Friday, 5 February 2016

The Girl on the Train-Paula Hawkins

the-girl-on-the-trainThe Girl on the Train oleh Paula Hawkins

Mulai dibaca: 21 Desember 2015

Selesai dibaca: 29 Desember 2015

Judul: The Girl on the Train

Penulis: Paula Hawkins

Penerjemah: Ingrid Nimpoeno

Penyunting: Rina Wulandari

Desain sampul: Wida Sartika

Penerbit: NouraBooks

Bahasa: Indonesia

Tahun terbit: November 2015

Tebal: 428 halaman

ISBN: 978-602-098-997-6

Format: Paperback

Harga: Rp. 63.200 (Pengenbuku)

Rating: 2/5

Rachel: Pemabuk berat. Kebiasaan minumnya semakin parah sejak ia berpisah dengan Tom, mantan suaminya. Sekarang seorang pengangguran. Hidup di sebuah apartemen kecil dengan seorang wanita yang tidak terlalu ramah padanya, bahkan hampir membenci kehadirannya. Walaupun pengangguran, ia selalu pergi ke London dengan kereta. Setiap hari. Seakan-akan ia masih bekerja.

Megan: Pemilik galeri. Dulunya. Sempat menjadi pengasuh bayi bagi tetangganya yang baru memiliki seorang anak. Saudara laki-lakinya tewas karena kecelakaan. Sudah menikah. Pernah memiliki masa lalu yang traumatis sehingga membuatnya sering cemas. Diduga berselingkuh dengan lelaki lain.

Anna: Istri Tom, mantan suami Rachel. Bertetangga dengan Megan. Memiliki satu orang anak. Sering melihat Rachel berkeliaran di dekat rumahnya. Sangat ketakutan terhadap Rachel yang alkoholik.

Rachel sebenarnya sudah dipecat dari pekerjaannya berbulan-bulan yang lalu, tapi karena ia butuh tempat tinggal dan ia tidak mau diusir oleh teman seatapnya karena tidak memiliki pekerjaan, setiap hari ia akan naik kereta menuju London, berpura-pura bahwa ia masih memiliki pekerjaan. Tapi yang tidak Rachel sadari, hal itu sudah menjadi kebiasaan baginnya. Naik kereta menuju London, duduk di kursi dekat jendela, turun di stasiun manapun yang ia inginkan, lalu mengamati berbagai kejadian menarik yang terjadi di luar kereta, termasuk mengamati kehidupan Megan dan suaminya, yang sebenarnya tidak dikenal oleh Rachel, yang rumahnya selalu dilewati oleh keretanya. Pasangan itu begitu menaik, begitu cantik dan menggemaskan, bermesraan di taman belakang rumah mereka, mereka sangat manis sampai-sampai Rachel sering mengarang cerita mengenai kehidupan mereka. Tapi suatu hari Rachel melihat Megan sedang bermesraan. Dengan lelaki lain. Lalu Sabtu berikutnya, Megan, sang istri yang rumahnya sering dilewati Rachel, dikabarkan menghilang. Dan Rachel telihat oleh Anna sedang berkeliaran di daerah rumah pasangan itu, dalam keadaan mabuk. Mungkinkah Rachel terlibat dalam hilangnya Megan? Wanita yang hilang itu? Terlebih setelah Rachel melihat sendiri Megan berselingkuh.

P_20160111_155210

Setelah sekian lama tidak membaca novel bergenre thriller, buku yang sedang booming dan menjadi Pemenang Kategori Mystery & Thriller dalam Goodreads Choice Awards Tahun 2015 ini cukup menjadi angin segar bagi saya untuk memulai kembali membaca novel lain berjenis sama, sekaligus untuk memperkenalkan kepada saya tren novel thriller macam apa yang kira-kira akan booming di tahun 2016 ini.

Dengan desain sampul yang menggambarkan judul buku dengan sedikit percikan darah, saya membayangkan bahwa ceritanya adalah mengenai seorang gadis yang menemukan seorang mayat di kereta yang setiap hari ia kendarai lalu ia menjadi detektif dadakan tanpa pengalaman apapun untuk mengetahui siapa pelaku dan motif di balik kasus tersebut. Didukung dengan testimonial dari penulis buku horor favorit saya, Stephen King, pokoknya dilihat dari sampul bukunya, buku ini memang bikin saya penasaran. Sedangkan dari segi ceritanya sendiri, walaupun tak sepenuhnya berbeda dari perkiraan saya, menurut saya novel ini lebih mengarah dan menonjolkan cerita dramanya. Menurut saya ini hanya kumpulan cerita dari wanita-wanita yang menderita OCD (Obsessive-Compulsive Disorder), kelainan yang membuat penderitanya merasa sangat cemas, sehingga hal-hal kecil sering membuatnya merasa ketakutan, mudah mencemaskan suatu keadaan, pokoknya sikap paranoid terhadap sesuatu. Dan apa yang saya baca di buku ini rasanya adalah sekumpulan kisah-kisah wanita paranoid dan mudah cemas terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya tidak menimbulkan apa-apa. Atau mungkin saja pikiran-pikiran buruk mereka yang secara tidak langsung malah membuat hal-hal buruk tersebut menjadi kenyataan? Walaupun yang terlihat paling cemas di buku adalah Anna, tapi setiap wanita di buku ini setidaknya merasa cemas akan sesuatu, jadi ya, saya menganggap bahwa buku ini adalah kumpulan cerita dari wanita-wanita yang rasa cemasnya berlebihan. Well, karena ini buku bergenre misteri dan thriller, saya nggak akan bilang bahwa thriller-nya kalah dengan kecemasan para wanita tersebut, tapi tunggu, sebenarnya rasa cemas yang berlebihan dan pikiran-pikiran buruk itulah yang sebenarnya membuat ceritanya semakin menakutkan, seperti para wanita tersebut menyetir sendiri apa yang akan terjadi dalam hidup mereka.

Jadi, Rachel, yang tidak mempunyai pengalaman apapun berusaha memcahkan kasus hilangnya Megan. Rachel juga mati-matian membuktikan kepada banyak orang bahwa ia tidak terlibat sama sekali dalam kasus menghilangnya Megan. Rachel ini menurut saya tokoh yang paling acak-acakan, entah dilihat dari kehidupannya maupun dari karakternya sendiri. Dengan kebiasaan minum minuman beralkohol yang masih melekat padanya, Rachel bergerak atas inisiatifnya sendiri untuk memecahkan kasus hilangnya Megan yang justru membuatnya dicemooh banyak orang, entah dari pihak polisi yang menganggapnya wanita alkoholik dengan pikiran kacau atau dari Anna yang menganggapnya sebagai mantan istri yang mengerikan. Mungkin karena merasa sudah memiliki suatu ikatan tertentu dengan Megan, yang rumahnya setiap hari ia lalui, dan sebuah keadaan yang ternyata menyudutkan Rachel, menyebabkan Rachel—atas inisiatifnya sendiri—bergerak untuk menyelidiki dan menelusuri setiap jejak kecil atas hilangnya Megan. Dari situ pun, saya juga menyimpulkan bahwa Rachel ini sedikit kacau pikirannya, mungkin juga karena ia adalah seorang alkoholik yang lumayan berat, jadi ia melakukan apapun sekehendaknya. Tapi, satu hal lagi yang saya tangkap dari inisatifnya Rachel yang sedikit semau udelnya dia adalah bahwa ia sesungguhnya ingin membuktikan. Membuktikan apa? Pada siapa? Well, tentu saja pada siapapun. Pada Tom, mantan suaminya, atau Anna, istri baru dari mantan suaminya, maupun pada polisi, Rachel selain ingin membuktikan bahwa ia tak bersalah dan tak terlibat dalam menghilangnya Megan, ia ingin membuktikan bahwa walaupun ia seorang alkoholik, ia masih cukup waras untuk mengatur hidupnya atau untuk memecahkan masalah pelik macam kasus hilangnya Megan dan menemukan pelaku sebenarnya.

Beralih ke hal lain yang menurut saya menggelikan, yaitu plotnya. Walaupun setiap tokoh memberikan satu bab yang diakhiri dengan suasanya yang makin menegangkan, secara keseluruhan jalannya plot menurut saya sangat lambat. Tiap tokoh memberikan penutup yang rasanya semakin memperburuk dan memperkeruh suasana, Rachel yang rasanya nggak menguak tabir misteri hilangnya Megan padahal langkah yang sudah ia ambil untuk memecahkan kasus rasanya udah banyak banget, atau Megan yang terus-terusan bercerita tentang lelaki lain yang ia temui tapi nggak kunjung memberikan petunjuk lelaki yang mana yang ia ceritakan, jadi Megan semakin memperkeruh cerita, ditambah dengan Anna yang selalu cemas dengan Rachel yang sepertinya selalu muncul di dekat rumahnya, jadi semakin membuat saya berpikir bahwa si Rachel ini bisa saja yang menjadi dalang hilangnya Megan. Dan yap, saya rasa hal-hal itulah yang membuat alurnya jadi lambat, lama, membosankan, dan membuat gatal. Gatal ingin segera menemukan pelakunya. I was dying to know the real doer, I was like screaming ‘Ugh, just tell us the murderer now’. I was dying for more clues! Dan saya akhirnya ngerti kenapa teman-teman saya gatal ingin memberikan spoiler atau paling nggak tokoh yang dikejar-kejar Rachel.

Satu hal yang saya dapatkan dari buku ini, saya baru tahu bahwa diselingkuhi bisa begitu sangat memengaruhi diri seseorang. Saya sering berpikir, jikalau dalam skenario hidup terburuk saya diselingkuhi—entah ketika saya masih dalam tahap berpacaran ataupun sudah menikah—saya nggak akan membiarkan kejadian itu mengacak-acak hidup saya, saya harus terus berjalan, dan melupakan kejadian hal tersebut. Tapi bagi sebagian orang, seperti Rachel misalnya, diselingkuhi bisa berakibat buruk bagi jiwanya yang berimbas pada kehancuran hidupnya sendiri. Rachel diselingkuhi, ia lalu mabuk-mabukan, sangat buruk sehingga membuatnya dipecat, lalu Rachel menjalani hidupnya yang baru yang ternyata menyedihkan.

Filmnya akan tayang mulai tanggal 7 Oktober 2016. Dibintangi oleh Emily Blunt yang menurut saya lumayan cocok untuk memerankan Rachel Watson plus ia cukup berpengalaman dalam membintangi film bergenre misteri, thriller, horor, action, hingga drama, lalu juga dibintangi oleh Rebecca Ferguson, Laura Prepon, Luke Evans, Justin Theroux, dan Haley Bannett. Well, saya berharap filmnya dapat mengobati rasa bosan saya terhadap bukunya.

emilythe stunning Emily Blunt

Menurut saya, sebagai novel thriller pertama yang ditulis oleh Paula Hawkins, novel ini lumayan oke lah sebagai pembuka. Saya yakin akan ada buku-buku thriller lainnya yang akan dihasilkan oleh penulis, dan seiring dengan penilaian pembaca yang bisa dijadikan kritik membangun oleh penulis, saya yakin penulis akan menghasilkan novel thriller yang lebih menegangkan lagi.

No comments:

Post a Comment