Sunday, 24 January 2016

The Lovely Bones-Alice Sebold

The_Lovely_Bones_book_coverThe Lovely Bones oleh Alice Sebold

Mulai dibaca: 01 Desember 2015

Selesai dibaca:20 Desember 2015

Judul: Tulang-tulang yang Cantik

Judul asli: The Lovely Bones

Penulis: Alice Sebold

Penerjemah: Gita Yuliani K.

Penyunting: Lanny Murtihardjana

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: Juli 2010

Tebal: 440 halaman

Format: Paperback

ISBN: 978-979-225-291-0

Harga: Rp. 30.000 (beli di pameran)

Rating: 2/5

Namaku Salmon, seperti nama ikan, dan nama depanku Susie. Umurku empat belas saat dibunuh pada tanggal 6 Desember 1973. (hal. 9)

Susie sedang berjalan pulang melalui jalan yang biasanya ia lalui, melalui ladang jagung. Ketika tepat berada di tengah ladang jagung ia bertemu dengan Tuan Harvey. Ia mengenal pria itu, pria itu merupakan salah satu tetangganya, tetapi pria itu memang sedikit aneh. Ketika berpapasan, Tuan Harvey mengajak Susie untuk melihat-lihat tempat yang baru-baru ini ia bangun, letaknya tak jauh dari ladang jagung yang Susie lewati, dan tempat itu merupakan sebuah ruang bawah tanah. Susie menyukai tempat itu, tempat yang dibangun oleh Tuan Harvey yang katanya dibangun memang untuk anak-anak yang ingin bermain rumah-rumahan. Tetapi ternyata ruang bawah tanah itu merupakan sebuah jebakan yang dibuat oleh Tuan Harvey, untuk memerangkap anak-anak perempuan seperti laba-laba yang memerangkap mangsanya melalui jaring yang ia buat. Itulah yang terjadi pada Susie di ruang bawah tanah di ladang jagung yang dibuat oleh Tuan Harvey. Tuan Harvey membunuh Susie. Sementara Susie pergi ke dunia yang lain, ke alam baka, ia melihat dan mengamati kehidupan di dunia setelah kepergiannya. Ia melihat orang-orang, termasuk keluarganya dan teman-temannya menjalani hidup mereka seperti biasa.

P_20160111_155003

Saya melihat versi filmnya terlebih dahulu, dan sejujurnya, versi filmnya tidak memberikan cerita dan penyelesaian yang menyenangkan hati saya. Versi filmnya lebih menceritakan kehidupan Susie selama di alam baka, ia mendapatkan teman baru, ia pergi ke banyak tempat di alam baka, sambil sesekali melihat kehidupan di dunia atau kejadian-kejadian yang dialami oleh keluarga dan teman-temannya. Nah, berbeda dengan versi filmnya yang lebih menceritakan kehidupan baru Susie, versi bukunya malah hanya sesekali menceritakan kehidupan baru Susie di alam baka, versi bukunya lebih banyak menceritakan pandangan Susie mengenai kehidupan di dunia, bagaimana orang-orang, orang-orang terdekatnya sekalipun, tetap menjalankan kehidupan mereka masing-masing setelah ia dibunuh.

362019

Jadi, sembari beradaptasi dengan dunia barunya, Susie menceritakan kehidupan di bumi yang dijalani oleh orang-orang terdekatnya, orang tuanya, adik-adiknya, teman-temannya, anak laki-laki pertama yang menciumnya, juga tetangganya yang membunuhnya. Bagi ayahnya, kematian Susie merupakan hal yang paling menyedihkan, bagi ayahnya Susie adalah dunianya, itulah sebabnya butuh waktu lama bagi ayah Susie untuk merelakan kematian anaknya, sedangkan ibu Susie menunjukkan sikap yang berbeda 180 derajat dari suaminya. Ibu Susie—yang memang sosok wanita yang tenang, kalem, dan misterius—dengan cepat merelakan kepergian anaknya. Oke, satu hal yang menarik dari ibu Susie Salmon, menurut saya ia adalah sosok yang simpati dan empatinya sangat rendah. Ia seperti nggak punya perasaan dan nggak peduli dengan kematian anaknya yang dibunuh oleh tetangganya sendiri. Ia malah berseligkuh dengan  polisi yang menyelidiki kematian anaknya lalu kabur dan menghilang selama beberapa tahun dari keluarga. Ketika si ibu kembali dan anak bungsunya menunjukkan reaksi seakan membenci ibunya yang seenak jidat meninggalkan rumah, keluarga, dan tanggung jawab, saya yang membaca tuh ikut senang gitu, lo.Ibu Susie mungkin terlihat tegar terhadap kematian anaknya, dan ia lelah dengan suaminya yang terus meratapi kematian Susie, keduanya sebenarnya sama-sama nggak salah tapi juga sama-sama salah. Menurut saya, wajar jika ibu Susie lelah melihat suaminya yang tidak bisa melupakan kematian anaknya, tapi apakah pergi meninggalkan suaminya itu bisa menyelesaikan masalah? Yang ada toh malah si ibu dibenci oleh anaknya yang lain. sementara ayah Susie, menurut saya juga wajar jika ia sangat bersedih dengan kematian Susie, terlebih ketika diceritakan bahwa Susie dan ayahnya sangat dekat dibandingkan dengan anaknya yang lain, tetapi untuk sedih hingga berlarut-larut bahkan sampai bertahun-tahun pun rasanya salah sekali. Menangis dan meratapi kepergian anakmu tidak akan membawanya kembali, kan. Pokoknya kedua orang tua Susie ini bikin saya gemas. Dalam artian, mereka sama-sama bikin saya jengkel.

SEBOLD_ALICE_0316044938_1._V204759192_Saoirse Ronan yang memerankan Susie Salmon dalam film The Lovely Bones

Yang saya harapkan ketika akhirnya saya mengikuti kasus kematian Susie ini adalah bahwa si pelaku akhirnya tertangkap dan mendapat ganjaran yang setimpal. But no, si polisi keukeuh nggak mau dengerin kecurigaan ayah Susie dan nggak menyelidiki rumah pelaku lebih dalam sehingga si pelaku pun kabur seenak jidatnya tapi ujung-ujungnya tewas karena bencana alam. Well, sebenarnya cerita tentang Tuan Harvey, pembunuh Susie, juga bikin saya gemas. Sebenarnya keseluruhan ceritanya membuat saya gemas. Pembaca diajak berputar-putar ke sana kemari, membaca cerita  dan situasi yang dialami oleh tiap tokoh yang diceritakan oleh Susie, tapi untuk menemui bahwa ceritanya pointless. Oke, masalahnya adalah Susie dibunuh dan nggak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan pembunuh, padahal si pembunuh tinggal tak jauh dari rumah Keluarga Salmon. Lalu berputar, berputar, berputar terus sampai akhirnya pembaca diajak ke adegan di mana Tuan Harvey, si pembunuh mati karena kecelakaan. Masalah terselesaikan, pembunuh lenyap. But, what fooorrrrr???? Kenapa membuat penutup yang seperti itu jika melibatkan penyelidikan polisi yang prosesnya  banyak banget. I feel a bit dissapointed for the solution, to me it is not a solution, it is a different story with pointless ending. Saya berharap, dengan saya dibawa  ke mana-mana, disuguhi cerita yang bermacam-macam saya akan menemukan solusi yang epik, dengan aksi heroik dari polisi yang menemukan banyak petunjuk seru dan sebagainya.

2Tuan Harvey diperankan oleh Stanley Tucci. Mukanya mendukung sekali

Oke, sebenarnya, saya juga agak bingung menuliskan resensi untuk buku ini. But, thank God, buku ini nggak diterbitkan lagi.

No comments:

Post a Comment