Friday, 7 March 2014

Life of Pi-Yann Martel

Piscine Molitor Patel merupakan bocah India dari Keluarga Patel. Namanya diambil dari nama kolam renang terkemuka di Perancis, Kolam Renang Piscine Molitor. Selama enam belas tahun, Pi, begitulah ia memanggil dirinya sendiri, hidup serba berkecukupan bersama Ayah, Ibu dan kakak laki-lakinya. Tiap kali meminta makanan favoritnya, keinginannya akan langsung hadir di depannya. Ayah Pi merupakan pemilik kebun binatang yang selalu ramai dikunjungi oleh penduduk Kota Pondhicerry, India. Kebun binatang tersebut memiliki koleksi hewan yang cukup banyak dibandingkan kebun binatang lainnya di kota. Pi menikmati berjalan-jalan di kebun binatang ayahnya tiap minggu. Bagi Pi, kebun binatang itu adalah surganya. Ia bagaikan seorang raja dengan taman bermain luas yang memiliki berbagai hewan dan tumbuhan. Tiap-tiap suara yang dihasilkan oleh hewan-hewan tersebut merupakan alarm bagi Pi untuk melakukan aktivitasnya.

Pi baru berusia empat belas tahun ketika ia akhirnya mulai tersentuh oleh agama lain selain agama yang sedang dianutnya, Agama Hindu. Pi sedang berlibur bersama keluarganya di Munnar ketika ia mengetahui tentang Agama Kristen. Kebaikan hati, kelembutan, dan keramahan pastor gereja di Munnar pada orang lain membuat Pi kagum dengan sang pastor, Pi pun memutuskan untuk menganut Agama Kristen, dan Agama Hindu. Seminggu kemudian, Pi menemukan sebuah rumah dengan roti dipajang di etalasenya, Pi yang penasaran dengan rumah tersebut pun langsung masuk. Pemilik rumah tersebut ternyata seorang Muslim. Pi pun akhirnya sekali lagi tertarik dengan agama lain, cara orang tua tersebut beribadah, berkhusyuk, sambil mulutnya terus berkomat-kamit mengucap doa, membuat Pi berpikir bahwa orang muslim tersebut sangat dekat dengan Tuhannya. Pi pun memutuskan untuk menganut Agama Islam, dan Agama Kristen, dan Agama Hindu.

Selama enam belas tahun tinggal dengan tentram di Pondicherry, keluarga Patel akhirnya menemui keadaan yang agak menyulitkan, sehingga mereka terpaksa pindah. Membawa serta beberapa hewan kebun binatang untuk dipindahkan ke Kanada, destinasi mereka. Pada tanggal 21 Juni 1977 kapal barang Tsimsum berlayar dari Madras, India ke Kanada membawa Keluarga Patel dan beberapa hewan dari kebun binatang Pondicherry. Saat berada di tengah-tengah Samudra Pasifik, ledakan besar terjadi di kapal tanpa diketahui penyebab utamanya. Pi berhasil selamat dan melompat ke sekoci, tetapi tidak dengan anggota keluarganya maupun awak kapal lainnya. Bersama Pi, sekoci tersebut juga mengangkut seekor hyena, seekor zebra dengan kaki yang patah, seekor orang utan betina, dan seekor harimau Royal Bengal seberat 225 kilogram bernama Richard Parker. Selama tujuh bulan, sekoci tersebut terombang-ambing di Samudra Pasifik, selama tujuh bulan itu pula lah, Pi diuji untuk tetap bertahan hidup.

Kisah yang akan membuat orang percaya pada Tuhan, saya rasa kalimat yang pas banget untuk menarik minat pembaca untuk membeli buku ini. Disajikan dalam buku dengan sampul bergambar harimau, yang nggak bikin buku ini terlihat sebagai buku ber-genre non-fiksi yang serius, buku ini malah terlihat seperti novel fantasi yang penuh dengan hal-hal yang ajaib.

DSC_0312

Oke, jadi mari kita mulai kupas tuntas buku ini. Buku ini dibagi menjadi tiga bab utama, bab pertama menceritakan kehidupan Pi ketika masih di India, bagaimana hidupnya ketika di Pondicherry begitu makmur dan serba berkecukupan, memiliki surga sendiri dan merasa seperti seorang raja dengan kebun binatang pribadi di dekat istananya. Lalu dengan perilakunya yang menganut berbagai agama, well, I personally think that was the most interesting part in this chapter. Pi masih berumur empat belas tahun, saya rasa wajar saja kalau Pi mudah tersentuh, mudah terpengaruh, dan mudah tertarik. Bagaimanapun Agama Kristen dan Agama Islam merupakan hal baru baginya, dan anak empat belas tahun selalu tertarik dengan hal yang baru. Saya rasa setiap orang pada usia belasan tahun selalu mudah tertarik dengan banyak hal, nggak terkecuali agama, mungkin kita penasaran sejarahnya gimana, mengapa cara ibadahnya agama ini begini, agama itu begitu, dan sebagainya. Bagi saya, bab pertama—kalau digambarkan sebagai sesosok manusia—begitu child-like, ceritanya mungkin dipaparkan oleh orang—yang sudah—dewasa, tapi saya bisa ngerti gitu lo, gimana kesenangannya dia mengenai hal baru tersebut, dan saya juga ikutan tersenyum membaca tentang keyakinan Pi.

Bab dua bisa dibilang merupakan bab utama dari buku ini, selain makan porsi halaman lebih banyak dari dua bab lainnya, di sinilah petualangan Pi yang terombang-ambing di Samudra Pasifik dimulai, di bab inilah mulai diceritakan mengenai ujian yang dihadapi Pi, di sinilah cerita yang membuat orang percaya kepada Tuhan dipaparkan. Jadi keadaannya, Pi terdampar bersama hewan-hewan, di sekoci yang cukup besar dan ada di tengah-tengah Samudra Pasifik. Cukup mengerikan, ya? Eits, tunggu dulu. Sori ya, kalo ini agak-agak spoiler, tapi ternyata di sekoci yang ditumpangi Pi ternyata juga ada banyak makanan dan berbotol-botol minuman yang bisa menyelamatkan hidup Pi paling enggak 5 bulan. Nggak hanya itu, ternyata sekoci Pi juga dilengkapi alat penyuling air bertenaga matahari, jadi kalau dalam keadaan darurat Pi bisa menggunakan alat tersebut untuk mengambil air laut, menjemurnya di bawah terik, dan Voila!! Pi mendapatkan seember air tawar siap minum. Oke, mungkin bab ini bisa jadi petunjuk ringan kalo kita tiba-tiba dalam keadaan seperti Pi. Akan ada banyak minuman dan makanan di sekoci!! Yeaaay!! But hey, it’s not that simple!! Iya kalau kita kayak Pi, gimana kalau enggak? Nggak ada makanan, minuman, alat penyuling air, dan yang lebih buruk lagi kita sendirian, nggak ada hewan-hewan itu tadi?

Oke, itu tadi hanya opini, jangan dipikirkan, mari fokus pada Pi. Pembaca tentu akan kagum dengan kegigihan Pi untuk terus berjuang mempertahankan hidupnya, tak terkecuali saya. Tiap halaman dalam bab dua menceritakan mengenai perjuangan hidup Pi, apa saja yang dia lakukan dan harus relakan. Walaupun terkessan, selalu melakukan hal baru, entah kenapa bagi saya alur di bab ini monoton sekali, sejujurnya saya sampai bosan untuk membaca kisah Pi. It’s like, ada aja hal yang dilakukan Pi untuk bertahan hidup, tapi ya hasilnya itu-itu aja, nggak ada kemajuan, ataupun kemunduran. Pi tetap di tengah-tengah Samudra, dan nggak ada yang nolong. Mungkin akan lebih baik kalau kisah ini ditulis dalam bentuk seperti catatan harian, dan ketika benar-benar ada peristiwa yang orang lain patut tahu.

Bagaimanapun juga, ada pesan yang bagus dalam kisah ini. Pi anak yang taat pada Tuhannya, entah Tuhannya yang mana. Ia tidak lupa untuk selalu berdoa. Mungkin kalau kita dalam keadaannya Pi, kita akan nangis terus, nangis sampai lelah hingga tertidur. Satu yang perlu diingat, bahwa ketika kita lelah karena sudah berjuang semampu kita, lalu tertidur, lalu besoknya kita bisa membuka mata berarti Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk menikmati hidup, kan? Tuhan masih ingin agar kita berjuang lagi. Agar kita mengerti bahwa untuk bertahan hidup itu nggak mudah. Tapi Pi tetap berdoa, begitu juga kita. Harus tetap percaya bahwa akan ada akhir dari setiap apa yang kita perjuangkan. Oke, paragraf ini benar-benar opini. Monggo kalau mau diloncati.

Bab ketiga, nggak perlu lah diceritakan akhirnya gimana, toh saya yakin kebanyakan pembaca akan mengerti gimana akhir dari perjuangan Pi. Sampai sekarang saya tetap bertanya-tanya apakah ini kisah nyata atau hanya rekaan? Mungkin nggak sih ada orang yang benar-benar bisa bertahan hidup selama lebih dari tujuh bulan di Samudra Pasifik? Haruskah saya googling tentang Piscine Patel?

Ingat untuk tetap selalu semangat dan percaya sama Tuhan. Keajaiban pasti ada, pertolongan pasti akan datang.

No comments:

Post a Comment