Thursday, 18 December 2014

The Hobbit-J.R.R. Tolkien

Bilbo Baggins sedang bersantai di depan pintu liang hobbitnya sambil mengisap tembakau ketika seseorang menghampirinya. Ia mengenakan pakaian serba abu-abu dari topi hingga sepatu, janggut, rambut, dan alisnya pun berwarna abu-abu, dan ia mengaku bernama Gandalf. Ia seorang penyihir dan ia mengajak Bilbo untuk mengikuti sebuah petualangan.

Sore keesokan harinya, ketika hendak minum teh, Bilbo kedatangan seorang tamu. Rupanya seorang kurcaci. Beberapa saat kemudian pintu rumahnya diketuk lagi, dan para kurcaci mulai berdatangan. Ada 13 kurcaci yang mendatangi rumah Bilbo ditambah dengan Gandalf si penyihir. Mereka membicarakan sebuah petualangan sepertinya, yang melibatkan Naga! Dan emas! Emas yang banyak.

Rupanya para kurcaci hendak mengambil lagi harta dan kerajaan mereka yang telah dirampas oleh Smaug, Naga yang jahat yang telah mendiami kerajaan para kurcaci selama bertahun-tahun. Dan untuk membantu mereka, mereka membutuhkan satu pencuri. Dan Bilbo adalah sosok yang tepat untuk menjadi pencuri mereka. Bagaimanapun hobbit merupakan makhluk yang mungil, gesit, dapat menghilang, dan dapat berlari tanpa bersuara.

DSC_0010

Memutuskan untuk membaca buku ini untuk yang kedua kalinya gara-gara seri terakhir dari film The Hobbit segera tayang di bioskop-bioskop. Lagipula, sudah lama sekali waktu membaca buku ini pertama kalinya, jadi sedikit lupa dengan ceritanya, oke nggak sedikit tapi bener-bener lupa dengan ceritanya, saya bahkan lupa kenapa saya kasih nilai sempurna untuk buku ini.

Nah, sekarang setelah saya baca buku ini, rasanya buku ini memang pantas mendapatkan nilai sempurna. Dan lagi-lagi saya jatuh cinta dengan penulis yang menonjolkan kesan ‘dongeng’nya di buku ini. Dan ya, buku ini benar-benar cocok banget kalo dibacakan untuk bacaan sebelum tidur, rasanya sangat pas untuk anak-anak yang sangat menyukai petualangan. Dan yang membuat buku ini menjadi bacaan yang menarik adalah nuansa humor dan jenakanya yang sangat menyegarkan. Berbeda dengan serial ‘Lord of the Ring’ yang nuansa petualangannya sangat serius dan heroik tapi unsur humornya sangat kurang, buku ini malah sebaliknya. Bukan, bukan berarti unsur komedinya banyak banget dan petualangannya nggak epik, sebenarnya kalau mau mencari petualangan yang heroik dan kolosal di buku ini pun ada, hanya saja tidak sekental aksi heroik yang ada di seri LOTR.

Petualangan yang ada di ‘The Hobbit’ dengan ‘Lord of the Ring’ sifatnya berbeda. Kalo di buku LOTR petualangannya sih lebih banyak melibatkan pihak lain—yang berbahaya, tentu—sehingga, si tokoh utama diharuskan sering banget menyiapkan senjatanya. Sedangkan di buku ‘The Hobbit’, tokoh utama lebih sering berhadapan dengan suatu kondisi yang susah, dan situasi itu memang nggak mengharuskan adanya senjata, mereka hanya perlu memutar otak untuk melaluinya. Dan ya, keduanya tetap mendongeng sekali, dan keduanya sah-sah aja untuk dijadikan bedtime story.

Nah, sekarang saya mau bahas tentang filmnya. Satu buku dijadikan tiga film, jelas dong menimbulkan pertanyaan besar. Kenapa harus dijadikan tiga film? Ketika suatu buku diangkat menjadi film, saya kira banyak banget orang yang mengeluh bahwa ada banyak bagian di buku yang tidak ditampilkan di film. Dan di film Hobbit, rasanya pembaca nggak akan sempat mengeluh tentang itu, justru sebaliknya ada banyak detail-detail pendukung yang ditambahkan sehingga cerita di film tampak lebih epik.

1 comment:

  1. salah satyu buku terbaik yang pernah saya baca,,, tahun 90 saya baca buku ini dan gak pernah sangka buku ini di filmkan^_^ walau banyak cerita dari buku ini yang ditambahkan saat di filmkan tapi tetap bagus...

    ReplyDelete