Di Tanah Lada oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Mulai dibaca: 29 Desember 2015
Selesai dibaca: 31 Desember 2015
Judul: Di Tanah Lada
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penyunting: Mirna Yulistianti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Agustus 2015
Tebal: 244 halaman
ISBN: 978-602-031-896-7
Format: Paperback
Bahasa: Indonesia
Harga: Rp. 49,300 (Gramedia)
Rating: 2/5
Bukan karena AC, tapi karena rasanya memang dingin. Bagian dalam rumah selalu gelap. (Kata Kakek Kia, terang itu menandakan panas. Jadi, ini ada hubungannya. Aku tidak meracau.) Seperti ada hantu yang menggentayangi seluruh bagian rumahku. (Kata orang, hantu membuat ruangan jadi dingin.) Hanya saja, di dalam sini, hantunya hidup. Hidup, berbadan besar, dan sangat menakutkan.
Nama hantunya Papa. (hal. 2)
Di ulang tahunnya yang ketiga, Kakek Kia memberi Salva sebuah kado yang agak berbeda, Kakek Kia memberi Salva sebuah kamus, itu sebabnya Salva pintar berbahasa Indonesia dan mengerti lebih banyak kata lebih cepat dari anak-anak lain seusianya. Meskipun ia pintar, tapi papanya tetap menganggapnya sebagai anak yang tak berguna. Namanya Salva, biasa dipanggil Ava, tapi papanya malah memanggilnya Saliva atau ludah. Ketika Kakek Kia meninggal, semua orang bersedih dan menundukkan kepala, semuanya kecuali Papa. Papa malah kegirangan dengan kematian Kakek Kia dan malah berteriak bahwa mereka akhirnya kaya. Setelah kematian Kakek Kia, Ava beserta Papa dan Mama pindah rumah, ke sebuah rumah susun dengan ruangan yang jelas jauh lebih kecil daripada rumah mereka sebelumnya dan tanpa tempat tidur ataupun kasur setidaknya untuk Ava, atau Mama. Dan akan selalu ada kasur atau kebutuhan lain untuk Papa. Tapi setidaknya Ava mendapatkan seorang teman, seorang teman yang sama menderita sepertinya karena memiliki Papa yang sama jahatnya dengan Papanya, namanya pun sama uniknya dengan namanya, hanya terdiri dari satu huruf, P. Bersama P, Ava mendapatkan sebuah pengalaman baru, mengembara ke tempat-tempat baru sampai jauh ke Tanah Lada.

