Saturday, 31 January 2015

Apa yang Ibuku Katakan tentang Apapun

“Ibu, kalau aku memutuskan untuk tidak melahirkan seorang anak, apakah aku berdosa?”

“Menurut ibu, ya. Ketika seseorang wanita sudah tidak mau melahirkan seorang anak, ibu kira begitulah kiamat akan lebih cepat menghampiri.”

-Ibu tentang menghasilkan keturunan-

Dunia sudah semakin maju, teknologi yang semakin canggih juga sudah mudah ditemui, hanya saja kemiskinan masih juga tak terkendali. Kelaparan, penyakit menular, bencana alam, pemanasan global, keadaan ekonomi global yang juga belum bisa dikatakan stabil, makin lama dunia ini makin kejam.

“Dunia ini makin kejam, Bu.”

“Ya, ibu tahu.”

“Bagaimana dengan anakku, Bu? Jika aku melahirkan seorang anak, saya takut dunia akan mengalahkannya dengan telak. Bagaimana jika ia berakhir sebagai pengangguran, lalu hidup dalam kondisi yang sangat miskin? Demi Tuhan, Bu, sungguh aku tidak terima jika anakku nanti hidup seperti itu.”

“Kenapa begitu pesimis? Kau toh belum menikah, kau belum pernah memiliki seorang anak.”

“Apakah aku berdosa, Bu?”

“Ibu tak bisa mengatakan, Nduk, hanya Tuhan yang tahu.”

Sambil tersenyum ibu meneruskan permainan yang ada di tablet nya.

“Begini, Nak, ibu tak akan langsung mengatakan bahwa kau berdosa, mungkin ibu hanya akan mengatakan bahwa kau berbeda. Kau tahu, lah, semua wanita muda yang ibu kenal selalu ingin segera menikah, membangun rumah tangga, mempunyai anak, dan bla-bla-bla, tapi kau tidak. Ibu tak tahu apa alasanmu sesungguhnya ketika menyinggung masalah tidak-ingin-melahirkan-anak ini, tapi kau harus tahu bahwa ketika seorang wanita mulai mengandung, dari situlah keajaiban dimulai. Merasakan setiap gerakan lemah dari dalam tubuhmu, merasakan bahwa ‘benda’ yang ada di dalam perutmu itu terus berkembang, kau menjaganya mati-matian demi melihat dengan matamu sendiri keajaiban itu hadir di depanmu.” Mata ibu berbinar-binar sembari menjelaskan. Aku hanya bisa diam, berspekulasi sendirian.

“Ah, sudahlah, mungkin kau belum bisa merasakannya, tapi ibu, ibu sudah merasakannya dua kali. Dua kali ibu merasa seperti seorang nabi yang diberi suatu mukjizat.” Binar itu muncul lagi, kali ini matanya melebar.

“Sakitkah, Bu?”

“Apa?”

“Melahirkan.”

“Kau terlalu banyak menonton sinetron rupanya. Kuberi tahu, ya, ketika ibu melahirkan kau dan adikmu, ibu tidak kesakitan sama sekali, prosesnya bahkan sangat cepat. Ya, baguslah, ibu juga ingin cepat-cepat melihat mukjizat ibu. Tapi itu semua berbeda-beda, sih, tergantung kondisi setiap wanita.” Ibu melanjutkan bermain di tabletnya. Sambil melengos ibu melanjutkan, “Beberapa perempuan yang tengah melahirkan mungkin merasa kesakitan, mungkin sangat amat kesakitan, tapi toh ia tetap melanjutkan proses itu. Demi melihat buah hatinya, melihat sendiri keajaiban yang diberikan Tuhan melalui tubuhnya. Dan Tuhan tentu akan memberikan hadiah yang setimpal untuk para perempuan yang kuat itu.”

Ketika saya berumur 18 bulan adik saya lahir, dan ibu saya baru saja menapaki karirnya sebagai guru. Saya ingat sekali tempat ibu bekerja untuk pertama kalinya, tempatnya di Babat, Lamongan, sementara rumah kami ada di Sidoarjo. Ibu harus berangkat paling lambat pukul 04.30 agar sampai tepat waktu. Sampai sekarang pun saya tidak tahu bagaimana cara ibu melakukannya, merawat dua bayi sekaligus menjadi penebar ilmu.

“Tak perlu lah kau buru-buru menikah, kejar dulu apapun yang kau inginkan. Kalau kau ingin karir, kejar dulu karirmu. Kalau kau memang sudah mantap, kau sudah siap, barulah kau menikah”

-Ibu tentang fenomena cepat-cepat-menikah-

“Entahlah, Bu, sepertinya teman-temanku banyak sekali yang begitu lulus kuliah langsung menikah. Oh, lihat, bahkan adik kelasku yang sekarang masih kuliah sudah ada yang menikah. Wow!” Sungguh aku tak bisa menutupi keherananku mengenai fenomena cepat-cepat-menikah ini. Sebenarnya, apa sih, yang ingin dicapai dengan Anda buru-buru menikah? Saya bisa saja memaklumi kalau Anda dan pasangan Anda sudah mapan. Hanya ongkang-ongkang Anda menghasilkan uang 1 milyar rupiah. Tetapi ketika Anda masih terlalu muda, belum bekerja apalagi mapan, kenapa Anda harus menikah sekarang?

“Memangnya kenapa? Kau tersaingi?”

“Bu, please deh!”

“Terserahlah dengan apa yang mereka inginkan, kalau kau ingin menyusul mereka ibu siap. Ibu punya cukup biaya untuk mengadakan resepsi pernikahanmu.”

“Ibu, aku kan ingin berkarir dulu. Bagiku itu yang terpenting sekarang.”

“Ya. Kau kejarlah dulu karirmu. Tak perlu buru-buru untuk berkeluarga. Rumah akan menjadi sepi kalau salah satu dari kalian tak ada di rumah. Ibu dengan bapak menikah di usia 30 tahun, kan. Ibu pun juga harus benar-benar mengenal ayahmu sebelum ibu menikahinya. Nggak hanya mengenal bapak seperti mengetahui hal-hal detil tentang bapak, hanya saja seperti merasa bahwa setiap kali melihatnya ibu merasa bahwa bapak lah jodoh ibu. Seperti itu.”

“Ya, mungkin aku akan mengejar karirku dulu. Mungkin aku juga akan seperti ibu.”

“Kau jangan terlalu asyik berkarir, ingatlah bahwa menikah itu penting. Ingatlah bahwa sedekat apapun kau dengan sahabat-sahabatmu atau dengan adikmu, mereka pasti akan memilih jalan mereka sendiri. Mereka tidak akan bisa tetap bersamamu, mereka harus menjalani hidup mereka sendiri-sendiri. Suatu hari nanti, kau akan membutuhkan seseorang yang benar-benar bisa menemanimu terus, dalam hal ini yang ibu maksud adalah pendamping, dan ya maksudnya adalah suami untukmu.”

Ibu tidak memaksa bahwa saya harus menikah pada usia 30 tahun atau apa, kalau aku siap menikah besok atau hari ini, ibu pun siap menikahkanku. Ibu hanya ingin saya benar-benar siap menghadapi dunia tanpa bantuannya lagi, atau setidaknya menjadi orang yang hanya bisa mendengarkan dan memberi saran, bukan lagi menjadi orang yang bisa ‘mengacak-acak’ hidup saya.

“Dasar anak-anak! Masa tidak ada yang ingat ulang tahunku!”

-Ibu, ketika sampai ia pulang mengajar tidak ada satu pun anaknya yang mengucapkan ‘Selamat Ulang Tahun’ padanya-

“Ibu ingat ketika mbah uti meninggal, keesokan harinya ibu ulang tahun. Kami tak mengucapkan selamat pada ibu, kami hanya bingung, saya rasa tak pantas juga merayakan ulang tahun ibu yang jatuhnya tepat sekali sehari setelah mbah uti meninggal. Kami rasa, kau tentu masih berduka karena kehilangan ibumu, Bu, maka kami tidak mengucapkan selamat. Tapi yang ada ibu malah mengingatkan kami sambil tertawa-tawa. Bagaimana ibu bisa seikhlas itu, bisa setegar itu?”

Sambil tersenyum ibu berkata, “Ya, mau bagaimana lagi, Tuhan yang mengatur. Suatu hari nanti toh kita semua juga akan kembali pada Tuhan. Ibu tidak bisa berbuat apapun. Ibu hanya bisa ikhlas.”

Ibu, sampai sekarang saya nggak tahu apakah bisa ikhlas kalau ibu benar-benar pulang pada-Nya.

 

Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com

No comments:

Post a Comment