Saturday, 20 May 2017

Girls in the Dark-Akiyoshi Rikako

web cover gitd_29d08c0a35dd06dcede7fa50fe1cefd1Girls in the Dark oleh Akiyoshi Rikako

Mulai dibaca: 17 Mei 2017
Selesai dibaca: 18 Mei 2017

Judul buku: Girls in the Dark
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Haru
Penerjemah: Andry Setiawan
Penyunting: Nona Aubree
Tahun terbit: Juli 2016 (Cetakan kedelapan)
Tebal buku: 282 halaman
Format: Paperback
ISBN:978-602-774-231-4
Harga:Rp.56.000

Rating: 4/5

Saudari sekalian, terima kasih sudah bersedia datang malam ini meskipun badai sedang menerjang.
Pertemuan ini adalah pertemuan rutin Klub Sastra semester pertama yang terakhir. Izinkan saya, Sumikawa Sayuri, selaku Ketua Klub Sastra memberikan salam pembuka.
(hal. 6)

Seorang gadis ditemukan tewas sambil menggenggam bunga lily, seakan berusaha menyampaikan sebuah pesan saat meregang nyawa. Gadis tersebut adalah Shiraishi Itsumi, putri dari pengelola tempat ia bersekolah dan merupakan Ketua Klub Sastra. Ayah Itsumi terkenal karena mengelola berbagai macam fasilitas layanan publik seperti rumah sakit, mall, juga sekolah, maka tak mengherankan jika Itsumi juga populer di sekolah, apalagi Itsumi merupakan gadis yang memiliki paras cantik. Perjuangannya mendirikan Klub Sastra juga tak lepas dari bantuan ayahnya, sebenarnya klub tersebut sudah ada dari dulu tapi lama-kelamaan ditutup karena anggotanya semakin berkurang. Bersama dengan sahabatnya, Sayuri, Itsumi membangun kembali Klub Sastra dengan tempat berkumpulnya adalah di sebuah biara yang disulap sehingga menjadi tempat dengan nuansa gothic yang mewah. Yang membuat klub tersebut terlihat seperti klub eksekutif adalah anggotanya yang tidak dapat sembarangan mendaftar, anggota-anggota Klub Sastra adalah orang-orang yang diundang secara langsung oleh Ketua Klub, Shiraishi Itsumi sendiri.

Kini, setelah Itsumi ditemukan tewas, anggota-anggota Klub Sastra berkumpul kembali dalam pertemuan rutin yang bertemakan yami-nabe di mana masing-masing anggota mengumpulkan sebuah bahan untuk dimakan dalam kegelapan, tanpa ada anggota lainnya yang tahu bahan apakah yang dibawa oleh anggota yang lainnya. Dalam pertemuan tersebut, para anggota juga diwajibkan untuk membuat naskah dan membacakannya di depan anggota lainnya. Naskah-naskah tersebut tentu saja tidak jauh-jauh dengan peristiwa yang menimpa Klub Sastra tersebut. Untuk mengenang kematian ketua mereka, satu persatu anggota Klub Sastra membacakan naskah masing-masing, yang ternyata juga merupakan analisa tiap anggota mengenai kematian Itsumi. Bunuh diri kah? Dibunuh kah? Naskah dibacakan dalam salon Klub Sastra saat badai mulai menerjang.

Iya. Cerita pendek.
Meskipun dibilang
yami-nabe, tapi acara ini adalah acara Klub Sastra kita yang paling penting. Setiap tahun, masing-masing anggota harus menulis sebuah cerita pendek. Kemudian, sambil menikmati yami-nabe, kita akan mendengar anggota itu membacahkan naskahnya. (hal. 15)

DSC_0030-blog

Sejak saya baca Tokyo Zodiac Murders dari Shoji Shimada, rasanya saya selalu mencari-cari buku-buku bergenre serupa. Novel-novel misteri dan thriller dengan latar yang mengerikan, alur yang membingungkan, dan pelaku yang membeberkan sejuta alibinya, tapi di akhir cerita kita diberikan sebuah penutup yang twisted banget-banget. Menurut saya, cerita yang seperti itu keren aja, bikin saya kagum dengan penulis yang memiliki ide-ide gila mengenai cara menghabisi seseorang atau menghancurkan hidup seseorang. Setelah Shoji Shimada saya nggak inget buku mana lagi yang memberi saya kesan yang sama seperti ketika saya membaca novel Shimada-san tersebut. Sampai akhirnya, pada 2015 saya melihat salah satu buku dengan gambar sampul yang menurut saya menarik. Menarik, karena sampul buku tersebut menampilkan sosok seorang gadis dengan rambut panjang tergerai, dan matanya melotot seperti marah tapi mukanya secara keseluruhan kelihatan seperti memendam sesuatu. Saat itulah saya pertama kali dikenalkan dengan Akiyoshi Rikako. Tapi baru beberapa tahun setelahnya saya membaca bukunya.

Dan saya suka banget!

Jadi sebelum saya membaca buku ini, saya membaca Holy Mother terlebih dahulu, lucu menurut saya karena Holy Mother diterbitkan setahun setelah buku ini. Dari dua buku yang saya baca ini, penulis sepertinya konsisten memberikan cerita dengan ending yang mengejutkan pembaca, walaupun berbeda tapi kedua buku ini menurut saya sama-sama memiliki penutup yang mengejutkan. Jika di buku Holy Mother pembaca seakan ditipu dan terkecoh habis-habisan dengan cerita yang diberikan, di buku ini pembaca nggak akan ditipu kok apalagi sampai merasa terkecoh habis-habisan, pembaca akan diberikan rasa ‘mengejutkan’ yang lain.

Sebelumnya, mari saya perkenalkan dengan cerita dan tokoh-tokohnya terlebih dahulu. Jadi di buku ini settingnya adalah anggota-anggota Klub Sastra yang berkumpul untuk pertemuan rutin. Anggotanya ada tujuh orang di mana Itsumi sebagai ketua klub dan gadis yang bernama Sayuri adalah wakil ketua klub. Biasanya saat pertemuan, pembukaan dibawakan oleh ketua, berhubung ketua mereka ditemukan tewas maka pertemuan tersebut dipimpin oleh Sayuri dan diikuti oleh lima orang anggota lainnya. Pada perkumpulan hari itu setiap anggota diwajibkan membacakan naskah cerita yang dibuat oleh masing-masing dengan bertemakan ‘Kematian Itsumi’.

Karena itu saya meminta kalian menceritakan kejadian ini dari sudut pandang masing-masing.
Sebuah naskah dengan tema Kematian Itsumi. Naskah yang kita persembahkan bagi Itsumi.
(hal. 20)

Jadi begitulah, satu per satu anggota membacakan naskah mereka mengenai kematian ketua klub mereka, dan yang menarik dari naskah tersebut adalah para anggota seakan membacakan analisa masing-masing mengenai kematian Itsumi. Dalam naskah yang dibacakan, tiap anggota klub membacakan apa yang mereka ketahui mengenai Itsumi maupun anggota lain yang mereka curigai sesuai dengan persepsi masing-masing, dan di akhir pembacaan naskah tiap anggota seakan menuduh anggota lainnya sebagai pembunuh Itsumi. Yang menarik dari perkumpulan hari itu adalah, anggota klub berkumpul saat badai sedang menerjang kencang, dan perkumpulan tersebut diadakan dalam gelap, penerangan hanya berasal dari cahaya lilin dan perapian tempat panggung pembacaan naskah. Lalu seakan ingin menambah kesan misterius dan mengerikan, perkumpulan tersebut juga mengadakan yami-nabe.

Nah, jadi begitu, buku ini disusun berdasarkan analisa-analisa para anggota Klub Sastra, jadi ada enam naskah yang dibacakan mengenai kematian Itsumi berdasarkan analisa masing-masing.

When: Tanggal X Juli setelah sekolah usai.
Who: Murid Internasional, Diana Detcheva.
Whom: Shiraishi Itsumi.
Where: SMA Putri Santa Maria. Teras Kompleks Sekolah.
How: Menggunakan Sihir.
What: Memaksanya untuk meloncat.
Why: Melindungi kampung halaman. (hal. 187)

Saat membaca ‘naskah’ masing-masing anggota, saya merasa bahwa penulis membiarkan saya menebak-nebak mana pelaku pembunuhan yang sebenarnya dan siapa diantara mereka yang mungkin memberikan cerita yang benar-benar direkayasa. Beberapa cerita dari beberapa tokoh terlihat bersinggungan, tapi karena diceritakan sesuai pandangan masing-masing, maka susah untuk saya dalam menebak siapa yang kira-kira berbohong dan merekayasa cerita mereka. Menurut saya membaca mengenai gadis-gadis SMA yang menuduh gadis lainnya sudah membuat saya sedikit bergidik, saya masih harus membaca dugaan-dugaan mengerikan dari gadis-gadis tersebut mengenai pembunuhan Itsumi. Pokoknya, apa yang tertuang dalam buku ini terasa sangat gelap, sendu, menyedihkan, mengerikan, dan sangat penuh dendam.

Peran pembantuku yang selama ini menurut tiba-tiba mengajukan ultimatum. Mereka seolah mengatakan bukan mereka saja yang rahasianya aku genggam. Mereka juga menggenggam jiwaku.
Benar, ini pernyataan perang dari mereka.
(hal. 259)

Lalu ada bagian penutupnya.

Sebenarnya saya sudah menyiapkan diri saya untuk mendapatkan ending yang mengejutkan. Berdasarkan buku sebelumnya, saya menyiapkan diri saya untuk endingnya. Jadi ketika membaca buku ini saya benar-benar mengamati tiap tokoh, jenis kelaminnya bener ini apa nggak, usianya bener segini apa nggak, dan sebagainya. Tapi ternyata, ya rasanya nggak ada teka-teki apapun yang tersembunyi atau informasi yang disembunyikan. Dan ternyata ketika sampai di bagian penutup...

Yang bisa menjadikan seorang tokoh utama menjadi tokoh utama adalah... peran pembantu. (hal. 226)

Oke, mungkin saya nggak menemukan sebuah penutup yang membuat saya seperti pembaca yang buruk karena terkecoh habis-habisan karena nggak memerhatikan hilangnya beberapa informasi, tapi penulis tetap memberikan saya sebuah kejutan. Kejutan yang mengerikan sebenarnya.

Kejutannya menurut saya, ngeri abis mengingat tokoh-tokoh yang ada di buku ini adalah gadis-gadis SMA. Walaupun fiksi, seenggaknya buku ini memberikan informasi bagi saya. Entah peluangnya berapa dari berapa, tapi kita benar-benar nggak bisa menebak apa yang orang lain pikirkan tentang apapun.

“Kau selalu memandang rendah aku. Aku tidak akan memaafkanmu. Kubunuh kau.” (hal. 137)

Bisa jadi seorang anak SMA berencana membunuh temannya karena iri, atau menyimpan dendam, atau apapun. Buku ini sebenarnya bisa jadi memberikan informasi mengenai anak SMA, di mana remaja usia 15-18 tahun cenderung labil dan emosinya mudah sekali terbawa oleh suasana hati dan lingkungan. That’s why anak SMA menurut saya justru harus diberikan pengawasan ekstra.

Oke, jadi kesimpulannya buku ini tetap memberikan saya sebuah kejutan. Walaupun kejutannya nggak membuat saya seperti terkecoh atau bagaimana, tapi penulis secara kreatif memberikan cerita yang berbeda-beda melalui keenam tokoh yang ada. Berbeda dengan cerita pembunuhan-pembunuhan lainnya yang sering membuat saya kagum dengan trik yang digunakan oleh pembunuh maupun deduksi sang detektif, buku ini nggak menggunakan trik apapun. Nggak ada trik-trik sulit nan mustahil yang digunakan pelaku, nggak ada cara-cara cerdik dan pintar yang digunakan seseorang untuk mengungkapkan kebenaran, penulis hanya mengandalkan cerita dari saksi-saksi. Penulis seperti memberikan cerita lain dari sisi beberapa orang saksi yang ternyata bisa bikin bingung. Overall, buku ini juga membuat saya kagum dengan penulis.

Satu lagi hal yang saya sukai dari buku ini. Saya suka dengan terjemahannya, karena buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa yang sangat ringan, gaul, dan masa kini banget.

Tapi tahun lalu, Itsumi-senpai sudah ke sana sebagai murid yang pertama. Aku sempat bingung, kenapa dia memilih negara yang (sori ya kalau ngomongnya kasar) minor kayak gitu? (hal. 197)

Karena tokohnya anak SMA, terjemahan di buku ini menurut saya sesuai banget dengan gaya dan cara bicara anak SMA masa kini. Membaca terjemahan buku ini seperti membaca novel-novel dari penulis muda Indonesia karena pemilihan bahasa sehari-harinya yang disesuaikan dengan pembaca Indonesia.

Apalagi dia yang menyapa aku duluan. Senangnya minta ampun. Aku loh, aku. Disapa! Bayangin deh. (hal.196)

Kesimpulan: serius, deh, kalau kamu suka membaca novel tentang pembunuhan-pembunuhan dengan plot-twist yang edan dan mengejutkan, beberapa penulis dari negeri sakura bisa memberikanmu sebuah cerita yang berbeda mengenai apa itu plot-twist.

Badai di luar masih kencang. Saudari sekalian, berhati-hatilah waktu pulang. Terima kasih banyak sudah mau bergabung dalam acara ini.
Sekian, saya menutup pertemuan rutin semester ini.
Saudari sekalian, sampai jumpa.
(hal. 277)

No comments:

Post a Comment