Monday, 18 July 2016

Bekisar Merah-Ahmad Tohari

tumblr_njkf6eO9WG1sij3vyo1_400Bekisar Merah oleh Ahmad Tohari

Mulai dibaca: 25 Mei 2016

Selesai dibaca: 08 Juni 2016

Judul: Bekisar Merah

Penulis: Ahmad Tohari

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Desain sampul: Lambok Hutabarat

Tebal buku: 356 hal.

Bahasa: Indonesia

Format: Paper Back

ISBN:978-979-226-632-0

 

Rating: 4/5

Bekisar adalah unggas elok, hasil kawin silang antara ayam hutan dan atam biasa yang sering menjadi hiasan rumah orang-orang kaya.

Lasi, gadis desa yang amat rupawan, hidup di Karangsoga di mana mayoritas penduduknya yang laki-laki bekerja sebagai penyadap nira, termasuk suaminya. Tiap hari suaminya memanjat belasan pohon kelapa yang amat tinggi, jauh dari tanah, menantang maut, hanya untuk menyadap nira yang nantinya setelah diolah akan dijual ke tengkulak dengan harga yang sangat murah.

Mbok Wiryaji bergerak perlahan dan duduk di sebelah Lasi. Dengan mata sayu dipandangnya anaknya yang tetap membisu. Dalam hati Mbok Wiryaji bangga akan anaknya; kulitnya bersih dengan rambut hitam lurus yang sangat lebat dan badannya lebih besar daripada anak-anak sebayanya. Tungkainya lurus dan berisi. Dan siapa saja akan percaya kelak Lasi akan tumbuh jadi gadis cantik. (hal.29)

Tetapi kehidupan pernikahan mereka akhirnya goyah setelah Lasi mengetahui bahwa suaminya telah menghamili gadis lain di desanya. Lasi kabur ke Jakarta dan bertemu dengan Bu Lanting yang merupakan seorang mucikari untuk para pejabat dan orang-orang penting. Bu Lanting pun membawa pulang Lasi, membelikan Lasi bermacam-macam benda menarik, merawat dan mendandaninya, memberinya makan yang terbaik sehingga Lasi ‘layak dijual’. Usaha Bu Lanting membuahkan hasil, Pak Handarbeni direktur sebuah perusahaan besar terpesona pada Lasi. Tak butuh waktu lama bagi Pak Han maupun Bu Lanting untuk merayu Lasi agar ia mau menikah dengan Pak Han. Pak Han sudah menyiapkan semuanya termasuk rumah megah untuk Lasi, ditambah lagi Lasi merasa berutang budi pada Bu Lanting karena telah merawatnya. Tapi, di tengah kemewahan yang Lasi dapatkan dari Pak Han, ia tak merasakan kebahagiaan sama sekali. Pernikahannya hanya main-main belaka, terbukti ketika Pak Han, tanpa persetujuannya, malah menceraikannya dan menyerahkannya pada Bambung, seseorang yang sangat berpengaruh di pemerintahan.

“Eh, kamu nggak ngerti juga? Dengar, Las. Aku juga sudah bicara dengan Mas Handarbeni. Dia sudah memutuskan melepaskan kamu dan membiarkan kamu jadi milik Pak Bambung.” (hal. 276)

Karena tak mau lagi merasakan pernikahan yang tidak serius, Lasi memutuskan untuk kabur dan menikah siri dengan cinta pertamanya, Kanjat, yang telah menjadi dosen. Tapi Lasi, masih belum memahami seberapa besar pengaruh Bambung dalam negeri ini, jangankan untuk membuat seseorang menjadi direktur sebuah perusahaan, menyeret Lasi dan menjatuhkan Kanjat tentulah hal yang mudah baginya.

P_20160630_105458

Waktu pertama kali membaca ulasan buku ini di koran lokal, saya langsung tertarik. Dude, saya selalu tertarik dengan cerita pernikahan yang berbelit-belit seperti yang dialami Lasi. Entah kenapa baru tahun lalu saya membeli buku ini, dan tahun ini tuntas membacanya. Beruntung sekali, ketertarikan saya nggak berubah menjadi kekecewaan, karena buku ini menyajikan sebuah cerita yang—sebenarnya—ironis tapi enjoyable.

Dengan kata-kata sederhana itu sebenarnya Lasi sedang mempertanyakan makna keberadaannya yang semakin tidak jelas, terutama mengenai status perkawinannya. Kemarin Lasi masih merasa jadi Nyonya Handarbeni. Sekarang dia sudah jadi milik Bambung. (hal. 278)

Seperti biasa, Ahmad Tohari memberikan cerita yang bersuasana di pedesaan yang lingkungannya selalu digambarkan sebagai tempat yang asri, nyaman, dan damai, dengan penduduk yang hidup miskin sejak lahir, berpendidikan dan pekerjaan rendah, dengan upah harian yang hanya cukup untuk satu orang untuk satu hari saja. Di buku ini, penulis membawa kita ke Karangsoga, sebuah desa kecil yang mayoritas penduduk laki-laki dewasanya  bekerja sebagai penyadap nira. Dan, seperti novel-novel sebelumnya, gaya bahasa dan bercerita yang sederhana dan apa adanya merupakan nilai plus bagi buku ini.

Karangsoga tetap adhem-ayem seperti biasa, tenang, seolah kemiskinan para penyadap di sana adalah kenyataan yang sudah dikemas dan harus mereka terima. Malam itu pun Karangsoga tenang. Bulan yang hampir bulat leluasa mendaulat langit karena awan hanya sedikit menyaput ufuk barat. (hal. 41)

Dan hal tersebut juga sangat membantu saya untuk lebih fokus dalam mengikuti jalan ceritanya. Walaupun begitu, penulis juga tetap menambahkan deskripsi-deskripsi yang dapat memancing perasaan dan emosi pembaca ketika membaca suatu keadaan maupun kejadian tertentu, seperti misalnya ketika penulis menceritakan mengenai kehidupan Lasi di kampungnya, penulis juga menambahkan deskripsi mengenai Karangsoga sehingga tempat tersebut tampak sebagai tempat yang nyaman dan tentram dalam pikiran pembaca. Beberapa penulis akan berusaha untuk memberikan cerita yang sendu dan memikat hati pembaca, dan mereka juga mencoba memikat pembaca dengan menggunakan kata-kata yang lembut dan indah dan terkadang juga menggunakan bahasa yang  masih terdengar atau terlihat asing bagi kita, dan hal tersebut sejujurnya malah bikin saya terfokus hanya pada kata-kata yang manis dan indah tersebut, dan malah bikin saya tersesat di jalan cerita dan nggak fokus banget sama alurnya. Nah, masalah pendeskripsian nuansa di sekeliling latar cerita juga kadang-kadang bikin saya tersesat nih, saking puanjang dan terperincinya deskripsi yang diberikan oleh penulis. Nah, hal itulah yang nggak saya temukan di buku ini, malah sebaliknya hal-hal tersebut malah membuat saya makin mengagumi cerita yang diberikan oleh penulis. Penulis murni memikat saya dengan ceritanya mengenai orang-orang pedesaan atau orang miskin yang penuh ironi, dengan bahasa dan gaya bercerita yang sangat sederhana, apa adanya, dan mudah dimengerti maupun diikuti, ditambah dengan pendeskripsian suasana latar yang nggak bikin saya tersesat.

Pohon-pohon kelapa itu tumbuh di tanah lereng di antara pepohonan lain yang rapat dan rimbun. Kemiringan lereng membuat pemandangan sebberang lembah itu seperti lukisan alam gaya klasik Bali yang terpapar di dinding langit. (hal. 7)

Walaupun memberikan sebuah cerita yang sederhana dan ndeso, penulis tetap memberikan tokoh-tokoh dengan karakter yang kuat. Mari kita lihat si gadis desa nan ayu, Lasiyah.

Di bawah kesadarannya Lasi merasa jadi kepiting batu jantan dengan tangan penjepit kukuh perkasa. Ia takkan segan menggunting hingga putus leher ketiga anak lelaki itu. (hal. 26)

Dalam buku ini, Lasi cukup mewakili sosok dan karakter gadis desa pada umumnya, pendiam, pendendam, penurut, dan juga berpendidikan rendah. Tapi sikap Lasi yang terkesan memberontak, yaitu ketika ia kabur dari kampungnya begitu mengetahui bahwa suaminya menghamili gadis lain, menunjukkan bahwa ia adalah seorang wanita yang kuat, yang bisa melakukan apapun semaunya. Seorang wanita desa rasanya tidak akan berani berbuat senekat Lasi, mungkin ia akan ngambek sedikit lalu kembali ke suaminya yang tukang selingkuh. Lasi berbeda, tanpa babibu dan penjelasan dari suaminya ia langsung memutuskan untuk kabur.

Lasi kadang merasa ragu dan takut. Namun rasa sakit karena perbuatan Darsa dan lebih-lebih sakit karena merasa dirinya tidak lagi berharga untuk seorang suami, membuat tekadnya lebih pekat. Lari dan mbalelo adalah satu-satunya cara untuk melampiaskan perlawanan sekaligus membela keberadaannya. Lari dan lari meski Lasi sadar tak punya tempat untuk dituju. (hal. 62)

Lasi menunjukkan bahwa seorang wanita desa yang berpendidikan rendah bisa berkehendak semau mereka, pendidikan mereka boleh saja hanya setingkat sekolah dasar tetapi harga diri mereka bisa melebihi tingginya pohon nira yang selalu disadap oleh penduduk Karangsoga. Mungkin itu sifat Lasi  yang bisa saya teladani. Walaupun begitu aksi ngambek dan kukuh pada pendiriannya untuk tidak mau kembali lagi ke kampung maupun kepada suaminya sepertinya hanya bertahan sampai di situ saja. Ketika sudah berada di lingkungan lain, di mana ia bertemu dengan orang lain yang lebih powerful, nyalinya ciut lagi, ia kembali menjadi gadis penurut. Disuruh menikah dengan Pak Han ia menurut, menjadi seekor bekisar merah dalam sangkar megah ia patuh. Saya rasa itu juga yang menjadi masalah banyak orang, jika ia berada di lingkungan yang telah lama ia kenal, ia merasa bisa melakukan apapun sekehendaknya jika lingkungan tersebut bergerak sekan melawannya, berbeda ketika ia bertemu dengan lingkungan baru dengan beberapa orang yang lebih tinggi pangkat atau derajatnya, ia tentu akan menjadi seperti bekisar merah yang sudah takluk oleh pemburunya.

Bekisar Merahbelantik_7146

cover lama buku Bekisar Merah dan Belantik

Kalau penulis memberikan karakter yang kuat dan berpendirian teguh pada tokoh wanita, tokoh laki-laki yang ada di buku ini karakternya justru tampak lebih lemah dibandingkan tokoh perempuannya. Kesannya, tokoh laki-laki dalam buku ini berjuang ala-kadarnya, tidak sekuat tenaga, berjuang semampunya tapi rasanya tidak cukup besar untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.      Sisanya mereka hanya bergantung pada suratan nasib. Seperti yang ditunjukkan oleh suami Lasi. Suaminya harusnya merasa beruntung mendapatkan seorang istri yang cantik dan penurut seperti Lasi, tapi ia justru terbujuk juga oleh rayuan seorang hingga berujung ia menghamili gadis lain. Ketika Lasi kabur pun, bukannya menjadi seorang suami idaman yang mengharapkan istrinya yang cantik kembali, si suami malah tidak melakukan apa-apa dan terkesan hanya nrimo.

“Sudah saya bilang, sangat berat bagi saya ditinggal Lasi meskipun saya mengaku salah. Sekarang apa kira-kira usaha saya agar Lasi mau kembali?”

Eyang Mus tertawa.

“Begitu kok tanya. Gampang sekali; susul Lasi ke Jakarta dan bawa dia pulang.”

“Maksud saya, usaha batin. Menyusul Lasi ke Jakarta bagi saya tak mungkin.” (hal. 86)

Begitu pula dengan tokoh laki-laki lain yang bernama Kanjat. Kanjat jelas-jelas menyukai Lasi sejak mereka masih bocah sekolahan, hingga mereka beranjak dewasa pun Kanjat tak juga menunjukkan isi hatinya yang sesungguhnya pada Lasi. Kanjat, walaupun seorang laki-laki, yang sudah dewasa, bagi saya ia seperti seorang anak mami, masih menurut apa omongan orang tua, masih juga mengikuti stigma penduduk desa mengenai menikahi seorang janda yang ayahnya entah ke mana. Kanjat merupakan seorang laki-laki dewasa dengan pendidikan tinggi, ia bahkan bekerja sebagai dosen, tapi ia sama sekali tak bisa melawan ketika cintanya dibawa lari, Kanjat hanya bisa mengikuti suratan takdir.

Terkesan tidak masuk akal memang, bagi saya yang hidup di tengah-tengah orang kota yang super sibuk dan sama-sama memiliki pengaruh, entah laki-lakinya maupun perempuannya. Tapi ketika mengingat bahwa buku ini merupakan kisah mengenai orang pedalaman yang jauh dari ingar-bingar lalu lintas dan kemajuan teknologi, mungkin memang seperti itulah karakter orang desa pada umumnya. Secara tidak langsung buku ini memancing rasa simpati saya terhadap orang desa yang tidak bisa merasakan indahnya mendapatkan ilmu baru atau pengetahuan yang lebih maju. Tapi Lasi, maupun tokoh-tokoh lainnya, cukup membuka mata hati saya bahwa semua orang pada waktunya akan memberontak dan tidak terima ketika akhirnya ada sesuatu yang membuat mereka merasa diperlakukan dengan tidak adil. Kita hanya cukup menunggu pemicunya saja.

Sebenarnya kisah ‘Bekisar Merah’ ini masih memiliki sebuah sekuel yang berjudul ‘Belantik’, yang mengisahkan petualangan kehidupan cinta Lasi yang makin pelik dan menyusahkannya. Beruntung bagi pembaca, karena pembaca tidak perlu susah-susah mencari sekuelnya. Terbitan yang baru sudah memuat kedua kisah tersebut, ‘Bekisar Merah’ dan ‘Belantik’.

Hal yang mengganggu dalam buku ini sebenarnya sepele, atau justru merupakan masalah besar, ya, tapi sering banget saya temui sepanjang saya mengikuti cerita Lasi, kesalahan editorial seperti mengulang kata, melupakan satu huruf dalam sebuah kata. Serius, deh, hal itu mengganggu banget, setidaknya buat saya.

Well, bukan Ahmad Tohari namanya kalau tidak menyisipkan petuah yang bersifat spiritual dalam bahasa jawa. Pesan spiritualnya bersifat universal sebenarnya, walaupun Eyang Mus sudah jelas merupakan seorang muslim. Penyampaian pesan dalam bahasa jawa rasanya lebih membuat pesan terdengar—entahlah—sangat spiritual, kalau tidak bisa dikatakan mistis. Tahulah, seperti mendengar tembang lama dari pedalaman dalam bahasa daerah.

Tetapi, saya cukup suka dengan penutupnya, walaupun jalannya datar-datar saja dan tidak ada aksi heroik tambahan yang bisa membuat saya setidaknya sedikit menyukai Kanjat, saya tetap suka dengan kisah ini yang berakhir bahagia.

2012-04-02071635well, in case you wonder about Bekisar Merah

No comments:

Post a Comment