Wednesday, 18 February 2015

The Picture of Dorian Gray-Oscar Wilde

Dorian Gray seorang pemuda yang ketampanannya bisa membuat semua orang menginginkan menjadi dirinya. Keanggunannya sanggup membuat semua orang—bahkan orang terhormat sekalipun—terpesona. Di mana-mana Dorian Gray selalu menjadi bahan pembicaraan, mengenai reputasinya yang berasal dari keluarga terpandang, tentang keanggunan dan wibawanya saat membawa diri ke masyarakat, hingga tentang wajahnya yang begitu tampan, begitu muda, dan begitu segar. Semua orang seakan-akan terpesona olehnya, termasuk Basil Hallward si pelukis. Basil begitu terobsesi akan Dorian Gray sehingga ia selalu mengundang Dorian ke rumahnya untuk dilukis, di setiap lukisan yang ia buat, Basil seakan-akan memberikan setiap jiwanya sehingga lukisannya terlihat sangat hidup dan dengan mudah menarik kekaguman bagi siapapun yang melihatnya, termasuk sang model sendiri. Lukisan Basil sangat indah, dan Dorian tahu bahwa wajah dalam lukisan tersebut tidak akan berubah dan tidak akan pernah menua, berbeda dengan dirinya yang lama-lama akan berubah menjadi seorang yang keriput dan kehilangan ketampanannya. Di depan lukisan dirinya yang menakjubkan dan si pelukis, Dorian membuat sebuah harapan, harapan yang nantinya malah mendatangkan celaka pada dirinya.

DSC_0007

Lagi-lagi novel klasik yang saya baca setelah melihat filmnya, itu pun filmnya belum benar-benar selesai ditonton. Awalnya penasarannya sih biasa aja, penasaran ceritanya seperti apa, lalu saya coba cari-cari di toko buku biasa sampai ke toko buku yang khusus menjual buku impor yang ada di Surabaya. Ternyata nggak ada, makin terpancinglah saya buat dapetin buku ini. Sudah hampir mau beli lewat toko buku online, sampai akhirnya lihat buku ini terbaring lemah di display salah satu toko buku yang jarang kasih diskon.

Sejauh ini, kisah Dorian Gray si Prince Charming ini adalah kisah klasik yang sangat serius dan cukup menakutkan, kalau saya bilang. Novel-novel klasik yang sudah saya baca kebanyakan mengangkat tema yang romantis yang manis dan sangat humanis.Kalaupun ada kisah yang serius, paling-paling tidak seseram cerita ini. Walaupun memiliki kesan yang mengerikan, tetapi buku ini tidak mengandalkan makhluk-makhluk khayal yang mengerikan seperti kisah Frankenstein. Cerita yang paling mirip mungkin kisahnya Dr. Jekyll atau Mr. Hyde, tapi di cerita Dr. Jekyll ada suatu eksperimen yang dilibatkan, sedangkan kisah Dorian Gray tidak menggunakan eksperimen apapun. Hanya mengandalkan sebuah lukisan yang kemudian memunculkan spekulasi lalu ada harapan yang diucapkan dan voila! harapanmu dikabulkan.

Ketika membaca bab pertama dari buku ini yang mengisahkan betapa terobsesinya Basil terhadap Dorian, yang ada di pikiran saya adalah bahwa si Basil ini seorang homo. Terlihat dari bagaimana dia seakan-akan memberikan jiwanya setiap kali melukis Dorian, atau bagaimana posesifnya ia ketika Lord Henry—teman Basil—meminta agar diperkenalkan pada Dorian. But that’s not the point anyway. Bahwa melihat dirimu yang ada di lukisan menua dan berubah menjadi lebih mengerikan adalah hal yang mengerikan dalam buku ini. Dorian harus mengorbankan banyak hal demi menjaga keremajaannya. Poinnya adalah, apakah kamu rela menukarkan apapun yang kamu miliki demi memiliki kemudaan dan keremajaanmu selamanya? Dan saya masih penasaran sebenarnya apa tepatnya yang membuat Dorian tetap muda dan malah lukisannya yang menua, apakah memang karena doa Dorian yang diucapkan di hadapan lukisannya dan pelukisnya ataukah faktor si pelukis yang memberikan jiwanya di lukisan itu.

Ada banyak drama dan tragedi yang bisa bikin emosi saya campur aduk, saya rasa buku ini benar-benar punya nuansa cerita yang komplit. Maksud saya ada cerita yang benar-benar bikin saya senang membacanya, di cerita lainnya saya dibuat geram olehnya, bahkan sampai dibuat bosan karena ada cerita yang nggak penting banget. Kuncinya ketika membaca buku ini adalah, kau harus benar-benar menyelesaikan buku ini untuk mengetahui nasib Dorian Gray, karena penulis memang memberikan penyelesaiannya di halaman terakhir di bab terakhir. Dan sungguh, penyelesaiannya itulah yang—menurut saya—dramatis banget. Mencengangkan. Walaupun mungkin bisa diduga oleh kebanyakan pembaca, saya yakin jalannya cukup bikin para pembaca terkejut.

Mungkin saya jadi gak berminat lagi untuk menyelesaikan filmnya walaupun bintang utamanya cukup ganteng, karena di awal film saja kelihatan sekali kalau ceritanya sangat berbeda di tambah lagi dengan beberapa adegan porno yang sangat nggak penting. Overall, bukunya memang serius sekali, nggak melibatkan tokoh fantasi, sangat humanis, menyeramkan, dan efek kejutnya yang dibikin dengan sangat brilian.

Say, people, will you give everything you have in order to keep your youth for ever? Even if it eats your soul, your conscience.

No comments:

Post a Comment