Saturday, 6 December 2014

Oliver Twist-Charles Dickens

Oliver Twist lahir di sebuah rumah sosial yang kecil di sebuah desa di Inggris. Ayahnya telah lama meninggalkan ibunya, dan ibunya sendiri meninggal ketika melahirkannya. Sejak dilahirkan, hidup Oliver Twist seakan-akan selalu ditimpa nasib malang, ia dihukum jika berbuat tidak sopan, ia dihukum jika berbicara dengan tidak baik, barang kali ia pun akan dihukum jika ia mengeluarkan satu patah kata sekalipun. Hidup Oliver selalu berpindah-pindah dari keluarga yang satu ke keluarga lainnya. Hingga akhirnya, Oliver memutuskan kabur ke London dan bertemu dan ditampung oleh sekelompok pencuri. Hingga suatu hari Oliver mengikuti kawan barunya ke tengah kota, Oliver hanya melihat kawannya sementara kawannya tersebut sedang ‘bekerja’. Karena nasib malang yang selalu menaunginya, Oliver yang masih tampak berkeliaran di tempat pencurian—dan temannya telah berhasil kabur—malah dikira sebagai pencuri. Orang-orang segera menghakiminya, tak peduli seberapa keras Oliver membela dirinya sendiri, tidak ada yang mendengarkan, tidak ada yang mengasihaninya, tidak ada yang mau memercayainya.

DSC_0078

Mengangkat kisah mengenai bocah yatim piatu yang tidak memiliki apapun, bahkan saudara sekalipun, buku ini juga menceritakan kondisi sosial dari masyarakat di Inggris. Kondisi ekonomi yang timpang antara orang-orang yang kaya dengan yang miskin membuat Oliver berpikir bahwa ia tidak memiliki siapapun, kondisi itulah yang membuat hatinya semakin melemah hingga memutuskan untuk kabur dari tempatnya dibesarkan. Buku ini menggambarkan sekali kondisi yang banyak dialami oleh masyarakat di negara manapun. Mereka yang tidak memiliki uang sepeser pun untuk menunjang hidupnya terpaksa mencuri barang milik orang lain.

Saya rasa nggak akan sulit menggambarkan Oliver dalam benak kita, tentu bocah macam Oliver sudah sering kita lihat di kehidupan sehari-hari. Kisah ini dibuka dengan sangat menyedihkan, apapun yang dilakukan Oliver ia toh akan tetap mendapat hukuman.

Untuk pembaca yang masih anak-anak, kisah Oliver mungkin bisa menjadi pemicu dalam menumbuhkan jiwa kepedulian, rasa iba terhadap kondisi di sekitarnya, rasa setia kawan, dan saling membantu, hanya saja kalau saya pikir bahasa yang digunakan dalam buku terlalu berbelit-belit dan membuat sedikit nggak nyambung. Jangankan anak-anak, saya saja yang membaca buku ini benar-benar pusing dengan beberapa kalimat—yang biasanya ditemukan di kalimat pembuka suatu bab—yang sangat berbelit-belit. Sehingga yang saya lakukan hanyalah terus membaca sampai saya menemukan inti dari bab tersebut.

Okay, bagi pembaca selain anak-anak—terutama orang tua sih—kalau menurut saya sendiri sih, buku ini menjadi sebuah pengingat tentang anak kandung mereka. Rasanya saya diingatkan seperti ini: ketika saya memutuskan untuk memiliki seorang anak atau mungkin memutuskan untuk melahirkan seorang anak, kita harus siap-siap menanggung semuanya, dari awal harus sudah ada persiapan untuk anak kita. Kita nggak bisa melahirkan seorang anak lalu melahirkan begitu saja tanpa memiliki persiapan apapun untuk menunjang hidup anak kita, worst case scenario nya adalah bahwa kita tiba-tiba ‘dipanggil Tuhan’ lalu meninggalkan anak kita sebagai yatim piatu. Dunia itu kejam, saudara-saudara, tidak banyak anak yang dapat perlakuan seberuntung Oliver.

No comments:

Post a Comment