Saturday, 7 March 2015

Pink Project-Retni S.B.

Setelah melihat lukisan karya seniman bernama Pring, Puti mengirimkan artikel mengenai pendapatnya mengenai masterpiece pelukis tersebut. Puti memuji hasil karya Pring setinggi langit, tak lupa juga ia menambahkan kesan yang diberikan oleh lukisan tersebut berdasarkan pengamatannya yang nggak punya latar belakang apapun di bidang seni. Tetapi setelah artikelnya dimuat di koran, muncul artikel baru yang juga mengulas lukisan Pring, bedanya ulasan tersebut malah menjatuhkan Pring dan karyanya. Dan yang membuat Puti bertambah jengkel adalah artikel yang ditulis oleh kitikus seni bernama Sangga tersebut juga menyebutkan bahwa Puti nggak tahu apa-apa tentang seni lukis-melukis. Sejak itu Puti selalu memusuhi Sangga, tetapi semakin berusaha menghindar dari Sangga, Sangga malah seperti selalu berada di sekitar Puti.

DSC_0013

Sejujurnya, saya belum pernah membaca dua orang tokoh yang bertemu lewat media cetak dan dengan cara yang nggak enak pula, jadi menurut saya ide mempertemukan kedua tokoh dengan cara tersebut bisa dikatakan cukup unik. Ada banyak cara yang mungkin terjadi untuk bertemu dengan seseorang, dan saya mengapresiasi penulis yang mengambil cara yang berbeda dengan novel kebanyakan untuk mempertemukan dua tokoh utama itu.

Yang bikin gemas itu tokoh-tokohnya, terutama Puti dan sahabatnya yang bernama Ina. Keduanya sama-sama bebal menurut saya, keduanya seperti terlau cepat menarik kesimpulan tanpa mengorek-ngorek terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi, dan ketika udah ngambek mereka seakan-akan nggak mau dengar penjelasan apapun, sekali orang lain itu salah ya tetep aja salah. Nah, kok masih ada aja sih orang se-keras kepala itu, bener-bener bikin gemas, deh. Plus mereka berrdua ternyata orang yang suka langsung menilai tanpa mempelajari situasi sebenarnya terlebih dahulu. Kalau saya jadi pihak yang tersudut, mungkin saya akan langsung memegang bahu mereka lalu mengguncang-guncang tubuh mereka supaya mereka bisa berpikir jernih.

Ceritanya mirip kayak FTV, menurut saya. Karena otak saya selalu tanggap melontarkan kata-kata macam ‘Bisa aja’, ‘Ada-ada aja’, dan sebagainya ketika membaca buku ini, sama seperti yang ada di FTV kebanyakan. Unik sih, lucu juga, tapi nggak masuk akal gitu, lo. Ditambah dengan gaya bercerita penulis yang kurang saya sukai, jadinya cerita ini jatuhnya aneh.

Dan akhirnya kisah ini ditutup dengan cerita yang membahagiakan, macam novel-novel erotis gitu, tapi karena lagi-lagi gaya berceritanya yang aneh, saya jadi merasa awkward sendiri pas membacanya. I don’t know, Dude, rasanya nggak gitu deh cara menutup sebuah cerita, dan nggak gitu juga menulis sebuah cerita erotis yang dijadikan sebuah penutup.

Anyway, saya masih bertanya-tanya keterkaitan judul dengan isi ceritanya ada di mana, ya?

No comments:

Post a Comment