Tidak Ada New York Hari Ini oleh M. Aan Mansyur
Mulai dibaca: 04 Agustus 2016
Selesai dibaca: Hari yang sama
Judul asli: Tidak Ada New York Hari Ini
Penulis: M. Aan Mansyur
Foto oleh: Mo Riza
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Mei 2016
Tebal buku: 118 halaman
Bahasa: Indonesia
Format: Paperback
Harga: Rp.52.000 (Gramedia)
Rating: 3/5
Hari-hari membakar habis diriku.
Setiap kali aku ingin mengumpulkan
tumpukan abuku sendiri, jari-jariku
berubah jadi badai angin.
Dan aku mengerti mengapa cinta diciptakan (Cinta, hal. 6)
Sebelum memberikan ulasan mengenai buku kumpulan puisi ini, saya akan ceritakan beberapa fakta—yang nggak terlalu—menarik—sebenarnya—tentang buku ini. Jadi, di toko buku tempat saya bekerja, sebelum buku ini benar-benar mendarat dan terpampang di rak pajangan, saya bolak-balik dapat pesanan, baik yang pesan langsung dengan mendatangi Customer Service toko saya maupun yang pesan melalui telepon atau media komunikasi lainnya, untuk buku ini saja. Hingga akhirnya buku ini pun sukses mendarat dan terpampang di rak pajangan. Tetapi, lagi-lagi saya harus kebingungan karena ternyata toko saya hanya mendapat stok yang sangat sedikit untuk buku ini. Jangan ditanya lagi, deh, buku ini habis dalam berapa hari. Jangankan satu hari, dalam beberapa jam sejak teman-teman saya memajang buku ini, buku ini udah ludes di toko. Dan itu belum saya simpankan untuk yang memesan buku ini sebelumnya. Setelah buku ini terbit pun pesanan terus bertambah, nggak ada hentinya. Perlu waktu beberapa minggu rasanya sebelum toko saya akhirnya dapat stok yang diinginkan dan memenuhi pesanan-pesanan.
Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu,
Jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi. (Batas, hal. 46)
Pertanyaan, kenapa, sih, buku ini sampai sebegitunya? Sebenarnya, apa yang membuat buku ini laris manis dan diminati banyak banget orang? Yang pertama, mungkin saja karena faktor penulis. Saya tahu penulis dari bukunya yang bejudul ‘Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi’ dan ‘Melihat Api Bekerja’, bahasanya yang lembut dan terkesan sendu memikat banyak hati terutama—mungkin—wanita, apalagi wanita yang sangat menyukai kata-kata yang manis.
Sepasang matamu, bencana raksasa di kejauhan.
Tidak berhenti membuat hidupku jadi
benda kecil yang memiliki hati. (Sepasang Matamu, hal. 62)