Showing posts with label Dee Lestari. Show all posts
Showing posts with label Dee Lestari. Show all posts

Sunday, 1 March 2015

Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh-Dee Lestari

Reuben dan Dimas, dua orang pemuda yang bertemu di Amerika Serikat. Reuben yang tergila-gila dengan ilmu fisika dan psikologis, dan Dimas yang memiliki jiwa pujangga. Mereka saling mencintai. Dan berdua, mereka ingin menciptakan sebuah masterpiece tetapi bukan dalam bentuk karya ilmiah melainkan dalam sebuah cerita. Berdua mereka menciptakan sebuah roman sains yang romantis dan puitis yang mereka beri judul ‘Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh’.

Sementara itu Ferre, pemuda tampan dengan karir yang cemerlang tengah jatuh cinta, dengan Rana yang seorang jurnalis majalah wanita yang telah menikah dengan pria yang menjadi impian semua wanita. Secara diam-diam mereka saling bertemu demi merajut cinta mereka walaupun hanya sekejap. Lalu hadir juga Diva, seorang peragawati top yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pelacur kelas atas. Ferre dan Rana juga Diva seakan menjadi gambaran nyata dari tokoh Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh milik Reuben dan Dimas. Dan mereka semua disatukan oleh sosok bernama Supernova.

Dude, saya bingung harus bagaimana meringkas ceritanya untuk membuka resensi saya, jadi ya begitulah jadinya. Kesannya jadi kayak pengenalan tokoh-tokohnya aja, haha maaf atas ketidakprofesionalan saya.

Saya belum sempat menonton filmnya, sih, dan ini sudah kedua kalinya saya baca buku ini. Pertama kali baca sebenarnya nggak ada kesan apapun yang tertinggal dan saya lupa kenapa waktu itu saya kasih rating hampir sempurna untuk buku ini. Dan sekarang setelah sekali lagi menamatkan buku ini, saya menurutkan ratingnya, mungkin karena sudah bisa lebih memahami jalan ceritanya.

Saya sebenarnya agak terganggu dengan penjelasan-penjelasan ilmiah ataupun wacana-wacana seputar masalah lingkungan sekitar yang dilontarkan oleh Diva, saya terpaksa tinggal baca aja tanpa berhenti sejenak untuk memahami informasi-informasi baru itu. Toh juga nggak akan merusak alur cerita juga dengan kita nggak memahami apalah itu titik bifurkasi ataupun Schroedinger (ampun Ibu Suri, kapasitas otak saya nggak cukup untuk menampung begituan). Kisah cinta Ferre dan Rana bisa jadi sangat menyentuh dan sangat romantis bagi saya, ditambah dengan munculnya Diva sebagai penengah yang memberikan percikan-percikan seperti kembang api, buku ini sebenarnya bisa jadi buku yang seru banget, seru karena kita membaca aksi kucing-kucingan Ferre dan Rana dengan suaminya Rana. Tetapi keseruan itu jadi semakin berkurang gara-gara saya juga harus membaca pelajaran fisika tingkat lanjut. Sebenarnya bisa saja, sih, bacaan tentang hal-hal ilmiah itu saya skip, tetapi entahlah, saya malah memaksa untuk tetap membaca penjelasan fisika tingkat lanjut itu, kenapa juga nggak saya loncati aja bacaan fisika itu, it’s such a turn off for me.

994156KPBJ-frontcoverresensi-novel-e2809csupernova-ksatria-puteri-dan-bintang-jatuhe2809dBuku Supernova: Kesatria, Putri, dan BintangJatuh yang sudah bolak-balik ganti cover

Untuk yang belum baca, tolong dibaca pelan-pelan bukunya supaya lebih paham mengenai teori-teori yang dipaparkan oleh Mang Reuben.

Sunday, 9 November 2014

Gelombang-Dee Lestari

Sejak Alfa melihat makhluk hitam besar menyeramkan yang oleh masyarakat Sianjur Mula-Mula disebut ‘Si Jaga Portibi’, rasanya hidup Alfa berubah, ada yang tidak beres dalam hidupnya. Ia kerap mendapatkan mimpi yang aneh, mimpi yang malah menjadi momen pertaruhan nyawa baginya, dan selalu mimpi yang sama yang dialaminya. Tak hanya itu, dua orang sakti pun tiba-tiba ikut memperebutkannya, ingin mengambil Alfa sebagai muridnya.

Ditentang oleh bapak dan mamaknya yang ingin anak-anaknya menjadi seorang insinyur, Alfa dan semua anggota keluarganya merantau hingga ke Jakarta, ke ibu kota negara demi mengejar gelar insinyur. Tak disangka-sangka, Alfa malah dibawa sampai ke Amerika Serikat oleh keluarga jauhnya yang membutuhkan tenaga kerja. Dengan gigih Alfa menghadapi lingkungan barunya, termasuk dalam menghadapi geng preman dari negara mana pun dan menghindari petugas imigrasi yang akan dengan senang hati langsung menciduk imigran gelap macam Alfa. Dengan giat Alfa belajar demi mendapatkan beasiswa penuh di universitas terbaik.

Siang malam ia pacu tubuhnya untuk tetap sibuk, menjaga pola makan, berolahraga, semua itu ia lakukan agar ia tidak tertidur. Semenjak mengalami mimpi yang dapat merenggut nyawanya, Alfa terus menjaga tubuhnya agar tidak tertidur lebih dari satu jam. Tapi tiba-tiba, seorang wanita membuatnya menghadapi ketakutannya, menghadapi mimpinya sendiri, mimpi yang ia baru sadari sedang menyampaikan rahasia dan pesan. Pesan yang akan mengantar Alfa berkumpul kembali dengan kelompoknya.

Seri kelima! Akhirnya! Setelah menunggu dua tahun, buku ini akhirnya selesai saya baca dalam dua belas jam, dan sekarang saya harus menunggu seri lanjutannya entah sampai kapan karena kerakusan saya sendiri. Well, saya bisa apa, ketika saya membaca buku ini sebenarnya saya tahu kapan saatnya tidur dan meletakkan buku ini, tetapi saya malah tidak berdaya dan malah keterusan. Selalu ada bisikan ‘tanggung amat’ ketika saya hendak menutup buku ini.

DSC_0003

Membaca Gelombang seperti membaca buku harian seorang petualang. Hanya saja si petualang itu juga punya jiwa menulis, jadi bisa menuliskan kata-kata yang enak banget buat diikuti. Ya, dibandingkan dengan ‘Partikel’, Gelombang punya cerita yang sangat sederhana. Baik itu dilihat dari alurnya ataupun mengenai ceritanya secara utuh. Seperti air yang mengalir. Benar-benar macam petualangannya Indiana Jones, dan apa yang dilakukan Alfa adalah petualangan yang mungkin lebih cocok lagi kalo disebut sebagai A Quest. Rasanya menyenangkan sekali mengikuti tiap langkah Alfa dalam buku ini. Kalau dianalogikan, membaca Gelombang sama dengan menunggu kembang api pas tahun baru. Awalnya tenang banget, santai banget tapi kita tetap menunggu munculnya kembang api, dan boom! Kembang apinya muncul dengan berupa penyelesaian ceritanya itu. Sedangkan Partikel lebih penuh dengan emosi, lebih terasa banget sisi spiritualnya.

Saya selalu menyukai buku yang prosesnya melibatkan riset yang dalam, lengkap, informatif, tapi tidak membingungkan pembaca dengan istilah-istilah aneh. Mungkin menunjukkan juga bahwa si penulis memang niat banget menyelesaikan ceritanya, niat banget untuk menyenangkan hati pembacanya. Salut banget dengan riset yang dilakukan oleh penulis, berawal dari kampung halamannya lalu kemudian merembet ke banyak hal yang membutuhkan riset. Satu hal yang bikin saya suka dengan penulis yang melakukan riset yang dalam untuk tulisannya, saya jadi lebih memahami tokoh utamanya, saya jadi lebih bisa ikut merasakan emosinya, saya pun jadi lebih mudah memvisualisasikan segala hal yang ada di buku. Thanks for the research, Mama. Lagipula, penulis pun mencantumkan banyak catatan kaki untuk hal-hal yang tergolong baru di pikiran pembaca.

Akhirnya, selesai sudah seri kelima, saatnya menunggu lagi untuk seri berikutnya. Berharap bahwa seri lanjutannya—yang katanya adalah seri penutupnya—memberikan jawaban atas semuanya, sejelas-jelasnya dan selengkap-lengkapnya. Berharap bahwa seri tersebut akan melegakan dahaga pembaca terhadap penyelesaian, solusi, ataupun konklusi yang selalu hadir ketika selesai membaca seri sebelumnya. Butuh berapa tahun diciptakan, setebal apapun bukunya, rasanya rela saja demi mendapatkan sebuah kesimpulan.