Friday, 23 January 2015

Ally, All These Lives-Arleen A.

Ally baru berusia sepuluh tahun ketika tiba-tiba ia merasa ada beberapa ekor semut merayapi tubuhnya. Hanya saja semutnya tidak kelihatan. Dan semut-semut itu membuat dunianya tiba-tiba berubah hitam, membuatnya seolah-olah terjatuh dari tempatnya berpijak sekarang ke dunia yang lainnya di mana ia tiba-tiba memiliki seorang adik laki-laki. Tidak ada yang bisa menjelaskan peristiwa aneh yang dialami Ally, sehingga akhirnya Ally memutuskan untuk diam saja dan tidak mengungkit-ungkit masalah dirinya yang ‘berpindah’. Yang ia takutkan adalah, bahwa kejadian itu dapat terjadi sewaktu-waktu dan ia tidak tahu di mana lagi ia akan berakhir, atau perubahan apa sajakah yang akan terjadi.

cover ally final

Ketika membaca beberapa kalimat di bagian pertama, saya langsung teringat dengan cerita milik Neil Gaiman yang berjudul ‘Interworld’ yang tokoh utamanya bisa berpindah dimensi. Atau mungkin seperti film berjudul ‘Jumper’ yang tokoh utamanya juga bisa berpindah ke tempat-tempat yang ia inginkan. Tapi yang terjadi di cerita ini, tokoh utamanya bisa berpindah waktu, dan sepertinya perpindahannya itu terjadi secara mendadak tanpa bisa ia kendalikan. Dan situasi yang ada di cerita ini digambarkan dengan—well—cukup menyedihkan, saya rasa. Apalagi dengan kata-kata pembuka dari penulis, rasanya buku ini punya nuansa yang cukup serius dan sedih, deh.

Dan rasanya aneh sekali hanya membaca dua bab saja. Rasanya ingin nodong penulisnya supaya memberikan bab-bab selanjutnya. Astaga, saya butuh jawaban dari kasus Ally sesegera mungkin! Untuk penggemar genre fantasi dan drama, dan yang selalu berpikir bahwa penulis Indonesia jarang membuat novel bergenre fantasi yang bagus banget, novel ini kayaknya punya potensi untuk membuat para penggemar drama-fantasi.

No comments:

Post a Comment