Monday, 12 October 2015

Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi-M. Aan Mansyur

Adobe Photoshop PDFLelaki Terakhir yang Menangis di Bumi oleh M. Aan Mansyur

Mulai dibaca: 17 Agustus 2015

Selesai dibaca: 28 Agustus 2015

Judul: Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi

Penulis: M. Aan Mansyur

Editor: Bernard Batubara

Penerbit: GagasMedia

Tahun terbit: 2015

Tebal buku: 260 halaman

Bahasa: Indonesia

Format: Paperback

ISBN: 978-979-780-816-7

Harga: Rp. 46.750, 00 (Pengenbuku)

Rating: 3/5

Sebelum maut merenggut nyawanya, Jiwa Matajang menuliskan sebuah kisah mengenai dirinya, masa kecilnya, dan kekasihnya. Jiwa sangat menyukai puisi dan membaca buku sehingga hal mudah baginya untuk menciptakan puisi, dan juga merebut hati wanita melalui puisi-puisi yang ia ciptakan. Pribadinya yang jarang basa-basi dan ucapannya yang sangat puitis dalam merayu wanita sangat membantunya mendapatkan gadis-gadis bahkan yang tercantik sekalipun, termasuk membantunya mendapatkan Nanti. Sejak melihat Nanti sebagai mahasiswa baru, Jiwa terpesona dengan geligi Nanti yang berderet seperti puisi yang indah, dan hal itu membuat Jiwa jatuh cinta sedalam-dalamnya pada Nanti, Nanti pun jatuh cinta dengan Jiwa, bersama Jiwa ia selalu mendapatkan puisi-puisi indah yang ia inginkan. Mereka bahagia bila bersama, mereka membangun sebuah tempat bagi pecinta buku dan kopi, hingga sebuah jurang memisahkan mereka. Nanti menikah dengan pria lain, meninggalkan Jiwa yang memilih untuk tetap terpenjara dalam geligi dan senyum Nanti dan tetap berkubang dalam genangan kenangannya dengan Nanti. Jiwa berjanji untuk selalu setia pada satu wanita, ia tak pernah mengingkarinya sampai maut merenggut nyawanya.

2015-10-12-21-41-59_deco

Waw, saya baru ngeh lho, kalau si penulis buku ini ternyata yang punya akun @hurufkecil. Sebagian besar orang Indonesia, terutama wanita, terutama wanita yang mudah baper pasti nge-follow akun twitter yang satu ini dan sesekali nge-retweet beberapa cuitan si pemilik akun. Kicauannya yang puitis dan ‘ngena’ banget itu emang bisa banget buat di-retweet sama pengikutnya. Dan saya, sejujurnya saya baru mengikuti akun @hurufkecil beberapa hari yang lalu, setelah menyadari bahwa si pemilik akun adalah juga si penulis buku ini.  Saya sih, nge-retweet-in cuitannya, sih, cuma sekadar kalau ada info tentang karya-karyanya aja. Beneran, loh.

Okay, jadi sebenarnya pembaca yang jeli melihat identitas buku ini, terutama yang doyan main twitter, apalagi mengikuti cuitan para selebtwit yang kicauannya sering ‘ngena’ dan—terkadang—nyinyir banget, pasti ngerti deh gaya cerita di buku ini seperti apa, secara penulisnya udah puitis banget, eh ternyata editornya juga termasuk penulis yang—sepertinya (‘sepertinya’ karena saya belum pernah baca bukunya sama sekali)—sudah menerbitkan cerita roman yang bikin baper terutama para gadis, yaitu Bernard Batubara a.k.a @benzbara. Dan, tadaaa, jadilah sebuah buku yang bahasanya sungguh manis dan mendayu-dayu. Sebenarnya sih, maksud dari ‘puitis’ yang saya jelaskan mengenai buku ini bukan puitis seperti dalam karya sastra yang diciptakan oleh penulis-penulis legendaris, dalam buku ini ‘puitis’ yang saya gunakan maksudnya: penulis seperti berhati-hati dan jeli dalam memilih kata-kata yang akan digunakan sehingga bahasa yang dihasilkan akan terasa sangat lembut dan halus ketika dibaca. Nah, jadi itu dia faktor utama yang membuat buku ini terasa sangat galau, pertama kata-katanya yang terbaca sangat indah dan lembut, lalu yang kedua adalah ceritanya sendiri yang selalu melibatkan kenangan dengan si mantan, wah, sepertinya topik yang sering banget bikin galau semua orang dari kalangan usia berapapun. Mendengar kata ‘kenangan’ dan ‘mantan’ di masa-masa sekarang ini memang selalu menimbulkan perasaan yang sendu, apalagi bagi penderita yang mengalami hal-hal buruk, hihihi.

Jadi, sebenarnya, buku ini pernah diterbitkan di tahun 2007, hanya saja judulnya berbeda, buku ini dulunya berjudul ‘Perempuan Rumah Kenangan’. Nah, karena suatu dan beberapa hal dan juga beberapa alasan, jadilah buku ini ditulis ulang, tapi tidak mengubah cerita yang sudah ada, jadilah buku yang lebih baru dengan judul yang lebih, well, impresive. Okay, memang lebih impresif, tapi menurut saya, sih, jelas judul yang pertama yang lebih sendu. Dan karena buku ini berisi tentang kenangan, awalnya saya mengira bahwa buku ini akan lebih cocok jika menggunakan judul yang pertama. Tapi yang jelas, kalau menggunakan judul yang pertama pasti nggak ada efek kejutannya, pembaca pasti sudah bisa menebak isi buku ini, setidaknya pembaca akan mengantisipasi ketika hendak memulai membaca kisah ini, jika penulis tetap menggunakan judul pertama. Berbeda dengan judul terbaru yang digunakan, pembaca pasti akan banyak bertanya, ‘Mengapa?’, ‘Kok bisa?’, ‘Maksudnya gimana?’, ‘Wanita macam apa?’, dan sebagainya. Dengan judul yang terbaru, rasanya penulis akan lebih bisa memberikan kejutan pada pembaca, memberikan banyak sekali penjelasan, dan cerita yang lebih panjang yang shanggup membuat pembaca merasa baper lebih lama. Ditambah dengan desain sampul yang juga sendu, di mana terlihat seorang lelaki yang sedang merenung sambil merokok, dan asapnya membentuk bayangan wajah seorang wanita berwajah sendu yang sepertinya juga mengenang beberapa pengalamannya, berbibir tebal dan berambut panjang. Benar-benar menarik, bikin penasaran, dan bikin ikutan mellow, walaupun baru melihat sampul depannya sekilas, saya rasa desain sampulnya memang menjual banget, sendu abis pokoknya.

1408139Cover Perempuan Rumah Kenangan

Keunggulan buku ini mungkin ada di gaya bahasanya yang lembut dan mudah menyentuh hati para pembacanya, saya pun mengakui bahwa penulis sangat jeli memilih-milih kata sehingga mampu menghasilkan sebuah kalimat yang ketika dibaca jadi terasa amat indah, tetapi dari segi cerita dan alurnya menurut saya sih sedikit membosankan. Saya tipe orang yang ketika diberikan sebuah karya, saya fokus pada ceritanya, saya selalu ingin tahu peristiwa di balik sebuah kejadian, pokoknya fokus utama saya selalu cerita, cerita, dan cerita, mau cerita itu diceritakan dengan gaya sebagus apapun, kalimatnya selembut dan seindah apapun, kalau saya nggak menangkap cerita tersebut, ya saya akan tetap merasa bosan. Seperti di buku ini, gaya berceritanya boleh jadi puitis dan indah, kalimatnya lembut dan mendayu-dayu juga sendu, tapi ketika mengikuti cerita dari seorang Jiwa saya kebosanan. Buku ini, sebenarnya dibentuk seperti semacam diary atau catatan harian, catatan harian dari seorang tokoh yang fiktif yang menceritakan sebuah pengalaman yang—mungkin saja—nyata. Saya sudah sering banget membaca cerita yang dibentuk seperti catatan harian, catatan perjalanan, dan berbagai catatan lainnya, beberapa memang nggak terlalu cakap dalam menceritakan detail-detail dan latar lainnya sehingga membuat saya agak kebingungan dan kebosanan, beberapa cukup cerdik memunculkan sebuah adegan yang mengejutkan sehingga saya bisa menikmati ceritanya. Sebenarnya, saya bingung mengenai kekurangan buku ini, tetapi Jiwa terus-terusan menceritakan mengenai banyak wanita dan betapa menakjubkannya seorang Nanti Kinan, lalu cerita lainnya mengenai keluarganya yang hidupnya tidak terlalu beruntung, tapi saya rasa cerita yang diberikan Jiwa seperti nggak ada konfliknya, ada sih tapi entah penulis membuatnya seakan konflik tersebut terlalu sepele, solusi yang diberikan pun juga terkesan pasrah banget, tokohnya tampak tidak berusaha keras dalam menyelesaikan konfliknya. Apapun itu, catatan harian tetaplah catatan harian. Tapi sebenarnya begini, kalau mau bahas mengenai konflik dan problem dalam buku ini, rasanya ada banyak masalah yang dihadirkan dalam buku ini, tapi sepertinya penulis lebih terfokus kepada penyajian konflik tersebut, maksudnya penulis lebih terfokus kepada cara mendeskripsikan konflik yang terjadi dalam hidup Jiwa, penulis menggunakan bahasa yang halus, yang lembut, yang tidak meletup dan berapi-api, seperti dalam memasak si penulis lebih terfokus pada penampilan masakannya, tapi penulis melupakan takaran bumbu yang harus digunakan agar masakannya tak hanya terlihat cantik tapi juga super lezat. Menurut saya—lagi-lagi—ceritanya berjalan datar-datar saja, sebenarnya sama seperti mendengarkan sebuah curahan hati sahabat saya yang kasusnya itu-itu aja. Dalam buku ini, penulis kebanyakan menceritakan pengalamannya bertemu dengan beberapa wanita yang sempat membuatnya kagum dan tertarik, yang diceritakan sih ada lima perempuan, dan itu baru yang diceritakan, sepertinya yang tidak diceritakan masih ada banyak lagi, hehehe, bener nggak, Mas Jiwa?

Tetapi, hidup selalu punya tetapi...

Dari cerita tersebut bisa disimpulkan kalau Jiwa adalah seorang lelaki yang mudah jatuh cinta, itu jelas, menurut saya Jiwa adalah tipe lelaki yang lemah terhadap pesona wanita, Jiwa jelas menyukai hal yang indah, termasuk wanita yang memesona, dan yang membuat saya heran adalah, kenapa harus pada Nanti Jiwa menambatkan jangkar hatinya?

Gadis manis itu tersenyum sambil membenarkan letak kacamata ketika aku menanyakan siapa namanya. Geliginya seperti deretan huruf puisi indah yang belum pernah bisa dituliskan satu penyair pun. Aku tidak mau keluar dari penjara itu—aku tidak mampu, lebih tepatnya. Aku terkurung dan menyukai keadaan itu. (hal. 135)

Kalau saya nilai, rasanya Mimpi lebih cocok dengan pribadi Jiwa, tetapi kenapa harus dengan Nanti, sih? Dengan Nanti, saya seperti melihat Jennifer Lawrence—yang asli—berpacaran dengan Johny Depp yang serius seperti dalam film . Bukan, bukan berarti Jiwa terlihat berpacaran dengan seseorang yang jauh lebih muda, tapi menurut  saya kalau Nanti nyata, pasti ia seperti J-Law, dihadapan orang ia memesona tapi sebenarnya ia memiliki kepribadian yang unik dan sedikit berbeda dengan yang dibayangkan orang-orang. Sedangkan bersama Mimpi, Jiwa akan terlihat seperti Bennedict Cumberbatch dengan Natalie Dormer, keduanya sama-sama aneh dan unik tapi, entah ya, terlihat lucu sekaligus sempurna bagi saya. Tapi, bukan berarti saya nggak suka dengan Nanti atau bagaimana, saya hanya penasaran, kalau semua wanita yang digambarkan oleh Jiwa dalam buku ia bilang sebagai wanita yang cantik lagi menarik, kenapa ia menjatuhkan pilihannya pada Nanti?

Kami sering membicarakan perihal-perihal sederhana. Rindu. Kenangan. Lelaki dan perempuan. Malam dan pagi. Bunga. Rokok. Nama-nama jalan dan nama-nama toko. Buku-buku tertentu. Apa saja.(hal. 185)

Satu lagi hal menarik yang membuat buku ini lebih seru, yaitu catatan kaki yang—ceritanya—ditulis oleh Nanti. Biasanya catatan kaki diberikan untuk memberikan suatu penjelasan mengenai kata atau kalimat yang kira-kira tidak dimengerti oleh pembaca. Tetapi, catatan kaki yang diberikan oleh Nanti kebanyakan merupakan komentar atas apa yang telah ditulis oleh Jiwa. Jika Jiwa menceritakan suatu kejadian, Nanti seakan menanggapi dengan memberikan komentar atau malah cerita yang berbeda berdasarkan sudut pandangnya mengenai kejadian tersebut. Bukan untuk memperjelas, sih, catatan kaki yang ditulis oleh Nanti lebih seperti menambahkan, menambal, menyetujui, atau bahkan menentang cerita yang ditulis oleh Jiwa. Adanya catatan kaki ini membuat buku ini seperti memiliki dua pencerita yang sama-sama ingin didengar, apalagi ketika catatan kakinya bersifat menentang cerita Jiwa, Nanti terlihat seperti seorang wanita yang sakit hati sekaligus iri hati melalui catatan kaki yang ia berikan, cerita yang ia tuliskan melalui catatan kaki dalam novel Jiwa, yang berdasarkan sudut pandangnya, seakan menunjukkan bahwa Jiwa sebenarnya orang yang melebih-lebihkan, orang yang delusional, Jiwa ingin menunjukkan bahwa ia bisa berhasil tanpa Nanti, kira-kira begitulah yang ingin ditunjukkan Nanti melalui catatan kakinya, menurut saya. Tetapi melalui catatan kakinya, Nanti sekaligus menampakkan dirinya sebagai wanita yang nyinyir. Menurut teman-teman saya, Nanti lebih terlihat realistis, bagi saya Nanti—bisa saja—memang benar, tapi Nanti bisa juga iri hati dengan kesuksesan Jiwa, ia ingin menunjukkan pada pembaca bahwa apa yang diraih Jiwa adalah hal biasa. Nanti bisa saja menjadi tokoh yang lebih nyata, tapi bagi saya Nanti tetap seorang wanita yang nyinyir yang—bisa jadi—menuliskan catatan kakinya dengan mencibir Jiwa terus-terusan. Apapun itu, menampilkan sebuah catatan kaki yang juga fiktif, merupakan ide yang brilian bagi saya. Baru kali ini saya menemukan sebuah novel dengan catatan kaki yang tidak memperjelas suatu kata yang sulit, tapi malah bersifat menentang cerita yang ada.

Walaupun membuat saya sedikit bosan, saya tetap menyukai kalimat-kalimat indah dan lembut yang diberikan oleh penulis. Memang bidangnya ‘@huruffkecil’ dalam menciptakan kata-kata yang sendu, yang shanggup membuat pembacanya—terutama wanita—menjadi sedikit mellow. Emm, saran saya, kalau Anda seorang wanita yang mudah terbawa perasaannya, jangan baca buku ini dulu, deh, daripada nanti Anda tidak menikmati cerita Jiwa tapi malah tenggelam dalam kenangannya sendiri, hihihi.

Ingat, jangan terlalu lama berkubang dalam kenangan, saudara-saudara, lama-lama Anda malah berkabung.

Jangan pernah menyakiti hati perempuan, terutamanya ibumu. (hal. 94)

No comments:

Post a Comment