Sunday, 14 February 2016

Di Tanah Lada-Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

27213435Di Tanah Lada oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Mulai dibaca: 29 Desember 2015

Selesai dibaca: 31 Desember 2015

Judul: Di Tanah Lada

Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Penyunting: Mirna Yulistianti

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: Agustus 2015

Tebal: 244 halaman

ISBN: 978-602-031-896-7

Format: Paperback

Bahasa: Indonesia

Harga: Rp. 49,300 (Gramedia)

Rating: 2/5

Bukan karena AC, tapi karena rasanya memang dingin. Bagian dalam rumah selalu gelap. (Kata Kakek Kia, terang itu menandakan panas. Jadi, ini ada hubungannya. Aku tidak meracau.) Seperti ada hantu yang menggentayangi seluruh bagian rumahku. (Kata orang, hantu membuat ruangan jadi dingin.) Hanya saja, di dalam sini, hantunya hidup. Hidup, berbadan besar, dan sangat menakutkan.

Nama hantunya Papa. (hal. 2)

Di ulang tahunnya yang ketiga, Kakek Kia memberi Salva sebuah kado yang agak berbeda, Kakek Kia memberi Salva sebuah kamus, itu sebabnya Salva pintar berbahasa Indonesia dan mengerti lebih banyak kata lebih cepat dari anak-anak lain seusianya. Meskipun ia pintar, tapi papanya tetap menganggapnya sebagai anak yang tak berguna. Namanya Salva, biasa dipanggil Ava, tapi papanya malah memanggilnya Saliva atau ludah. Ketika Kakek Kia meninggal, semua orang bersedih dan menundukkan kepala, semuanya kecuali Papa. Papa malah kegirangan dengan kematian Kakek Kia dan malah berteriak bahwa mereka akhirnya kaya. Setelah kematian Kakek Kia, Ava beserta Papa dan Mama pindah rumah, ke sebuah rumah susun dengan ruangan yang jelas jauh lebih kecil daripada rumah mereka sebelumnya dan tanpa tempat tidur ataupun kasur setidaknya untuk Ava, atau Mama. Dan akan selalu ada kasur atau kebutuhan lain untuk Papa. Tapi setidaknya Ava mendapatkan seorang teman, seorang teman yang sama menderita sepertinya karena memiliki Papa yang sama jahatnya dengan Papanya, namanya pun sama uniknya dengan namanya, hanya terdiri dari satu huruf, P. Bersama P, Ava mendapatkan sebuah pengalaman baru, mengembara ke tempat-tempat baru sampai jauh ke Tanah Lada.

P_20160111_132318

Buku yang menjadi Juara Kedua Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014 ini rasanya diterbitkan beberapa bulan setelah Novel Juara Pertama dan Juara Ketiga terbit. Setelah dibuat penasaran dengan Novel Juara Kedua dari Sayembara tersebut, yang sepertinya tak kunjung terbit, akhirnya bisa juga saya menyelesaikan buku ini. Oke jadi alasan sebenarnya saya membeli buku ini adalah: Tentu saja karena saya sudah punya buku yang jadi Juara Pertama dan Juara Ketiga jadi kenapa nggak sekalian mengoleksi buku yang jadi Juara Kedua, lalu alasan yang kedua tentu saja karena nama penulisnya yang menurut saya sangat unik yang menurut saya agak susah dihafalkan dalam waktu sepuluh detik.

Jadi, menurut saya ceritanya seunik nama penulisnya. Diceritakan melalui sudut pandang anak perempuan berusia 6 tahun, yang berbicaranya masih suka melantur dan ngawur. Diceritakan bahwa Ava adalah gadis cilik yang suka membaca kamus, di usianya yang masih sangat muda, ia mengerti lebih banyak kosa kata daripada anak-anak lain yang seusianya atau bahkan yang lebih tua darinya, itulah yang menyebabkan Ava bicaranya seperti orang kuno, ia bicara dengan gaya bahasa yang kuno, sesuai kamus, dan sesuai aturan penulisan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, yang menurut saya salah banget kalau diterapkan pada anak berusia enam tahun, harusnya anak berusia enam tahun berbicara dengan ucapan yang—walaupun tetap ngelantur—tapi terdengar lucu di telinga orang-orang dewasa, bukannya seperti Ava yang menurut saya malah terdengar agak gila. Mungkin karena Ava yang selalu berusaha menjelaskan pada pembaca kata-kata yang tidak ia mengerti. Well, we thank you for that, Ava. Untung sekali penjelasan Ava yang seringnya diberikan di tengah-tengah cerita nggak merusak ceritanya itu sendiri.

Mengenai cerita Ava dengan bocah laki-laki bernama P yang juga penghuni rumah susun yang sama dengannya. Jadi sebelumnya, P adalah bocah laki-laki berumur sepuluh tahun, ia tinggal dengan papanya atau seorang pria yang ia anggap papa yang juga sama jahatnya dengan papa Ava, mengenai keberadaan ibunya dan mengapa namanya hanya terdiri dari satu huruf itu saja, sangat susah untuk dijelaskan. Oke, kembali ke cerita bocah P dan Ava, it feels like Ava menemukan sebuah dunia baru dan terjun ke dalam kehidupan yang berbeda ketika ia bertemu P, walaupun apa yang mereka alami tetap sama kejamnya. P seakan mengajak Ava untuk mengembara ke dunia yang menurut mereka lebih baik, dan walaupun masih kanak-kanak rasanya membaca cerita petualangan mereka berdua terkesan rada romantis, seperti ada suatu ikatan yang sebenarnya manis, sebuah ikatan romantis yang imut dan lucu tapi sebenarnya tetep terasa salah dan aneh. Memberi sebutan yang hanya mereka berdua yang bisa menggunakan, rasa-rasa iri yang lebih mirip seperti rasa cemburu, yang rasanya memang nggak pas kalau dialami oleh anak berusia enam tahun.

“Kalau begitu, aku Salt, kamu Pepper.(hal. 92)

Terlepas dari gaya bahasa Ava yang ngelantur dan polos, buku ini memberikan satu cerita yang lumayan penting untuk diperhatikan oleh orang dewasa. Apa yang dialami oleh Ava dan P adalah sebuah contoh tindak kekerasan dalam rumah tangga yang menorehkan luka pada kedua bocah tersebut. Ava dan P sama-sama mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh Papa masing-masing, atau pria yang menurut mereka adalah papa mereka.

Dan aku tidak bangun di atas tempat tidur, melainkan di dalam koper. Aku juga tidak bangun dengan Mama yang tersenyum dan memanggil-manggil namaku, melainkan Papa yang berwajah berang dan menjerit-jerit marah kepadaku. (hal. 74)

Akibatnya adalah, yang pertama tentu saja tidak ada kedekatan yang harusnya terjalin oleh tiap anggota keluarga, yang kedua mereka berdua melabeli papa mereka dengan berbagai julukan, mulai dari hantu, monster, makhluk buas, dan berbagai sebutan mengerikan bagi anak-anak lainnya, akibat yang paling parah tentu saja jika si anak melakukan aksi nekat yang—mungkin—tidak terpikirkan oleh orang tua, seperti kabur misalnya, mereka nggak akan berpikir bagaimana cara mereka hidup tanpa orang tua, asalkan mereka tidak lagi bertemu dengan papa mereka, asalkan mereka tidak lagi dimarahi dan dibentak-bentak masalah menjalani hidup mereka pikirkan nanti.

Aku juga sering tidak mau menemani Papa. Tapi kalau aku menolak, Papa akan marah besar. Mungkin itu sebabnya Mama tidak pernah menolak ajakan Papa. Mungkin dia takut Papa marah padanya. Kalau Papa marah, dia mirip setan. Kurasa Papa memang setan. (hal. 33)

Sosok mama dalam kehidupan Ava merupakan seorang wanita yang baik hati dan lemah lembut, tapi tetap tidak bisa melindungi Ava dari amukan papanya, sosok mama juga digambarkan sebagai wanita yang terlalu lemah dan terkesan tidak siap memiliki anak, hal tersebut digambarkan dalam cerita mengenai bagaimana mama sering melupakan kondisi Ava, sering lalai dalam mengawasi Ava dan tidak bisa melindungi dan memberikan pembenaran dalam sikapnya yang menentang papa Ava.

“Mama minta maaf karena kemarin kamu jadi harus tidur di kamar mandi,” kata Mama pelan. “Mama ketuk pintunya, tapi kamu tidak buka juga. Mama tidak bisa buka pintunya dari luar, soalnya kamu kunci.” (hal. 51)

Melalui buku ini, rasanya penulis menyampaikan betapa KDRT merupakan masalah serius dan dampaknya terhadap anak-anak, terutama yang masih berusia 6-10 tahun itu sangat berbahaya bagi mental mereka. Walaupun dituturkan melalui sudut pandang anak permpuan berusia enam tahun dengan gaya bahasa yang agak tidak tertata, menurut saya justru penyampaian pesannya akan lebih tersampaikan karena pembaca—melalui petualangan Ava dan P—akan lebih bisa membayangkan gimana akibatnya jika memperlakukan anak-anak dengan kasar. Tanpa bermaksud untuk menggurui atau bagaimana, penulis memberikan sebuah cerita tapi memiliki pesan yang kuat dengan tambahan dampak yang mengerikan dari KDRT.

Jadi, aku mengambil tangan yang dia ulurkan. Aku tersenyum. Mengangguk balik. Bergandengan tangan, kami berdua menjejakkan kaki dan melompat meninggalkan ujung jembatan kayu yang menghubungkan kami dengan tanah itu.

Kupejamkan mataku. Langit yang memantul di permukaan laut menelanku bulat-bulat. Dingin. Hitam. (hal. 236-237)

 

Mungkin karena pesannya yang kuat dan bermakna, buku ini menyandang predikat Juara 2. Kalau Anda menyukai buku dengan makna yang penting tetapi serius, sebenarnya buku ini nggak cocok juga, sih, untuk Anda. Tetapi silakan dicoba. Silakan tenggelam dalam dunia baru Ava, silakan memperhatikan kata-kata baru yang dijelaskan oleh Ava, dan silakan menyerap sebanyak-banyaknya pelajaran dari kehidupan Ava. Saya suka dengan penutupnya yang—menurut saya—mencengangkan, berbeda, pokoknya menyedihkan. Tapi saya perlu lebih banyak cerita histori tentang Ava, siapa sebenarnya mama dan papanya, dan sebagainya.

C360_2014-06-30-10-53-11-610I googled ‘Tanah Lada’ and these are the results

C360_2014-06-30-11-17-03-941it’s in Lampung

No comments:

Post a Comment