Bekisar Merah oleh Ahmad Tohari
Mulai dibaca: 25 Mei 2016
Selesai dibaca: 08 Juni 2016
Judul: Bekisar Merah
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Desain sampul: Lambok Hutabarat
Tebal buku: 356 hal.
Bahasa: Indonesia
Format: Paper Back
ISBN:978-979-226-632-0
Rating: 4/5
Bekisar adalah unggas elok, hasil kawin silang antara ayam hutan dan atam biasa yang sering menjadi hiasan rumah orang-orang kaya.
Lasi, gadis desa yang amat rupawan, hidup di Karangsoga di mana mayoritas penduduknya yang laki-laki bekerja sebagai penyadap nira, termasuk suaminya. Tiap hari suaminya memanjat belasan pohon kelapa yang amat tinggi, jauh dari tanah, menantang maut, hanya untuk menyadap nira yang nantinya setelah diolah akan dijual ke tengkulak dengan harga yang sangat murah.
Mbok Wiryaji bergerak perlahan dan duduk di sebelah Lasi. Dengan mata sayu dipandangnya anaknya yang tetap membisu. Dalam hati Mbok Wiryaji bangga akan anaknya; kulitnya bersih dengan rambut hitam lurus yang sangat lebat dan badannya lebih besar daripada anak-anak sebayanya. Tungkainya lurus dan berisi. Dan siapa saja akan percaya kelak Lasi akan tumbuh jadi gadis cantik. (hal.29)
Tetapi kehidupan pernikahan mereka akhirnya goyah setelah Lasi mengetahui bahwa suaminya telah menghamili gadis lain di desanya. Lasi kabur ke Jakarta dan bertemu dengan Bu Lanting yang merupakan seorang mucikari untuk para pejabat dan orang-orang penting. Bu Lanting pun membawa pulang Lasi, membelikan Lasi bermacam-macam benda menarik, merawat dan mendandaninya, memberinya makan yang terbaik sehingga Lasi ‘layak dijual’. Usaha Bu Lanting membuahkan hasil, Pak Handarbeni direktur sebuah perusahaan besar terpesona pada Lasi. Tak butuh waktu lama bagi Pak Han maupun Bu Lanting untuk merayu Lasi agar ia mau menikah dengan Pak Han. Pak Han sudah menyiapkan semuanya termasuk rumah megah untuk Lasi, ditambah lagi Lasi merasa berutang budi pada Bu Lanting karena telah merawatnya. Tapi, di tengah kemewahan yang Lasi dapatkan dari Pak Han, ia tak merasakan kebahagiaan sama sekali. Pernikahannya hanya main-main belaka, terbukti ketika Pak Han, tanpa persetujuannya, malah menceraikannya dan menyerahkannya pada Bambung, seseorang yang sangat berpengaruh di pemerintahan.
“Eh, kamu nggak ngerti juga? Dengar, Las. Aku juga sudah bicara dengan Mas Handarbeni. Dia sudah memutuskan melepaskan kamu dan membiarkan kamu jadi milik Pak Bambung.” (hal. 276)
Karena tak mau lagi merasakan pernikahan yang tidak serius, Lasi memutuskan untuk kabur dan menikah siri dengan cinta pertamanya, Kanjat, yang telah menjadi dosen. Tapi Lasi, masih belum memahami seberapa besar pengaruh Bambung dalam negeri ini, jangankan untuk membuat seseorang menjadi direktur sebuah perusahaan, menyeret Lasi dan menjatuhkan Kanjat tentulah hal yang mudah baginya.