelaku malah Dr. Hannibal. FBI terkesan sama sekali nggak tahu harus ke mana, harus bagaimana, atau harus melakukan apa, mereka bertanya sedikit kepada Dr. Hannibal dengan mengirim Starling, dan Dr. Hannibal akan menceritakan hal penting lebih dari cukup. Kesannya jelas lah Dr. Hannibal memiliki peran penting sekali dalam buku ini, mungkin dari sinilah sebenarnya petualangan Dr. Hannibal Lecter sebenarnya bermula, dan buku pertama itu hanya pengenalan singkat saja.

DSC_0498

Dari buku pertama yang memberikan pemikiran Will Graham dan adegan action yang cukup heroik dan seru banget, di buku ini saya rasa adegan actionnya saya rasa benar-benar menurun secara drastis, mungkin juga karena tokoh detektif yang jadi sorotan utamanya adalah seorang wanita, sehingga di buku kedua ini, pemikiran dan deduksi Clarice Starling lah yang lebih menonjol. Mungkin karena detektif utamanya adalah wanita, jadi kisah ini juga lebih mengandalkan perasaan dan emosi dari Clarice Starling. Tokoh Clarice Starling yang tenang, cerdas, tetapi juga sedikit temperamen, ditambah dengan geraknya yang cepat dalam memutuskan dan menyimpulkan sesuatu melalui hal-hal kecil yang membuat buku ini benar-benar menjadi novel yang cocok untuk disebut sebagai novel detektif.

Di buku ini, pembaca bisa langsung mengetahui siapa sebenarnya orang yang dikejar-kejar tersebut, penulis langsung menceritakan sosok Buffalo Bill, dan kesibukannya. Penulis langsung menceritakan apa saja yang sebenarnya dilakukan oleh Buffalo Bill terhadap wanita-wanita yang diculiknya. Tetapi penulis tidak menceritakan latar belakang, masa kecil, maupun pemicu dari perilaku menyimpang si Buffalo Bill, sehingga pembaca pun tidak akan merasa bersimpati kepada Buffalo Bill. Buffalo Bill di mata pembaca hanya akan tampak seperti orang gila yang sedikit terobsesi oleh sesuatu.

Nah, yang bikin buku ini jadi sedikit thrilling mungkin bukan sepak terjang Buffalo Bill, ataupun FBI yang mengejar-ngejar si pelaku, melainkan malah sepak terjang si Dr. Hannibal. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, Dr. Hannibal diberikan porsi yang lebih banyak untuk muncul. Di buku ini juga pembaca—mungkin—jadi lebih memahami betapa gilanya Dr. Hannibal ‘Canibal’ Lecter ini. Sejujurnya, aksi yang dilakukan oleh Dr. Hannibal ini sukses bikin saya ngeri, karena tindakan yang dilakukan oleh Dr. Hannibal ini kesannya benar-benar berlebihan dan sangat tanpa tedeng aling-aling. Yang lebih bikin kagum adalah, sepertinya Dr. Hannibal tidak perlu repot-repot menyusun rencana untuk kabur dari kekangan pihak pengamanan.Cerdik, sangat cerdik. Ya, selain menimbulkan kesan ngeri, saya pun kagum dengan Dr. Hannibal ini. Kecerdikannya dalam menipu, bahkan dalam melarikan diri benar-benar sukses bikin saya melongo, loh. Kalo masalah andilnya Dr. Hannibal dalam menemukan pelaku sih, saya rasa bukan karena kecerdikannya, tetapi karena Dr. Hannibal memang sudah mendapatkan informasi mengenai Buffalo Bill sebelumnya. Apresiasi untuk penulis yang telah menciptakan tokoh segila Dr. Hannibal Lecter dengan sangat meyakinkan.

Jadi kenapa judulnya malah domba, tapi gambarnya ngengat, tapi pelakunya malah ‘Buffalo’? Sama seperti buku pertama yang juga mengambil judul dari nama hewan (wait, apa naga bisa digolongkan sebagai hewan?) dan memiliki hubungan yang cukup emosional pada pelaku, buku ini pun judulnya juga memiliki kaitan dengan segi emosionalnya seorang tokoh. Lagi-lagi, apresiasi kepada penulis yang telah memilih judul dengan cukup lihai, walaupun judul merupakan hal yang paling belakang yang saya pikirkan.

Untuk buku seseru dan sekeren ini, sayang sekali jika harus menemukan kesalahan-kesalahan dalam pengetikan. Banyaknya kesalahan pengetikan yang dapat ditemukan dalam versi terjemahan ini saya rasa sangat-sangat mengganggu pembaca, bahkan terdapat kata—entah itu salah ketik, atau kata yang benar-benar tidak saya ketahui—yang sama sekali tidak bisa saya tangkap artinya.

Saya rasa, ada banyak alasan untuk terus melanjutkan membaca lanjutan kisah si dokter gila ini, walaupun buku ini sudah ditutup dengan tepat. Pembaca toh tetap bertanya-tanya mengenai sepak terjang Dr. Hannibal dalam pelarian, atau mungkin mendapatkan informasi mengenai latar belakang Dr. Hannibal dan pemicu dari perilakunya yang benar-benar menyimpang.