Saturday, 24 September 2016

Tidak Ada New York Hari Ini-M. Aan Mansyur

29801264Tidak Ada New York Hari Ini oleh M. Aan Mansyur

 

Mulai dibaca: 04 Agustus 2016

Selesai dibaca: Hari yang sama

 

Judul asli: Tidak Ada New York Hari Ini

Penulis: M. Aan Mansyur

Foto oleh: Mo Riza

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: Mei 2016

Tebal buku: 118 halaman

Bahasa: Indonesia

Format: Paperback

Harga: Rp.52.000 (Gramedia)

 

Rating: 3/5

 

Hari-hari membakar habis diriku.

Setiap kali aku ingin mengumpulkan

tumpukan abuku sendiri, jari-jariku

berubah jadi badai angin.

 

Dan aku mengerti mengapa cinta diciptakan (Cinta, hal. 6)

 

Sebelum memberikan ulasan mengenai buku kumpulan puisi ini, saya akan ceritakan beberapa fakta—yang nggak terlalu—menarik—sebenarnya—tentang buku ini. Jadi, di toko buku tempat saya bekerja, sebelum buku ini benar-benar mendarat dan terpampang di rak pajangan, saya bolak-balik dapat pesanan, baik yang pesan langsung dengan mendatangi Customer Service toko saya maupun yang pesan melalui telepon atau media komunikasi lainnya, untuk buku ini saja. Hingga akhirnya buku ini pun sukses mendarat dan terpampang di rak pajangan. Tetapi, lagi-lagi saya harus kebingungan karena ternyata toko saya hanya mendapat stok yang sangat sedikit untuk buku ini. Jangan ditanya lagi, deh, buku ini habis dalam berapa hari. Jangankan satu hari, dalam beberapa jam sejak teman-teman saya memajang buku ini, buku ini udah ludes di toko. Dan itu belum saya simpankan untuk yang memesan buku ini sebelumnya. Setelah buku ini terbit pun pesanan terus bertambah, nggak ada hentinya. Perlu waktu beberapa minggu rasanya sebelum toko saya akhirnya dapat stok yang diinginkan dan memenuhi pesanan-pesanan.

 

Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu,

Jurang antara kebodohan dan keinginanku

memilikimu sekali lagi. (Batas, hal. 46)

 

Pertanyaan, kenapa, sih, buku ini sampai sebegitunya? Sebenarnya, apa yang membuat buku ini laris manis dan diminati banyak banget orang? Yang pertama, mungkin saja karena faktor penulis. Saya tahu penulis dari bukunya yang bejudul ‘Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi’ dan ‘Melihat Api Bekerja’, bahasanya yang lembut dan terkesan sendu memikat banyak hati terutama—mungkin—wanita, apalagi wanita yang sangat menyukai kata-kata yang manis.

 

Sepasang matamu, bencana raksasa di kejauhan.

Tidak berhenti membuat hidupku jadi

benda kecil yang memiliki hati. (Sepasang Matamu, hal. 62)

 

P_20160924_082911

 

Buku kumpulan puisinya, ‘Melihat Api Bekerja’, mungkin tidak memiliki bahasa yang puitis atau bahasa yang biasanya digunakan oleh penulis puisi terdahulu, tetapi penulis tetap bisa menyampaikan realita dan manis-getirnya hidup dengan bahasanya. Jadi, ketika buku ini terbit para penggemar puisi Mas Aan langsung menyerbu toko buku. Tapi rasanya hal tersebut bukan faktor terpenting mengapa buku ini memiliki peminat yang banyak. Dan faktor yang terpenting adalah...

 

Sebelumnya lagi. Mulai tahun lalu—rasanya—masyarakat—terutama yang generasi 90-an, nih—dihebohkan dengan isu akan ditayangkannya sekuel dari film drama romantis yang cukup melegenda di tahun 2000-an. Film tersebut, langsung maupun tidak, memengaruhi anak-anak muda generasi 90-an dalam banyak hal, gaya berbicara, gaya berpakaian, gaya hidup, apapun pokoknya. Yep, saya sedang membicarakan film ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ (AADC). Jadi, ketika isu sekuel AADC diluncurkan, reaksinya pun buanyak banget, yang pasti--menurut saya--publik sangat antusias menunggu tayangnya film yang diberi judul ‘Ada Apa Dengan Cinta? 2’ (AADC 2). Nah, setelah mendapat isu tersebut, publik akhirnya mendapatkan tanggal yang pasti mengenai tayangnya AADC 2. Sebelum itu, publik juga diberikan informasi menarik terkait film AADC 2. Rencananya puisi-puisi Rangga dalam film AADC 2 akan dibukukan dan diterbitkan! Tentu saja penulisnya bukan si charming Rangga ataupun aktor yang memerankannya. Melalui tangan penulis andal M. Aan Mansyur, ia membuat seakan inilah puisi yang ditulis oleh Rangga.

 

Aku bagai menyelami

sepasang kolam yang dalam dan diam

di kelam wajahmu (Pagi di Central Park, hal. 23)

 

Dan kira-kira itulah mengapa buku ini bisa ikutan mendapat reaksi yang nggak kalah heboh dengan film AADC 2.

 

Ada-Apa-Dengan-Cinta-2-2Find yourself a boyfriend who will look at you the way Rangga look at Cinta Open-mouthed smile (Salah satu adegan dalam AADC 2)

 

Dalam buku ini, penulis memosisikan dirinya sebagai Rangga yang sempat merasakan kehidupan Kota New York. Penulis berusaha memosisikan diri sebagai Rangga yang sifatnya pendiam, pasif, sendu, lembut, dan sedikit puitis, sehingga akhirnya pembaca seakan terbawa bahwa puisi-puisi dalam buku ini adalah murni hasil karya Rangga si charming. Menurut saya, perkara gampang bagi penulis untuk menciptakan sebuah puisi yang seolah-olah ditulis oleh tokoh yang sentimentil. Menurut saya lagi, baik penulis maupun tokoh Rangga memiliki karakter yang sama, sama-sama sendu menurut saya, sehingga penulis tinggal mengambil topik yang sesuai dengan latar yang digunakan dalam film.

 

Di tempat jauh tidak ada masa lalu.

jarak antara kenangan dan masa depan

ialah keterpisahan laut dan kalut di dada

yang berusaha tidak meluap di mata. (Di Tempat Jauh Tidak Ada Masa Lalu, hal. 51)

 

Isi puisi, gaya, dan bahasanya kurang lebih sama dengan buku puisi yang sebelumnya saya baca, ‘Melihat Api Bekerja’. Bahasa yang digunakan masih menggunakan Bahasa Indonesia yang lembut dan terkesan sendu sehingga dari situlah sifat puitisnya muncul. Bahasanya sederhana walaupun merupakan bahasa yang umumnya tidak digunakan dalam percakapan sehari-hari orang-orang masa kini, gaya puisinya juga tidak berbelit-belit karena ini merupakan kumpulan puisi modern, tapi tetap tidak kehilangan keindahan dari sifat puisi yang sudah pernah kita pelajari sebelumnya.

 

Kau bisa putus mencintaiku. Tiba-tiba. Kau tidak butuh alasan selain kau mampu melakukannya. Dan, kenapa tidak. Kau bisa pergi. Begitu saja. (Ciuman Perpisahan, hal. 91)

 

Puisi-puisi yang ada dalam buku ini pun relatif singkat, rata-rata hanya terdiri dari dua bait, tetapi tetap memberikan kesan puitis untuk pembaca. Puisi-puisi dengan bait lebih dari dua, lebih banyak menambahkan deskripsi-deskripsi tentang keadaan sekeliling Rangga, namun tetap berkisar pada satu topik utama.

 

Buku dibuka dengan puisi pertama berjudul ‘Cinta’ yang seolah menegaskan topik paling utama dari kumpulan puisi yang ada di buku ini. Dilanjutkan dengan puisi berjudul ‘Tidak Ada New York Hari Ini’ yang juga menjadi judul buku dan yang menjadi katrol bagi sutradara film dalam mengenalkan film AADC 2.

 

Tidak ada New York hari ini.

Tidak ada New York kemarin.

Aku sendirian dan tidak berada di sini.

Semua orang adalah orang lain. (Tidak Ada New York Hari Ini, hal. 10)

 

‘Tidak Ada New York Hari Ini’ seolah menggambarkan keadaan Rangga ketika berada di New York, tentang kesepiannya dan rasa rindu. Puisi lainnya yang judulnya mencatut tempat di New York adalah ‘Pagi di Central Park’ yang sebagian besar mendeskripsikan tentang tempat tersebut. Sebetulnya, puisi lainnya juga mendeskripsikan keadaan New York, walaupun ujung-ujungnya tetap saja menceritakan perasaan penulis kepada seseorang, atau sesuatu. Puisi-puisi tersebut seolah menegaskan bahwa penulis telah cukup lama tinggal di New York dilihat dari deskripsi tempat yang diberikan oleh penulis, walaupun deskripsinya hanya sekadar ‘di taman kota’, ‘jalan-jalan’, ‘toko’, ‘di kafe itu’, ‘di beranda belakang’.

 

Sebenarnya, dari berbagai puisi yang ada di buku, dengan judul, topik, deskripsi, dan latar yang berbeda-beda, pembaca tetap akan menemukan benang merah yang jelas yang menjadi penghubung dari setiap puisi dalam buku ini. Menurut saya, puisi ini jelas menceritakan tentang kerinduan Rangga kepada seseorang, kepada Cinta, mungkin, atau apapun. Ya, menurut saya puisi-puisi yang ada di buku ini, walaupun memberikan deskripsi yang apik dan detil sekalipun tentang keadaan di New York, muaranya tetap ke rasa rindu yang ada pada hati Rangga. Nah, nah, deskripsi penulis yang detil itu, karena pemilihan kata yang tepat sehingga terbaca seperti sebuah kalimat yang lembut, ditambah dengan gaya bahasa yang dibuat sesendu mungkin, itulah yang sebenaarnya membuat saya menyimpulkan bahwa puisi-puisi yang ada di buku ini menceritakan tentang kerinduan. Membaca puisi ini, pembaca nggak hanya dibuat untuk merasakan rasa rindunya si Rangga, tapi pembaca seperti dibawa untuk merasakan lagi sebuah kerinduan terhadap sesuatu, pembaca seperti diingatkan kembali mengenai seseorang yang—mungkin—sangat atau setidaknya pernah sangat berarti dalam hidup pembaca. Melalui buku ini, saya menyadari bahwa rasa rindu itu kadang bisa begitu—entahlah—indah(?), rasanya ketika kita merindukan seseorang hal-hal yang ada di sekeliling kita dengan mudahnya mengingatkan kita pada seseorang, dan bahwa seseorang yang ada di benak kita punya keindahan yang unik. Nah, seperti kata-kata yang digunakan masih kurang menggambarkan betapa kelamnya rasa rindu itu, penulis juga menambah kelam dengan foto-foto yang ditangkap oleh fotografer Mo Riza yang semuanya bernuansa Black & White, seakan menambah kesenduan dan rasa sepi yang ada pada Rangga.

 

P_20160924_094754

 

Foto-foto yang diambil semakin menegaskan nuansa Kota New York yang dinamis, sibuk, tapi juga tidak simpatik. Beberapa gambar diambil di kereta yang seakan menggambarkan bahwa para penduduk New York menghabiskan waktunya di kereta yang membawa mereka ke sana kemari.

 

P_20160924_094806

 

P_20160924_094829

 

Ada penggalan puisi dalam buku ini yang paling banyak dibagikan oleh teman saya di media sosial apapun, menurut mereka penggalan tersebut memberikan kesan yang dalam di hati mereka tentang seseorang. Well, tak terkecuali saya, saya pun menyukai penggalan yang banyak bertebaran di media sosial tersebut, rasanya penggalan tersebut sangat mewakili seseorang yang lekat di pikiran masing-masing orang yang membaca penggalan tersebut. Dan sejujurnya (well, sebenarnya saya benci mengatakan ini), ketika saya membaca puisinya setelah keseluruhan, entah mengapa rasanya antusiasme saya rasanya sedikit menurun. Mungkin karena saya yang kurang memahami penulis yang kadang menganalogikan—misal—tokoh ‘kamu’ dengan sesuatu yang hanya penulis yang mengerti.

 

Kau yang panas di kening. Kau yang dingin di kenang. (Tidak Ada New York Hari Ini, hal. 10)

 

Overall, buku ini memang pas banget kalau diberi nuansa kelabu, pembaca pasti akan langsung mengerti bagaimana nuansa isi buku ini, dan pembaca mau tidak mau pasti akan terhanyut dalam rasa rindu Rangga selama di New York.

 

Di luar harapan, tiada yang pasti. Tiada. (Jika Malam Terlalu Dalam, hal. 113)

No comments:

Post a Comment