Wednesday, 9 March 2016

Allegiant-Veronica Roth

17899904Allegiant oleh Veronica Roth

Mulai dibaca: 01 Januari 2016

Selesai dibaca: 25 Januari 2016

Judul buku: Allegiant

Penulis: Veronica Roth

Penerbit: Mizan Media Utama

Tahun terbit: Maret 2015

Bahasa: Indonesia

Penerjemah: Nur Aini dan Indira Briantri Asri

Tebal buku: 490 halaman

ISBN: 978-979-433-837-7

Format: Paperback

Harga: Rp. 65,000 (bukupedia)

Rating: 2/5

Setiap pertanyaan yang dapat dijawab harus dijawab

atau setidaknya ditanggapi.

Hal-hal yang tidak logis harus dipertanyakan begitu muncul.

Jawaban yang salah harus diperbaiki.

Jawaban yang benar harus diteguhkan.

-Dari manifesto Faksi Erudite (hal. 11)

Setelah kelompok factionless melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Jeanine Matthews yang mengatur semua faksi, Evelyn Eaton mengambil alih kekuasaan Jeanine dan menghapus sistem faksi. Tidak ada lagi sistem faksi, dan sekarang para factionless-lah yang berkuasa. Tris dan kawan-kawan Dauntless-nya yang telah melalui proses inisiasi untuk dapat tetap bertahan di Dauntless melakukan pemberontakan terhadap kaum factionless, sistem faksi harus tetap ada, karena sistem itulah yang membuat hidupnya selama ini teratur. Bersama dengan Tobias dan sahabat-sahabatnya Tris melakukan pemberontakan dengan kabur dari kota, jauh hingga keluar pagar pembatas. Rencana sudah dipersiapkan dengan matang, hingga akhirnya kelompok tersebut akhirnya dengan kereta terakhir yang mereka naiki menuju keluar pagar pembatas, untuk menemukan dunia baru dan jawaban atas semua teka-teki termasuk menemukan jawaban dari video yang dibuat oleh seorang wanita bernama Edith Prior. Tapi ternyata menerima jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mereka justru membuat mereka lebih mempertanyakan kehidupan mereka sebelumnya. Seakan-akan hidup mereka semua adalah dusta.

P_20160308_111017

Oke, sebelum saya memberi resensi tentang bukunya saya akan memberikan sedikit informasi mengenai filmnya. Seri pamungkas dari serial Divergent ini akan tayang di bioskop-bioskop di Indonesia mulai—sepertinya—18 Maret 2016. Film yang masih dibintangi oleh Shailene Woodley sebagai Tris dan Theo James sebagai Tobias ini dibagi menjadi dua bagian, bagian pertamanya akan ditayangkan bulan ini dan bagian keduanya—tentu saja—akan ditayangkan tahun depan dengan judul The Divergent: Ascendant.

Divergent-Allegiant-Movie-Posterthe official movie poster of Allegiant

Nah, saya lanjutkan ke resensi bukunya. Jadi, seri pamungkas ini agak berbeda dengan dua seri sebelumnya, di mana Tris dan hanya Tris seorang yang menjadi narator. Dalam buku ketiga ini, cerita dibawakan oleh dua tokoh utama, yaitu Tris dan Tobias. Walaupun berada dalam tim yang sama—sama-sama baik, sama-sama membela hal yang sama, dan merupakan pasangan—kedua tokoh ini memberikan cerita yang berlainan berdasarkan sudut pandang mereka masing-masing, kedua tokoh memaparkan keadaan disekeliling mereka dengan pandangan yang berbeda. Sama seperti memberikan sebuah kasus pada dua orang yang bersahabat tapi memiliki pemikiran yang berbeda, mereka akan memberikan opini dan persepsi menurut mereka, seperti itulah yang saya rasakan ketika membaca buku pamungkas ini. Nah, walaupun menyajikan cerita dari sudut pandang berbeda yang menurut saya bertolak belakang, tak jarang juga kedua pencerita ini saling mendukung cerita yang dibawakan oleh narator lainnya, tak perlu takut akan bingung mengikuti jalan cerita dengan dua sudut pandang, toh pembaca tetap akan mengikuti satu topik utama.

Dari buku ini, Tris—dan beberapa tokoh lainnya—ingin menemukan jawaban atas kehidupan mereka sebelumnya, dan saya pun juga ingin mendapatkan jawaban atas hidup mereka yang agak rumit, you know dengan sistem faksi dan divergent dan sebagainya, di sini yang lebih turun tangan untuk memberikan penjelasan adalah Tris yang diberikan informasi oleh agen-agen yang membuat sistem faksi dan mengatur hidup mereka, dan somehow melalui Tris yang memberikan penjelasan ditambah cerita masa lalu ibunya saya seperti nggak diberi jawaban yang melegakan. Penjelasan yang diberikan oleh agen-agen misterius itu yang diceritakan oleh Tris menurut saya justru malah menimbulkan tanda tanya lain bagi saya, selain penjelasannya nggak melegakan, ternyata penjelasannya pun juga nggak memecahkan masalah apapun, justru membuat konflik semakin panas sehingga mengobarkan pemberontakan yang lebih heboh lagi. Penjelasan yang dibeberkan menurut saya hanya sebatas jawaban singkat mengenai hal yang penting yang perlu diketahui pembaca, latar belakang, penyebab, atau peristiwa heboh yang mendasari apa yang terjadi di dunia Tris yang sekarang nggak dijelaskan secara mendalam dan komplit sehingga masih meninggalkan lubang besar di hati saya. I really am dying for the explanation about factions. Atau sayanya aja yang terlalu lambat dalam menangkap penjelasan, padahal sebenarnya Tris sudah memaparkan cerita cukup baik? Hmm, apapun itu rasanya saya perlu ada semacam buku yang menceritakan sebuah peristiwa heboh yang mendasari terbentuknya faksi-faksi tersebut.

Saya juga memberikan izin kepada anak saya serta anak dari anak saya, dan seterusnya, untuk meneruskan eksperimen hingga Bito Kesejahteraan Genetika menganggap eksperimen tersebut selesai. Mereka akan dididik dengan sejarah palsu sesuai dengan yang disampaikan kepada saya setelah prosedur reset dilaksanakan.

Tertanda,

Amanda Marie Ritter (hal. 215)

Baiklah, terlepas dari kurang melegakannya penjelasan yang diberikan oleh Tris, menurut saya Tris tetap menjelma sebagai gadis jagoan, kuat, pemberani, dan tegar. Sedikit mengingat kembali perjalanan Tris di serial sebelumnya, di buku-buku sebelumnya sisi kuat dan garang Tris ditunjukkan melalui fisiknya yang dipaksa menghadapi berbagai tantangan fisik yang banyak dan menakutkan, pokoknya di serial sebelumnya yang menunjukkan bahwa Tris adalah gadis yang kuat adalah kekuatan fisiknya sendiri, dan juga kekuatan pikiran, atau kekuatan gennya? Nah, di buku terakhir ini, karakter Tris yang kuat ini lebih ditunjukkan dari caranya menghadapi masalah yang melibatkan orang-orang yang ia cintai, seperti sahabatnya, kekasihnya, juga kakaknya sendiri. Dan ibunya. Jadi, ketimbang kuat mungkin saya akan mendeskripsikan Tris dalam buku ini sebagai gadis yang tegar, karena rasanya sebagian besar masalah dan konflik yang terjadi pada dirinya melibatkan keluarganya dan orang-orang terdekat lainnya. Walaupun digambarkan sebagai wanita yang kuat dan tegar, tetapi Tris tetaplah gadis remaja berusia 17 tahun—atau mungkin 18 tahun?—yang kadang kondisi mentalnya labil. Perasaan jengkel ataupun kesal atau marah sampai mendendam sekalipun yang muncul ketika ia ditunjukkan sebuah ‘kebenaran’ yang cukup mengguncang hatinya menunjukkan bahwa ia masih seorang gadis remaja. Bagaimanapun Tris tetap menjadi sosok wanita jagoan bagi saya, nggak hanya dari kemampuannya berkelahi atau lari dari bahaya, tetapi dari sifatnya yang rela berkorban sekalipun untuk seseorang yang membuatnya marah atau yang perbuatannya tidak bisa dimaafkan.

Aku kira aku tidak akan semarah ini, tapi ketika Caleb menutup wajah dengan tangannya, aku mengejar, meraih kausnya dan membanting tubuhnya ke patung batu sambil menyebutnya pengecut dan pengkhianat, dan aku akan membunuhnya, menghabisinya. (hal. 263)

Di sisi lain, karena buku ini juga menggunakan sudut pandang Tobias, kemunculan dan peran Tobias dalam buku ini jelas jauh lebih banyak daripada kedua seri sebelumnya.Tobias seolah-olah dibuat menjadi sosok yang lebih penting dalam buku ini dibandingkan dengan perannya di buku sebelumnya, karena beberapa masalah besar ditimbulkan olehnya tetapi tidak lupa juga ia menjadi tokoh yang berperan penting dalam aksi penyelamatan epik. Tobias tetap menjadi jagoan cowok yang keren bagi saya, apalagi kalo membayangkan Theo James yang menjadi Tobias, rasanya bener-bener gemes dan pengen meluk hahaha. Hanya saja, di buku ini kita seperti diperlihatkan sedikit saja sisi lemah dari cowok tangguh ini. Kalau dalam buku kita membaca bahwa Tobias selalu melakukan hal apapun sekehendaknya dengan yakin dan tanpa keraguan sama sekali, di buku ini kita ditunjukkan bahwa Tobias pun sering merasa khawatir, was-was, ragu, dan bersedih, dalam salah satu adegan di buku ia malah terlihat sangat sentimentil, ia bahkan menangis. Hmmm, rasanya menyenangkan juga melihat sisi lemah dari seseorang yang menurut kita tangguh karena tidak pernah kalah dalam berkelahi dan memiliki hati sekeras batu, rasanya seperti melihat bahwa Tobias adalah seorang cowok normal yang biasa-biasa saja, tapi tangguh.

Namun, saat kesadaran itu akhirnya menghantamku, semua daya holang dari tubuhku. Aku jatuh berlutut di sisi meja dan sepertinya aku menangis, setelahnya, atau setidaknya aku ingin menangis. Semua yang ada di dalam diriku memekik, berharap untuk satu kecupan lagi, satu kata, satu tatapan, satu lagi. (hal. 454)

Well, mungkin semuanya sudah bisa nebak seri pamungkas ini akhirnya seperti apa dan bagaimana, apakah memuaskan? Saya pribadi nggak bisa bilang bahwa saya puas dan lega dengan penutupnya, karena penutupnya menurut saya nggak memberikan sebuah penyelesaian yang benar-benar menutup semua pertanyaan. Ditambah dengan penjelasan yang menurut saya masih sangat perlu ditambahi di sana-sini, saya berharap akan ada buku lain yang memberikan sebuah penjelasan mengenai latar belakang sebelum terciptanya wilayah dengan faksi-faksi itu. Sebenarnya saya juga perlu tahu kehidupan setelah pemberontakan yang rasanya terjadi bertubi-tubi itu, saya hanya butuh kesimpulan saja, sih sebenarnya.

Dibuka dengan Divergent yang menurut saya sedikit membosankan tapi adegan berkelahi yang dilakukan Tris cukup mengesankan saya, Insurgent yang menjadi seri kedua menurut saya berhasil membuat saya kagum dengan aksi Tris yang menurut saya jauh lebih tangguh lagi, saya berharap film Allegiant tidak akan mengecewakan saya mengingat saya tidak terlalu menyukai buku penutup serial ini. Bagi yang penasaran dengan sosok Tobias dan pemikiran-pemikirannya, buku ini bisa membantu teman-teman untuk melihat lebih dalam mengenai karakter Tobias. Dan juga Tris, tentu saja. Sementara filmnya, akan tayang di bioskop-bioskop di Indonesia mulai tanggal 18 Maret 2016. Well, kabarnya, sih.

Sejak kecil, aku selalu tahu hal ini: Hidup mencederai kita, dan setiap orang. Kita tak bisa mengelak.

Namun sekarang, aku juga mengetahui ini: Kita bisa disembuhkan. Kita saling menyembuhkan. (hal. 485)

divergent-allegiant-poster-tris1divergent-series-allegiant-character-poster-4these two are so emotional

Shailene-Woodley-Divergent-Allegiant-PosterDivergent-Allegiant-Movie-Poster2another poster where Tobias looks like, emmm, Keanu?

No comments:

Post a Comment