Tuesday, 5 November 2013

Red Dragon-Thomas Harris

Will Graham kembali dipanggil dari pensiunnya untuk menangani dua kasus pembunuhan berantai yang terjadi di Atlanta dan Birmingham. Will, yang merupakan seorang polisi yang memiliki kemampuan khusus dalam memecahkan kasus-kasus pembunuhan yang hampir tidak bisa diketahui siapa pelakunya, terpaksa mengiyakan permintaan sahabatnya, Jack Crawford, polisi di Chicago untuk menyelesaikan kasus dan menemukan pelaku kasus pembunuhan berantai yang membantai dua keluarga secara keji.

Will yang sebelumnya pernah dirawat di rumah sakit jiwa karena membunuh seorang kriminal, juga pernah membantu pihak kepolisian dalam menangkap kasus pembunuhan berantai yang sebelumnya menggemparkan Chicago. Pembunuhan yang didalangi oleh seorang dokter jenius yang sosiopat, Hannibal Lecter, berhasil dipecahkan oleh Will dengan hanya mengandalkan sedikit petunjuk dan nalurinya, tetapi akibatnya Will harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari setelah berhadapan dengan dr. Hannibal, si sosiopat.

Dua keluarga yang dibantai oleh pelaku—yang disebut ‘Peri Gigi’ oleh kepolisian Chicago—Keluarga Jacobi dan Keluarga Leeds tidak memiliki persamaan, sehingga kepolisian Chicago sempat memusingkan motif yang digunakan pelaku dalam menghabisi nyawa setiap anggota Keluarga Jacobi dan Leeds. Hanya saja, sebelum membantai kedua keluarga, pelaku sempat mengawasi keduanya dengan membunuh piaraan mereka sehari sebelum menghabisi keduanya. Walaupun meninggalkan kesan bahwa si pelaku akan susah ditemukan, tetapi si pelaku malah meninggalkan banyak jejak di lokasi kejadian, seperti cetakan gigi pada keju yang diambilnya dari kulkas Keluarga Leeds dan menempelkan sidik jarinya sendiri di beberapa benda. Will Graham yang seakan-akan menemukan jalan buntu mengenai kasus ini akhirnya memutuskan untuk menemui orang yang amat dihindarinya, yang membuatnya terkapar berhari-hari di rumah sakit, dan membuatnya pensiun dari kepolisian, Will memutuskan untuk menemui dr. Hannibal si sosiopat di penjara khusus kriminal.

Sementara itu, Francis Dolarhyde, pekerja di sebuah studio kamera di St. Louis harus berusaha untuk menutupi kekurangan dirinya. Giginya yang tak rata, yang sedikit sumbing dan membuatnya kesulitan dalam mengucapkan huruf tertentu, sebenarnya merupakan satu-satunya kelemahan dirinya, tetapi sedari kecil ia selalu mengalami kemalangan dalam hidupnya. Ia lahir tanpa mengetahui ayahnya yang sebenarnya, dan ibunya langsung meninggalkannya begitu dokter yang membantu persalinannya mengabarkan bahwa anaknya memiliki sedikit cacat pada mulutnya. Selama enam tahun, Francis tinggal di panti asuhan dan akhirnya neneknya, ibu dari ibunya mengambilnya dan merawatnya. Hidup dengan neneknya pun juga tak seindah yang bisa dibayangkan Francis, neneknya kerap mengancam akan memotong alat kelamin Francis jika ia nakal, orang-orang kerap menolaknya karena ia cacat, akibatnya Francis melampiaskan amarahnya pada ayam-ayam neneknya. Kebiasannya itu terus berlanjut hingga ia melihat sebuah mahakarya agung seorang pelukis yang diberi judul ‘Naga Merah dan Gadis yang Bermandikan Matahari’. Francis seakan terhipnotis oleh lukisan tersebut, ia seakan menganggap Naga Merah pada lukisan tersebut adalah tuhan, dan semenjak ia memiliki lukisan tersebut kegemaran Francis dalam membunuh hewan semakin menjadi-jadi, dan mengakibatkan tewasnya anggota Keluarga Jacobi dan Leeds.

Sementara itu, Will Graham masih menemukan kesulitan dalam menemukan jejak mengenai pelaku pembunuhan, dan waktu terus berlalu sampai terjadi pembunuhan serupa yang dilakukan Francis. Will terpaksa bekerja ekstra keras sebelum Francis menghabisi korban ketiga yang ditargetkan pada saat purnama selanjutnya oleh Kepolisian Chicago. Di luar dugaan, Francis Dolarhyde si pelaku ternyata mengirim surat kepada dr. Hannibal yang juga merupakan idolanya. Tak disangka, dr. Hannibal ternyata membalas surat Francis yang berisi semacam perintah yang dapat mengancam keluarga kecil Will Graham.

Beberapa mungkin sudah melihat film ‘Hannibal’ dan ‘Hannibal Rising’, dan juga sekuelnya ‘Silence of the Lamb’ yang menceritakan tentang si dokter sosiopat, Hannibal Lecter, tetapi mengenai film ‘Red Dragon’, sepertinya belum ada yang nonton, atau mungkin filmnya nggak dibuat, ya?

Kisahnya mungkin di luar dari nama besar dr. Hannibal, kalo dilihat dari porsi munculnya si tokoh, buku ini lebih menceritakan mengenai Will Graham dan penyelidikannya dan juga mengenai Francis Dolarhyde dan kegilaannya. Kisah tentang Will lebih mendeskripsikan mengenai aktivitas Will saat ini, maksudnya saat menyelidiki kasus yang sedang berlangsung, sedikit sekali kisah flashback atau cerita masa lalu mengenai Will Graham dan perjalanannya sebelum berakhir menangani kasus yang dilakukan Francis. Sementara itu, kisah mengenai Francis, bisa dibilang lebih detail dan lebih mengena ke pembaca. Jadi, kalo menurut saya, kisah tentang Francis ini lebih menarik buat diikuti daripada kisah pengejaran pelaku itu sendiri. Kisah Francis yang penuh kesedihan lumayan bisa memancing rasa iba dan simpati saya (ya, emang dasar sayanya yang nggak tegaan liat atau denger atau baca tentang anak kecil yang disiksa-siksa, sih. hehehe). Cerita tentang Francis kecil lebih bikin saya paham tentang sifat psikopat Francis daripada ketika Francisnya jadi orang dewasa, kalo di cerita sifat psikopat Francis muncul karena ia lihat lukisan sih, menurut saya agak sedikit konyol. Lukisan itu bisa aja sih Cuma jadi pemantik aja, sedangkan Francis emang dari kecil udah punya sifat psikopat.

Secara keseluruhan, baca buku ini sama kayak liat film action yang marak banget tayang di bioskop-bioskop, penjahat yang nggak ngasih petunjuk satu pun ke kepolisian, polisi pontang-panting nyari pelaku, pelaku tiba-tiba memutuskan untuk bunuh diri karena udah merasa tersudut, kasus ditutup karena pelaku udah mati, tapi nggak disangka-sangka ternyata pelakunya masih hidup dan balas dendam ke polisi, lalu polisi bikin aksi heroik, sampai akhirnya si pelaku benar-benar mati. Ya, bener, drama banget, kan? Ketika sampai di cerita tentang Francis yang seolah-olah bunuh diri itu, saya pikir kasusnya selesai dan cerita tentang Francis benar-benar ditutup, dan saya sedikit kecewa karena mikirnya ‘Yah, mati bunuh diri, nggak seru banget’ dan saya bener-bener bayangin aksi yang heroik ketika kepolisian menangkap Francis. Tetapi ketika di bagian itu, dan ngeliat halaman sisanya ternyata masih banyak, berarti akan ada aksi tambahan yang dilakukan Will Graham, karena nggak mungkin halaman sebanyak itu diabisin buat nyeritain endingnya buku (bisa bosen, cyin, yang baca). Tapi, walaupun terkesan umum banget plotnya, tapi ceritanya masih tetap saja bikin saya deg-degan. Mungkin emang sengaja dibikin seperti itu, sih, biar pembacanya mau mbalik halaman bukunya sampai selesai (dan saya udah selesai, yeeeeaaaaaah!).

Oh ya, tentang aksi di buku ini, beberapa orang yang nggak biasa baca buku tentang pembunuhan, ataupun aksi-aksi yang keras, saya saranin banget-banget buat nggak baca buku ini. Karena adegan pembunuhan atau apapun itu yang dilakukan oleh Francis benar-benar kesannya keras banget, mengerikan, dan—kalo anda merupakan orang yang perasa—bener-bener bisa bikin takut karena bayangin adegan yang dilakukan Francis pada korban (well, karena saya sukanya membayangkan adegan yang ada di buku, jadi begitulah).

Sebenarnya, kesan kalo buku ini memiliki kisah yang ‘menakutkan’ udah bisa langsung dilihat dari posternya yang full warna merah (well, gimana-gimana, merah kan warna yang bisa menggambarkan—nggak tau, ya—dendam, amarah, sifat keji, dan begitulah). Covernya merah di mana-mana, dan meyakinkan banget kalo novel ini pasti sifatnya horor dan thrilling, gitu. Walaupun gambar depannya, menurut saya sih, agak nggak jelas apakah itu tanduknya naga, atau leher naga, atau punggung naga, atau perut naga, atau malah ekor naga, tetep aja sih kesannya horor dan menakutkan begitu.

DSC_0037

Cerita yang bagus, aksi yang keren dan menakutkan, penokohan yang detail dan dalam, hanya sayang sekali editorial buku ini masih nggak rapi. Ada banyak kesalahan pengetikan yang bisa saya temukan di buku ini. Walaupun nggak mengubah alur ceerita dan nggak bikin pembaca kebingungan, tetap saja kesalahan editorial masih bisa dibilang pengganggu menurut saya. Well, bagaimanapun juga tetap baca kisahnya, dan siap-siap buat bermimpi buruk.

p.s.: dibaca pas malem-malem nggak papa kok, nggak akan ada sesuatu yang muncul dari lemari pakaianmu ataupun kolong tempat tidurmu. Hahahaha.

No comments:

Post a Comment