Wednesday, 11 March 2015

Remedy-Biondy Alfian

Ketika hendak meninggalkan sekolah, Tania menemukan sebuah dompet tergeletak di tangga sekolah. Pemiliknya adalah seorang pria bernama Budi Sanjaya, tanpa repot-repot mencari pemiliknya atau mengembalikannya ke ruang Tata Usaha, Tania meninggalkan sekolah dan menggunakan uang yang ada di dompet tersebut. Sementara itu di kelas lainnya, seorang siswa pindahan dari Jakarta bernama Navin Naftali langsung menjadi pusat perhatian karena wajahnya yang lumayan ganteng. Tania tidak mempedulikan si siswa baru sampai akhirnya Tania menyadari bahwa Navin lah pemilik dompet yang ditemukan Tania itu. Tania menyelidiki dompet tersebut dan ia baru menyadari bahwa di dalam dompet tersebut terdapat dua kartu pengenal. Yang satu milik seorang pria bernama Budi Sanjaya, dan kartu yang satu lagi milik Navin Naftali. Foto yang terdapat pada kedua kartu sama, data dirinya pun sama, hanya saja namanya berbeda. Dan Budi—atau Navin—telah berusia 20 tahun, untuk apa pria berusia 20 tahun berada di SMA? Tania terpaksa mengembalikan dompet itu pada Navin, berharap bahwa Navin—atau Budi—bukan seorang penjahat yang sedang menyamar. Setelah mengembalikan dompet tersebut, ternyata Navin tidak menceritakan pada Tania mengapa ia memiliki identitas yang berbeda, dan Navin menyadari bahwa Tania memiliki sesuatu yang ditutup-tutupi dari semua orang.

DSC_0025

Dari sekian banyak cerita tentang remaja, yang ditulis oleh orang Indonesia, rasanya baru kali ini saya membaca cerita yang latar tempatnya berada di Surabaya, antara senang dan heran, sih. Saya tahu beberapa penulis dari Surabaya yang menghasilkan cerita seperti ini, tetapi latar tempatnya di Jakarta. Kebanyakan cerita macam ini kejadiannya di Ibukota. Jadi ketika baca buku ini, dan tokohnya kebanyakan ngomongnya pake aku-kamu dan bukannya gue-lo, rasanya seneng aja. Untung aja penulisnya nggak nambahin sapaan khas orang Surabaya.

Sejak membaca bagian-bagian awal buku, saya sudah merasa bahwa novel ini nuansanya suram gitu. Bukan, bukan suram yang bagaimana, tapi menyedihkan. Saya merasa bahwa novel ini memiliki cerita yang menyedihkan, yang sendu begitu. Terbukti, sih, dengan kurangnya unsur komedi yang ada di buku. Hampir nggak ada malah. Tetapi, walaupun lelucon yang diberikan sangat minim, saya nggak merasa bosan dengan buku ini. Mungkin karena saking seriusnya buku ini, dan saking penasarannya saya dengan identitas asli Navin Naftali—atau Budi Sanjaya, saya jadi nggak mempedulikan absennya lelucon yang ada di suatu buku.

Sebenarnya, kalau dilihat dari suasana, latar, dan tokohnya, cerita dari buku ini sama seperti novel-novel lainnya yang tokohnya anak SMA, atau sama aja seperti FTV-FTV kacangan yang biasanya disetel pas siang hari. Dan biasanya saya jarang baca novel-novel kacangan macam gitu, saya paling malas dengan ceritanya yang—kebanyakan—remeh banget dan suasana atau percakapannya dibuat secara melebih-lebihkan dan ujung-ujungnya malah jadi cerita yang lebay. Sedangkan di buku ini, walaupun tokohnya kacangan abis, tetapi saya suka sama ceritanya. Nggak se-lebay cerita anak SMA lainnya. Tema ‘Realistic’ kayaknya beneran pas buat jadi cap untuk buku ini.

Walaupun begitu, saya agak kecewa ketika rahasia si Navin—atau Budi—akhirnya diungkapkan. Saya mengharapkan sesuatu yang heboh untuk bagian itu sebenarnya. Anyway, untuk akhir ceritanya, duh, duh, berani-beraninya penulis memberi saya cerita yang bikin penasaran banget! Saya butuh akhir cerita yang beneran, Pak Penulis.

No comments:

Post a Comment