Sunday, 9 November 2014

Gelombang-Dee Lestari

Sejak Alfa melihat makhluk hitam besar menyeramkan yang oleh masyarakat Sianjur Mula-Mula disebut ‘Si Jaga Portibi’, rasanya hidup Alfa berubah, ada yang tidak beres dalam hidupnya. Ia kerap mendapatkan mimpi yang aneh, mimpi yang malah menjadi momen pertaruhan nyawa baginya, dan selalu mimpi yang sama yang dialaminya. Tak hanya itu, dua orang sakti pun tiba-tiba ikut memperebutkannya, ingin mengambil Alfa sebagai muridnya.

Ditentang oleh bapak dan mamaknya yang ingin anak-anaknya menjadi seorang insinyur, Alfa dan semua anggota keluarganya merantau hingga ke Jakarta, ke ibu kota negara demi mengejar gelar insinyur. Tak disangka-sangka, Alfa malah dibawa sampai ke Amerika Serikat oleh keluarga jauhnya yang membutuhkan tenaga kerja. Dengan gigih Alfa menghadapi lingkungan barunya, termasuk dalam menghadapi geng preman dari negara mana pun dan menghindari petugas imigrasi yang akan dengan senang hati langsung menciduk imigran gelap macam Alfa. Dengan giat Alfa belajar demi mendapatkan beasiswa penuh di universitas terbaik.

Siang malam ia pacu tubuhnya untuk tetap sibuk, menjaga pola makan, berolahraga, semua itu ia lakukan agar ia tidak tertidur. Semenjak mengalami mimpi yang dapat merenggut nyawanya, Alfa terus menjaga tubuhnya agar tidak tertidur lebih dari satu jam. Tapi tiba-tiba, seorang wanita membuatnya menghadapi ketakutannya, menghadapi mimpinya sendiri, mimpi yang ia baru sadari sedang menyampaikan rahasia dan pesan. Pesan yang akan mengantar Alfa berkumpul kembali dengan kelompoknya.

Seri kelima! Akhirnya! Setelah menunggu dua tahun, buku ini akhirnya selesai saya baca dalam dua belas jam, dan sekarang saya harus menunggu seri lanjutannya entah sampai kapan karena kerakusan saya sendiri. Well, saya bisa apa, ketika saya membaca buku ini sebenarnya saya tahu kapan saatnya tidur dan meletakkan buku ini, tetapi saya malah tidak berdaya dan malah keterusan. Selalu ada bisikan ‘tanggung amat’ ketika saya hendak menutup buku ini.

DSC_0003

Membaca Gelombang seperti membaca buku harian seorang petualang. Hanya saja si petualang itu juga punya jiwa menulis, jadi bisa menuliskan kata-kata yang enak banget buat diikuti. Ya, dibandingkan dengan ‘Partikel’, Gelombang punya cerita yang sangat sederhana. Baik itu dilihat dari alurnya ataupun mengenai ceritanya secara utuh. Seperti air yang mengalir. Benar-benar macam petualangannya Indiana Jones, dan apa yang dilakukan Alfa adalah petualangan yang mungkin lebih cocok lagi kalo disebut sebagai A Quest. Rasanya menyenangkan sekali mengikuti tiap langkah Alfa dalam buku ini. Kalau dianalogikan, membaca Gelombang sama dengan menunggu kembang api pas tahun baru. Awalnya tenang banget, santai banget tapi kita tetap menunggu munculnya kembang api, dan boom! Kembang apinya muncul dengan berupa penyelesaian ceritanya itu. Sedangkan Partikel lebih penuh dengan emosi, lebih terasa banget sisi spiritualnya.

Saya selalu menyukai buku yang prosesnya melibatkan riset yang dalam, lengkap, informatif, tapi tidak membingungkan pembaca dengan istilah-istilah aneh. Mungkin menunjukkan juga bahwa si penulis memang niat banget menyelesaikan ceritanya, niat banget untuk menyenangkan hati pembacanya. Salut banget dengan riset yang dilakukan oleh penulis, berawal dari kampung halamannya lalu kemudian merembet ke banyak hal yang membutuhkan riset. Satu hal yang bikin saya suka dengan penulis yang melakukan riset yang dalam untuk tulisannya, saya jadi lebih memahami tokoh utamanya, saya jadi lebih bisa ikut merasakan emosinya, saya pun jadi lebih mudah memvisualisasikan segala hal yang ada di buku. Thanks for the research, Mama. Lagipula, penulis pun mencantumkan banyak catatan kaki untuk hal-hal yang tergolong baru di pikiran pembaca.

Akhirnya, selesai sudah seri kelima, saatnya menunggu lagi untuk seri berikutnya. Berharap bahwa seri lanjutannya—yang katanya adalah seri penutupnya—memberikan jawaban atas semuanya, sejelas-jelasnya dan selengkap-lengkapnya. Berharap bahwa seri tersebut akan melegakan dahaga pembaca terhadap penyelesaian, solusi, ataupun konklusi yang selalu hadir ketika selesai membaca seri sebelumnya. Butuh berapa tahun diciptakan, setebal apapun bukunya, rasanya rela saja demi mendapatkan sebuah kesimpulan.

No comments:

Post a Comment