Monday, 6 February 2017

Cerita Calon Arang-Pramoedya Ananta Toer

Cerita Calon ArangCerita Calon Arang oleh Pramoedya Ananta Toer

Judul asli: Cerita Calon Arang

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara

Tahun terbit: September 2015 (cetakan kesembilan)

Terbit pertama kali oleh N.V. Nusantara (1954)

ISBN: 978-979-973-121-0

Bahasa: Indonesia

Format: Paperback

Harga: Rp.50.000 (Gramedia)

Rating: 3/5

Adalah sebuah negara. Daha namanya. Daha yang dahulu itu kini bernama Kediri. Negara itu berpenduduk banyak. Dan rata-rata penduduk makmur. (hal. 11)

Di Negara Daha itulah Raja Erlangga memerintah. Ia memerintah dengan bijaksanan dan adil, rakyatnya hidup tentram serta damai. Tetapi di sebuah dusun di Daha, di Dusun Girah namanya, hiduplah seorang wanita dengan anaknya. Calon Arang nama wanita tersebut, dan Ratna Manggali nama anaknya. Semua orang sudah tahu dan paham seberapa dahsyat kekuatan Calon Arang, ia tak hanya berperangai buruk tapi juga seorang tukang teluh, membabat dan menghabisi musuh-musuhnya adalah perkara mudah baginya. Oleh karena itu, sekalipun Ratna Manggali adalah anak yang baik, penyayang, lagi rupawan, tidak ada seorang pemuda pun yang mau memperistrinya karena takut pada ibu Ratna Manggali. Akhirnya Ratna Manggali menjadi buah bibir orang-orang dusun karena tak kunjung dipersunting oleh seorang lelaki. Desas-desus tersebut sampai juga ke telinga ibunya, Calon Arang, marahlah ia terhadap kabar tersebut, dan ia bermaksud mencelakakan semua orang di dusun bahkan di Negara Daha juga. Bersama dengan keempat muridnya yang juga buruk rupa dan sakti, Calon Arang menyebarkan sihirnya, semua orang mati dan menderita dibuatnya. Sihir Calon Arang yang tidak memasuki ibukota Daha membuat cemas Raja Erlangga, harus ada yang bisa menghentikan Calon Arang kalau tidak semua orang bisa mati dan Daha akan tidak berpenduduk.

DSC_0109

Cerita Calon Arang sebenarnya merupakan dongeng yang sudah hidup sejak lama. Menurut penulis melalui catatannya (hal. 8), ‘Cerita ini dikarang pada tahun Caka 1462.’ Dongeng tersebut kemudian berkembang, dan diceritakan kembali oleh beberapa penulis, salah satunya adalah Pramoedya Ananta Toer, agar tidak hilang begitu saja dan dapat diceritakan dan diturunkan hingga beberapa generasi dan diambil sari maupun pelajaran baik dalam cerita tersebut.

Mendengar nama penulis yang sudah terkenal hingga ke berbagai negara di dunia, kita akan selalu mengingat beliau dengan tulisannya yang kritis terhadap pemerintahan. Tulisan beliau diapresiasi oleh banyak pihak dari belahan negara di dunia, melalui penghargaan-penghargaan maupun diterbitkannya buku-buku beliau oleh penerbit dari luar negeri. Tulisan beliau yang selalu menggambarkan kondisi masyarakat dan pemerintahan seakan menjadi pengingat bahwa rakyat sesungguhnya menyimpan kekuatan besar untuk melawan tirani dan ketidak-adilan. Novel dan romannya yang sebagian besar berlatar pada pemerintahan Belanda dan kolonialisme seakan memberi informasi dan wawasan baru mengenai sisi lain dan kehidupan rakyat dari berbagai kalangan dan derajat sosial pada masa tersebut. Tulisan beliau seakan menjadi pengingat dan penggerak bagi rakyat bahwa sebagai anggota dari suatu pemerintahan, kita tidak boleh hanya diam saja, kita harus dapat berpikir kritis dan tidak boleh ikut takut dan merasa tertindas oleh tirani dan ketidak-adilan.

963139

Tetapi dalam buku ini, pembaca tidak akan menemui tulisan khas beliau mengenai pemerintahan kolonial, pembaca hanya disuguhkan sebuah dongeng. Ya, dongeng, yang sebenarnya juga bisa dibaca dan dipahami oleh murid sekolah dasar. Dongengnya ditulis dengan gaya dan bahasa yang sangat sederhana. Tokoh yang diperkenalkan pun juga tidak terlalu banyak, apalagi tokoh-tokoh utama yang memegang peran penting bisa dikerucutkan lagi menjadi lebih sedikit, jadi saya rasa untuk sebuah buku sastra, buku ini termasuk yang mudah dipahami oleh pembaca dari kalangan manapun. Pertama, pembaca akan diberikan deskripsi mengenai sebuah negeri yang makmur dan tokoh protagonis yang menjadi idola dari rakyat negeri tersebut, yang menjadi panutan dan contoh sebagai seorang pemimpin yang adil. Bab kedua dan ketiga pembaca akan diberikan deskripsi mengenai tokoh antagonis utama dan pahlawan yang akan mengalahkan penjahat tersebut. Detail mengenai penggambaran tokoh Calon Arang juga digambarkan dengan efisien dan sederhana, yang perlu diketahui oleh pembaca adalah bahwa Calon Arang adalah janda tua yang jahat lagi sakti ilmu hitamnya. Semua musuhnya dibabat habis. Lalu Empu Baradah adalah pahlawan kita yang akan mengalahkan Calon Arang. Empu Baradah sendiri sebenarnya memiliki konflik tersendiri dengan keluarganya, ia baru mengetahui bahwa Daha dalam masalah serius akibat teluh Calon Arang setelah ia kembali dari pertapaannya yang berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Untuk ukuran sebuah dongeng yang bisa dibaca oleh semua kalangan usia, menurut saya dongeng ini tergolong cukup lambat, penulis memberikan rincian yang cukup panjang terhadap kehidupan tiap tokoh yang sebenarnya bisa dihilangkan dan nggak terlalu memengaruhi jalan cerita yang berhubungan dengan tokoh Calon Arang. Mungkin kalau deskripsi tentang kehidupan para tokoh dihilangkan, bisa-bisa dongeng ini malah berakhir di buku kumpulan cerpen dengan dua atau tiga halaman mungkin, ya. Walaupun sifatnya hanya dongeng, melalui catatannya penerbit menuliskan bahwa Calon Arang bisa jadi penggambaran tokoh politik dari manapun, sifatnya keji dan tamak membuatnya berkeinginan untuk selalu menjadi pemenang. Semua musuhnya dibabat habis dan disingkirkan dengan mudah. Nah, bukankah itu menggambarkan bahwa dalam dunia politik pada kenyataan, seringnya kita juga menemukan pelaku politik yang melakukan dan menghalalkan semua cara supaya musuhnya tumbang. Tapi, pada akhirnya kebaikan dan kebenaran lah yang akan menang, entah berapa lama kita harus menunggu tapi yakinlah bahwa kebaikan akan menghancurkan hal jahat.

51vdeNcRDjL._SX296_BO1,204,203,200_

Satu hal lain yang menggelitik adalah, adanya kritik dari berbagai sumber (yang sepertinya adalah wanita) yang mempermasalahkan gender si tokoh jahat. Kenapa harus wanita? Dan kenapa bisa sejahat itu? Tokoh Calon Arang seakan menyinggung wanita bahwa sifat wanita itu bisa menjadi sangat buruk dan jahat jika semua orang tidak setuju dengan keinginannya. Dan, dari catatannya pula penerbit menerangkan bahwa buku ini merupakan gambaran bahwa kejahatan sesungguhnya tidak mengenal gender, siapapun jika hatinya tidak kuat bisa menjadi pelaku kejahatan dan mudah terhasut.

Oke, jadi itulah ulasan saya mengenai Cerita Calon Arang yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Selanjutnya, saya mungkin akan mencara buku lain mengenai Calon Arang yang diceritakan oleh penulis maupun pendongeng lainnya. Ringkasnya, buku ini jika dibaca oleh anak-anak akan menjadi dongeng menarik yang mengajarkan bahwa pada akhirnya kebaikan akan selalu mengalahkan keburukan. Dan bagi orang dewasa, mereka akan selalu mendapatkan moral dari cerita ini sesuai dengan pandangan dan hal yang mereka ingin lihat masing-masing.

1 comment:

  1. wahh baru tau kalau Pramoedya pernah nulis dongeng juga.. selama ini cuma taunya tulisan2 yang bertema sosial/politik aja... nice review!

    ReplyDelete